Hasil Karya

Dengan Raja Singa, Tiga Mahasiswa Untag Surabaya Lolos PKM 2019

Redaksi | Kamis, 18 Juli 2019 - 11:49:16 WIB | dibaca: 4768 pembaca

Tiga Mahasiswa Untag Surabaya mampu mengharumkan nama Kampus lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI). Khusnul Maulana Ibrahim, Muhammad Fadhil Savaldo Putra dan Badriyatus Sholihah berhasil ciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Sinar Matahari, Hujan, Bising, dan Tekanan yang disingkat dengan ‘’Raja Singa’’.

Khusnul Maulana Ibrahim, ketua kelompok menjelaskan alat yang diciptakan merupakan sebuah terobosan baru dari energy yang diperbarukan. Alat propotipe tersebut diberi nama Pembangkit Listrik Tenaga ‘’Raja Singa’’ yaitu singkatan dari Sinar Matahari, Hujan, Bising, dan Tekanan dengan metode fuzzy logic berbasis android.

‘’Latar belakang ide ini karena adanya kebutuhan energy listrik di Indonesia yang semakin hari semakin bertambahnya. Apalagi selama ini kebanyakan pembangkit listrik di Indonesia berbahan dasar fosil yang akan habis dan tidak dapat diperbarui. Maka dari itu diperlukannya energy terbaru yang lebih ramah lingkungan,’’ tutur Mahasiswa Prodi Teknik Elektro itu.

Lebih lanjut, Khusnul menerangkan latar belakang menciptakan alat itu karena melihat keadaan alam dan 2 musim di Indonesia yang bisa dimanfaatkan seperti saat kemarau. Panas bisa dimanfaatkan menggunakan panel surya yang dikonversikan menjadi energy listrik. Selanjutnya saat musim hujan, curah hujan yang tinggi juga bisa dimanfaatkan dengan piezoelektrik yang bisa menghasilkan tegangan yang bersumber dari getaran. Begitu juga dengan bising dan hentakan kaki. Jadi, ketika tidak bisa memanfaatkan energy dari 2 musim, memanfaatkan keadaan sekitar dengan kebisingan dan hentakan kaki adalah alternatifnya.

‘’Bahan yang kita gunakan untuk menjadikan alat ini adalah komponen sensor yang mempunyai 2 fungsi yaitu ketika mendapat tekanan akan menghasilkan tegangan, lalu ketika mendapat tegangan akan menghasilkan suara. Sedang listrik disini kan berawal dari tegangan yang kemudian disalurkan sehingga timbul arus yang disebut dengan daya listrik, dimana daya listrik bisa dimanfaatkan untuk apapun,’’ sambungnya saat diwawancara tim warta17agustus.com, (17/07/19).

Sementara itu, Fadil Savaldo Putra, salah satu anggota mengaku, hambatan yang dialami selama pengerjaan adalah waktu dari ketiga anggota kelompok yang berbeda - beda. Kesibukan dari masing – masing anggota, selain itu dari piezoelektrik yang ada dipasaran juga lumayan sulit untuk didapatkan.

‘’Piezoelekrik yang kita jadikan sebagai bahan dari alat kita memang susah didapatkan di pasaran Indonesia. Kalaupun ada, kuwalitas piezoelektrik masih dibilang rendah. Karena penggunaan dalam jangka panjang masih belum bisa digunakan untuk piezoelektrik yang disini. Sementara, untuk total pembuatan alat sampai saat ini menghabiskan uang sekitar 4,6 juta rupiah, dari 8,8 juta dana yang didapatkan dari Dikti,’’ terang Mahasiswa Prodi Teknik Informatika itu.

Kedepannya, kelompok PKM yang terdiri dari 3 Mahasiswa dengan Fakultas yang berbeda – beda itu berencana akan mengembangkan prototype dari sisi optimalisasinya. Karena untuk menghasilkan listrik dengan jumlah yang besar dan bisa membuat programnya secara mandiri, perlu dioptimalkan seluruh komponen dan kinerja alat tersebut.

‘’Sedangkan untuk sementara ini kita masih menunggu pengumuman dari Ristekdikti setelah diadakannya monitoring dan evaluasi lapangan (MONEV) kemarin. Dengan rentan waktu ini akan kita manfaatkan untuk mengoptimalkan Raja Singa ini. Kalau nantinya tim kita lolos maka sekitar bulan Agustus sampai September besok akan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) dengan tuan rumah Universitas Udhayana Bali. Semoga bisa !’’ tutup Fadli.

Reporter : MKM

Editor     : LA_Unda