Karya Ilmiah

Padu Padan Talent T Agar Dapat Bersaing dan Menjadi Terampil di Dunia Kerja

Latifah | Selasa, 05 September 2017 - 11:03:53 WIB | dibaca: 202 pembaca

Orasi ilmiah, Prof. Dr. Amiartuti Kusumaningtyas, SH., MM dengan judul " Padu Padan Talent T Agar Dapat Bersaing dan Menjadi Terampil di Dunia Kerja " , disampaikan pada saat pengukuhan jabatan Guru Besar bidang ilmu ekonomi, Fakultas Ekonomi Untag Surabaya menyoroti tentang bagaimana seseorang dapat bertahan dalam bersaing di dunia kerja yang semakin konpetitif. (30/8/2017)

Prof. Dr. Amiartuti Kusumaningtyas, SH., MM dalam orasinya mengatakan, mengingat persoalannya daya saing tenaga terampil Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara anggota ASEAN lainnya. Adanya terobosan untuk mampu bersaing didunia kerja patut diimplementasikan. Terutama bagi para generasi muda.

Berdasarkan data Institute For Management Development (IMD) world talent report 2016, Indonesia menempati peringkat ke 44 dari 61 negara yang disurvei. Peringkat Indonesia berada di bawah Singapura (ke-15) Malaysia (ke-19) dan Thailand (ke 37). Merujuk data Badan Pusat Statistik 2016 menyatakan bahwa posisi tertinggi tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 ditempati lulusan SMK. Posisinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka SMA dan SD. " Fakta tersebut memang perlu kita cermati lebih lanjut, " Ucap Dosen Fakultas Ekonomi Untag Surabaya.

Selain itu, prediksi penduduk usia sangat produktif ditempati generasi milenial. Generasi yang lahir pada tahun 1981 sampai tahun 1994. Generasi yang mendominasi dunia kerja. Diperkirakan, pada tahun 2025 generasi milenial menduduki 75% porsi tenaga kerja di dunia. Karena itu jelas dia, perlu dipahami karakteristik generasi milenial. Yaitu generasi yang kreatif, berpendidikan tinggi, fasih teknologi, efisien, memiliki jiwa wirausaha, serta suka liburan dan kebersamaan. Mereka juga solid antar teman dan memiliki eksistensi diri dihargai secara sosial. Teteapi meski begitu ada yang memandang generasi milenial dengan stereotipe negative, yakni ; malas, narsis, cuek dengan keadaan sosial, hedonism, suka party, dan pergaulan bebas.

Dosen kelahiran 24 Juli tersebut dalam orasinya memperkenalkan konsep Talent – T. Yaitu memadukan genetic knowledge dengan spesialist knowledge. Merujuk pada huruf T, garis horizontal pada huruf T melambangkan pengetahuan luas yang harus diketahui Talent. Garis vertikal melambangkan kedalaman keterampilan seorang telent. Artinya, seseorang sebaiknya tidak hanya mengetahui pengetahuannya dia sendiri (specialist knowledge), tetapi juga pengetahuan terkait banyak hal. " Mereka harus memiliki mental yang tidak pantang menyerah. Apalagi, pada era MEA, orang terampil bebas keluar masuk negara, " Terang penulis buku komunikasi, disiplin kerja dan komitmen dalam organisasi ini

Dalam prakteknya bukan salah satu diantara keduanya namun dalam memenangkan persaingan setiap orang harus mampu memajukan keduanya artinya menjadi talent yang berwawasan dan juga ahli dalam bidang layaknya huruf T. Garis horizontal pada huruf T melambangkan pengetahuan luas yang harus diketahui oleh talent, sedangkan garis vertical pada huruf T melambangkan keadaan keterampilan yang dimiliki seorang talent. Seseorang dengan kriteria tersebut sangat ideal karena memiliki dasar yang kuat tentang pengetahuan secara general, pada sisi yang lain juga memiliki keterampilan cara spesifik yang bagus dalam memberikan solusi terhadap suatu masalah. " Diperlukan kedisiplinan dan fokus Agar seorang talent makin berkembang dan keterampilan juga semakin bertambah, " Imbuhnya

Di akhir, Dosen yang biasa di sapa Prof., Ami tersebut mengatakan, masa depan dalam dunia kerja tentu akan mengalami perubahan baik secara drastis maupun dalam batas wajar, namun dengan bekal kemampuan memadukan huruf T tersebut seseorang talent nampaknya tidak perlu lagi khawatir akan kalah dalam persaingan di dunia kerja.








Komentar Via Website : 1
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)