berita

Bersama HIMPSI Jawa Timur, Fakultas Psikologi UNTAG Sby Selenggarakan Workshop Grafis Setting PIO vs Klinis & Pendidikan

Redaksi | Senin, 03 Desember 2018 - 11:47:45 WIB | dibaca: 99 pembaca

Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jawa Timur mengadakan workshop ‘’Grafis Setting PIO vs Klinis & Pendidikan’’, yang diselenggarakan selama dua hari berturut-turut (1-2/12/2018). Kegiatan bertempat di Meeting Room, Graha Wiyata lantai 1 UNTAG Surabaya itu menghadirkan pemateri Dr. Rismiati E. Koesma Psikolog, Dosen Universitas Padjadjaran  (UNPAD) Bandung.

RR. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si, salah satu pengurus HIMPSI Jawa Timur di Bidang II Pendidikan Berkelanjutan dan Pelatihan Psikologi mengatakan, bahwa agenda seperti ini merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh Fakultas Psikologi bersama HIMPSI yaitu workshop tentang penulisan laporan pemeriksaan psikologis.

‘’Terimakasih kepada peserta semua yang sudah hadir dalam acara ini, semoga tidak ada bosan-bosannya untuk terus mengikuti kegiatan semacam ini,’’ ucap Amanda saat membuka acara.

Sementara itu, Dr. Rismiati E. Koesma sebagai pembimbing workshop menyampaikan, bahwa ada baiknya sebelum melakukan tes grafis harus dikembalikan ke filosofisnya dulu, karena itu yang membedakan orang psikolog dengan orang yang biasa.

‘’Tes grafis ini kan udah banyak di upload di youtube-youtube dan udah banyak dicetak di buku. Tetapi tes grafis tersebut masih ada didiagnosis pada level 1, kalau didunia kita biasa disebut dengan bahasa primbon,’’ paparnya.

Lebih lanjut, dosen dari UNPAD itu mengajak para peserta agar bisa menjadi psikolog dengan level diagnosis yang lebih tinggi. Pesertanya sendiri bermacam-macam mulai dari psikolog perusahaan, rumah sakit, guru atau dosen maupun dari pemerintah.

‘’Level diagnosis tertinggi kita sebut dengan diagnosa, yang berisi kemungkinan-kemungkinan. Kita men diagnosa seseorang akan sukses ke dunia mana dan dia akan berkembang kemana. Maka dari itu dengan diakannya workshop ini semua perta minimal mampu mengdiagnosa,’’ tutup Rismiati. (Ma’arif)








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)