Religi

Kekuatan Niat Dalam Beribadah

Latifah | Jumat, 20 Oktober 2017 - 11:28:48 WIB | dibaca: 54 pembaca

Setiap amal dan perbuatan seorang Muslim itu tergantung pada niatnya, ia akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang di niatkannya. Jika ia melakukan ibadah dengan niat karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan sebaliknya, jika ia meniatkannya mencari pujian manusia atau untuk tujuan dunia, maka ia akan mendapatkan tujuannya.

Keinginan hati untuk melakukan suatu amalan, itulah makna daripada niat. Niat merupakan perkara yang amat penting dalam agama Islam. bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa segala amal perbuatan itu tergatung pada nianya.

Dalam sebuah hadist yang disampaikan sahabat Umar bin Khatab Radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahua’laihi Wasallam bersabda, “ Setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk tujuan mendapatkan dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan. ” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Karena itulah mengapa para ulama memberikan perhatian cukup besar terhadap perkara niat. Ini menunjukkan bahwa niat tak bisa dipandang sebelah mata. Dan seorang muslim akan menyadari urgensi niat bila ia mengerti betapa besar fungsi daripada niat itu.

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Jami’ al-‘ulum wal hikam mengenai fungsi dari niat, bahwa ada dua fungsi niat yaitu : pertama, membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan. Kedua, membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Jadi apakah seorang beribadah karena mengharap Ridha Allah ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti mengharapkan pujian manusia.
(Lihat: Jami’ al-‘ulum wal hikam, hal. 67).

Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lain. Contohnya, shalat yang dua raka’at itu banyak, ada shalat yang wajib dan shalat sunah. contoh shalat qabliyah subuh dengan shalat subuh. Keduanya berjumlah dua raka’at. Tata caranya pun sama, jumlah ruku’ dan sujudnya juga sama. Tetapi yang membedakan yaitu niat.

Kemudian fungsi kedua inilah pembahasan yang sering kita kenal dengan istilah ikhlas. Apakah seorang tatkala ia beribadah ikhlas lillahi ta’ala, atau hanya mengharap perhatian manusia?. Kita tahu bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan merima amalan seorang hamba melainkan yang dilakukan karena ikhlas mengharap keridhaan-Nya semata. Karena Allah ta’ala Maha Kaya, seperti dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman, Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syirknya. ” (HR. Muslim)

Fungsi niat yang kedua ini pula yang seringkali dimaksudkan dalam perkataan ulama. Seperti perkataan seorang alim; Abdullah bin Mubarak Rahimahullah, Boleh jadi amalan yang sepele, menjadi besar pahalanya disebabkan karena niat. Dan boleh jadi amalan yang besar, menjadi kecil pahalanya karena niat. ” Begitu juga yang di katakan Yahya bin Abi Katsir Rahimahullah, “Pelajarilah niat, karena ia lebih dahulu sampai di sisi Allah daripada amalannya.“

Sebagai seorang hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala, mari senantiasa ia jaga niat, perbaiki niat, koreksi niat segala amal perbuatan. Karena yang mengetahui baik maupun niat hanya ia dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga segala yang ia lakukan bernilai ibadah dengan niat karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. (latifah unda)








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)