Karya Ilmiah

Dosen Untag Surabaya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Dari Limbah Kotoran Sapi

Ma`arif | Rabu, 18 September 2019 - 11:17:00 WIB | dibaca: 4752 pembaca

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, tiga dosen Untag Surabaya membuat energi terbarukan (biogas) ramah lingkungan dari bahan limbah kotoran sapi potong. Kegiatan ini merupakan sebuah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) sebagai pemberdayaan masyarakat Desa Soko Kecamatan Wringin Anom, Kabupaten Gresik dalam rangka kemandirian energi.

Kegiatan pengabdian ini dilakukan pada tanggal 8 April – 27 Juli 2019 oleh dosen Fakultas Teknik Untag Surabaya. Dengan Dr. Drs. Ir. Muhyin, M.Sc., (Teknik Mesin) sebagai ketua, Mastuki, S.Si., M.Si., (Teknik Mesin) dan Dwi Yuli Rakhmawati, S.Si., M.Si., Ph. D., (Teknik Industri) sebagai anggota kelompok.

Sebagai ketua kelompok, Muhyin menerangkan bahwa rata – rata masyarakat desa tersebut berternak sapi potong, karena disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik wilayah desa sebagian besar adalah lahan pertanian tadah hujan. Dimana kondisi tersebut sangat mendukung untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak.    

‘’Berdasarkan hasil diagnosis di lapangan yang kami peroleh dari tim LPPM Untag Surabaya, kebanyakan mata pencaharian masyarakat desa tersebut adalah berternak sapi potong. Karena sebelumnya penghasilan dari pertanian dirasa kurang memenuhi kebutuhan mereka. Disamping itu kondisi dan karakteristik wilayah tadah hujan daerah tersebut sangat mendukung untuk kebutuhan pakan ternak,’’ paparnya saat ditemui tim warta17agustus, (16/09/19).

Lebih lanjut, dosen Prodi Teknik Mesin itu menjelaskan karena banyaknya masyarakat yang melakukan ternak sapi potong, akan menimbulkan permasalahan yang diakibatkan limbah kotoran sapi tersebut. Karena kotoran sapi yang terkumpul akan mengalami proses pembusukan dan mengeluarkan bau yang menyengat sehingga mengganggu masyarakat. Maka dari itu perlu adanya pengolah limbah agar tidak terjadi hal tersebut.

‘’Permasalahan seperti ini dapat diatasi dengan adanya pengolahan limbah kotoran sapi, agar tidak menimbulkan polusi bau. Dimana kotoran sapi diolah menjadi bentuk energi terbarukan (biogas) ramah lingkungan dan sebagai bahan bakar rumah tangga guna mencukupi kebutuhan energi masyarakat sekitar. Disamping itu, sebagai nilai tambah penghasilan masyarakat dalam pengelolaan ekonomi desa,’’ imbuhnya.

Kedepannya, Mitra menginginkan depo pengisian bahan bakar biogas dapat dibangun di tengah – tengah masyarakat, agar kebutuhan bahan bakar setiap harinya terjamin. Dan dapat menambah penghasilan masyarakat dari penjualan tabung bahan bakar itu sendiri.

‘’Harga tabung bahan bakar ini relatif murah dari tabung gas bahan bakar lainnya, sehingga bisa lebih hemat. Kami sanggup menyediakan lahan dan sumber daya manusia dalam kegiatan ini, sedangkan untuk pengoperasian, perawatan dan manajemennya menggunakan kerjasama sistem operasional antar kelompok masyarakat desa setempat,’’ tutup Muhyin.