berita

Dosen UNTAG Surabaya Melakukan Pendampingan Usaha di Kampung Tempe Surabaya

Kusnan | Rabu, 11 Oktober 2017 - 09:29:38 WIB | dibaca: 58 pembaca

Dosen UNTAG Surabaya melakukan pendampingan usaha di Kampung Tempe Tenggilis Kauman Surabaya melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Pendampingan yang dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti tersebut selama 8 bulan dan dimulai tanggal 3 April 2017.

Ketua tim PKM Dra. Ec. Erma Yuliaty, M.M kepada warta17agustus.com mengatakan, pemerintah terus berupaya untuk memajukan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksinya. Usaha tersebut salah satunya melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).

“Melalui program PKM, tim kami melakukan pendampingan usaha di Kampung Tempe Tenggilis Kauman Surabaya. Salah satu tujuannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi dari UMKM,” ucapnya, Selasa (10/10/2017).

Lebih lanjut dosen Fakultas Ekonomi itu menjelaskan, usaha tempe merupakan usaha yang sampai kapanpun tetap akan diperlukan oleh masyarakat. Tenggilis Kauman Surabaya adalah daerah yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian dengan memproduksi tempe sehingga daerah tersebut terkenal dengan nama Kampung Tempe.

Seperti usaha kecil pada umumnya, pengusaha tempe di Kampung Tempe masih bersifat tradisional dan hasil usahanya kurang optimal. Untuk itu, pendampingan ini berusaha membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi,” ujar dia.

Erma menambahkan, melalui program pendampingan, UMKM diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara menghitung harga pokok produksi untuk menetapkan harga jual yang wajar. UMKM juga diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara menghitung laba usaha untuk mengetahui perkembangan usahanya.

“Dan yang tak kalah penting UMKM diberikan pengetahuan tentang perlunya melakukan penyusutan agar alat produksi selalu dalam kondisi prima. Hal ini untuk menghindari alat yang sering rewel seperti mesin yang sudah tua dan usang,” paparnya.

Menurut Erma, para pelaku UMKM di Kampung Tempe bisa meningkatkan pendapatan dengan membuat varian baru yaitu keripik tempe. Produk keripik tempe berpotensi untuk terus ditingkatkan karena dapat dikonsumsi kapan saja.  Namun demikian, kemasan yang kurang memadai menjadi kendala baru dalam penjualan keripik tempe.

“Melaui program pendampingan ini kendala tersebut dapat diatasi dan penjualan keripik tempe dapat meningkat sekitar 40%. Pada Mitra I yang semula per hari hanya memproduksi 25 kg kripik tempe setelah pendampingan omset meningkat menjadi 35 kg. Sedangkan untuk Mitra II yang semula hanya memproduksi 4 kg keripik tempe sekarang produksi meningkat menjadi 6 kg. Omset ini masih berpotensi untuk bisa ditingkatkan lagi,” tegasnya.

Dra. Ec. Erma Yuliaty, M.M dalam melakukan pendampingan usaha di Kampung Tempe dibantu oleh kedua rekannya, yaitu Ir. Siti Mundari, M.T, Ir. Zaenal Arief, M.T, dan melibatkan peran serta dari mahasiswa.








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)