Sorotan

Matinya Ruh Idealisme

Redaksi | Kamis, 07 Februari 2019 - 09:07:22 WIB | dibaca: 61 pembaca

Sukarno, melalui tulisan-tulisan, yang antara lain bisa dibaca melalui kumpulan artikel ‘’Di Bawah Bendera Revolusi’’ mengajak, bahwa kita mulai dengan berfikir. Mulai dengan gagasan-gagasan. Mulai dengan konsep yang jelas, baru kita bisa berbuat jelas. Bukan asal ngawur, asal berani, dan seperti yang kita lihat dalam kepemimpinan di berbagai daerah akhir-akhir ini, karena hanya akan menghasilkan kekacauan. (Bambang Sadono, 2006)

Dijelaskan, bahwa idealisme adalah gagasan yang telah di uji berulang-ulang, kemudian disistematisasikan. Dengan idealisme yang jelas, apakah itu bidang politik ekonomi, atau kebudayaan, kita akan berhadapan dengan sebuah peta kepribadian yang jelas. Kita bisa setuju atau menolaknya, kita bisa memberi kesempatan untuk dilaksanakan, atau mengoreksi dan menyempurnakannya. Tetapi tanpa idealisme, kita seperti membuka sebuah peta buta. Semua serba tidak jelas, temaran, samar-samar. Tidak jelas mana pejuang dan mana petualang. Mana yang idealis dan mana yang opurtunis. Mana yang bekerja untuk orang banyak, dan mana yang bekerja untuk kelompok, bahkan untuk dirinya sendiri.

Kerja dan kristalisasi keringat adalah ide besar Sukarno, yang mungkin terus relevan sampai sekarang. Jangan katakan komitmenmu dengan pidato, tetapi tunjukkan dengan kerja. Inilah tuntunan salah seorang bapak bangsa ini. Wahai anak muda yang ingin menjadi politisi, bekerjalah, jangan hanya belajar lobi dan kasak kusuk. Tidak pernah pergi ke konstituen, tetapi hanya sibuk setor muka pada pemimpin yang diatas. Bagi yang ingin menggeluti bidang ekonomi, bekerjalah jangan hanya jadi pemimpi, yang berfungsi sebagai broker dan sekedar mengharapkan fee. Kalau anda aktif dalam bidang kebudayaan, banggakan karya-karyamu, bukan sekedar latah, ikut-ikutan. Sebab, ketika idealisme hilang, maka bencana mulai datang.

Matinya Idealisme

W.S. Rendra pernah menyuguhkan drama kepada kita tentang matinya idealisme. Pementasan ‘’Mastodon dan Burung Kondor’’ yang menimbulkan getaran di mana-mana. Ceritanya berkisar pada sebuah proses regenerasi yang pelakssanaannya dipaksakan oleh sekelompok mahasiswa, yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Tindakan yang dianggap  tidak sesuai lagi ditentang oleh idealisme mahasiswa yang menggebu-garang.

Kebangkitan mahasiswa pada mulanya adalah angin segar yang meniupkan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah kecamuknya kebatilan. Sambutan yang gegap-gempita dari rakyat negeri, menghantarkan kesuksesan para mahasiswa dalam menegakkan idealismenya. Sebagaimana dalam dongeng-dongeng, bahwa kebenaran pasti menang melawan kebatilan.

Namun apa lacur? Setelah sang mahasiswa mencapai kemenangan, serta menjadi tokoh-tokoh mapan dalam pemerintahan yang dibentuk sesuai dengan pergerakannya, sebuah tragedi muncul dipermukaan negeri itu.

 

Para mahasiswa yang memimpin gerakan-gerakan penegakan idealisme kebenaran dan keadilan, setelah mapan justru tidak menjadikan ia seorang pemimpin, sebaliknya menjadikan ia sebagai seorang penguasa. Akibatnya, kekisruan melanda negeri tersebut, penguasa baru adalah tirani dan kebatilan dalam wajah yang baru, yang semestinya lebih kebal dari penguasa yang digulingkan.

Pada saat ruwet tersebut, muncullah sang idealisme sejati, Pendeta Jose Karosta. Ia menggembar-gemborkan idealisme, namun suaranya bak air hujan jatuh di tengah samodra.

Pada akhir cerita, digambarkan sang Pendeta Jose Karosta, yang nota bene adalah idealisme sejati, harus puas dengan meninggalkan negeri tersebut. Entah dari negeri mana dan menuju ke negeri mana, sebab pementasan drama ini bercerita tentang negeri dalam khayal.

Sifat Pragmatis

Kita seringkali melihat atau menemui pemuda atau mahasiswa memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang demi kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Untuk merealisasikan apa yang diperjuangkan itu, mereka berani melakukan berbagai bentuk kegiatan dengan resiko yang tidak ringan. Pemuda dan atau mahasiswa seperti ini disebut telah memiliki idealisme yang tinggi. (Imam Suprayogo, 2014)

Namun pertanyaan penting yang perlu diajukan oleh Suprayogo adalah, apakah idealisme yang tinggi seperti itu selalu bertahan pada diri seseorang? Jawabnya, seharusnya demikian itu. Idealisme tidak boleh hilang dari diri seseorang hingga kapan pun. Tanpa idealisme maka seseorang akan kehilangan segala-galanya. Mereka disebut sebagai orang yang pragmatis, apa yang dilakukan hanya untuk kepentingan hari ini dan untuk dirinya sendiri.

Orang-orang yang terperangkap pada kegiatan menyimpang, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, selalu mengambil jalan menerabas, dan sejenisnya adalah disebut sebagai orang pragmatis. Apa yang dilakukan atau diperbuat, bukan lagi bersifat menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan; tetapi justru bertolak belakang dari cita-cita mulia itu. Orang yang terjebak pada sifat pragmatis hanya mengejar sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hari ini, berjangkauan rendah, dan terbatas.

Pada kenyataannya banyak orang yang ternyata kemudian tampak kehilangan pandangannya yang ideal dan mulia itu. Mereka berubah dari idealis menjadi pragmatis. Sekalipun pada usia mudanya, mereka membenci perilaku tidak jujur, koruptif, manipulatif, dan seterusnya, tetapi dengan bertambahnya umur, pengaruh lingkungan, dan tuntutan kehidupan sehari-hari, ternyata idealismenya menjadi hilang.

Orang yang mengalami perubahan kepribadian dimaksud ternyata jumlahnya lebih banyak, dan berada di berbagai level atau tempat. Kita dengan mudah menyaksikan orang yang dulu hidupnya memiliki idealisme yang tinggi — pembenci korupsi, namun kemudian ternyata menjadi bagian dari apa yang sebelumnya dibenci itu. Oleh karena itu, ternyata idealisme bisa luntur, berkurang, dan bahkan juga hilang. Padahal orang yang telah kehilangan idealisme sebenarnya tidak layak menjadi pemimpin.

Karakter Bangsa

Menurut Franz Magnis Suseno (1991), ideologi tidak hanya berbicara mengenai ide atau gagasan tetapi ada dimensi lain, yaitu internalisasi pada individu atau kelompok, sehingga ideologi tersebut menjadi ruh atau jiwa bagi mereka dalam melakukan aktivitas.  Hal senada juga diungkapkan oleh Muhammad Ismail (1998) yang menyatakan, bahwa ideologi terdiri atas ide dan aturan sebagai sebuah metode agar dapat di terapkan di dalam masyarakat.

Menurut Syailendra Persada (2011), ideologi merupakan bagian dari karakter sebuah bangsa.  Terlepas dari silang pendapat yang ada perlu rasanya dilihat dua ideologi besar dunia yaitu Kapitalis dan Sosialis.  Dua ideologi ini lah yang kemudian menyebabkan etos kerja masyarakat Amerika dan Rusia menjadi sangat tinggi, masing-masing bersaing satu sama lain.

 

Tetapi jika dilihat pada negeri tercinta ini, maka ideologi hanya menjadi sebuah lambang ataupun simbol. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan yang diambil pemerintah dalam memutuskan suatu permasalahan. Banyak kemudian kebijakan yang diambil pemerintah selalu bertentangan dengan masyarakat pada umumnya.

Dapat dilihat bersama bagaimana rencana pembangunan gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menelan biaya lebih dari satu triliun, kemudian kasus mafia pajak, bahkan skandal bail out Bank Century yang keduanya hingga kini tak jelas bagaimana penyelesaiannya.

Permasalahan yang kerap menerpa bangsa ini adalah cerminan telah matinya ideologi di dalam masing-masing individu khususnya pada tingkatan pemerintah. Jika dilihat pada awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka para pendiri bangsa ini memiliki karaketer yang kuat di dalam diri mereka masing-masing. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, bahkan Tan Malaka adalah orang-orang yang telah berhasil menjadikan ideologi sebagai bagian dari diri mereka yang tak terpisahkan.

Penulis : Soetanto Soepiadhy Dosen Untag Surabaya dan pendiri ‘’Rumah Dedikasi Soetanto Soepiadhy’’

 








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)