Religi

Pembina UKM-KH Untag Surabaya : Makna Hari Raya Nyepi ke 1941 Ini Harus Lebih Baik Lagi

Redaksi | Jumat, 08 Maret 2019 - 10:42:08 WIB | dibaca: 81 pembaca

Hari Raya Nyepi, merupakan kegiatan rutin tahunan bagi seluruh umat Hindu di penjuru dunia. Begitupun di Nusantara, Tahun Baru Saka ke – 1941 yang bertepatan pada hari Kamis (7/3/19) diharapan akan mensucikan diri dan alam mulai dari awal lagi. Hari Raya Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap) yang artinya seluruh umat Hindu saat merayakannya tidak melakukan aktivitas apapun.

Menurut Dr. I Dewa Ketut Raka Ardiana, M.M., ada 3 prosesi dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Yaitu, pertama proses pengambilan air suci ke laut atau biasa disebut proses Mekiyis. Kedua, Tawur Agung, yakni proses puncak sebelum hari raya nyepi yang maknanya untuk mengharmonisasikan alam. Dan ketiga, proses pawai ogoh – ogoh, dengan makna menetralkan aura – aura negative untuk dikembalikan pada tempatnya masing - masing.

‘’Biasanya Mekiyis dilakukan H-5 dan Tawur Agung serta pawai ogoh – ogoh dilakukan 1 hari sebelum hari raya nyepi berlangsung,’’ kata dosen agama Hindu, kampus Untag Surabaya pada warta17agustus.com, Selasa, (5/3).

Pembina Unit Kegiatan Kerohanian Hindu (UKKH) Untag Surabaya itu lebih lanjut menjelaskan, proses Mekiyis sudah dilakukan pada tanggal 3, tepat pada hari minggu, dengan diikuti seluruh umat Hindu di Surabaya, Gresik, Lamongan dan Sidoarjo yang berpusat di Surabaya. Sedangkan prosesi Tawur Agung dilakukan satu hari sebelum hari H dengan berpusat di Pura Agung Jagad Karana Surabaya. Pada prosesi pawai ogoh – ogoh tersentral di Pure Segara Kenjeran.

‘’Harapan kita, agar semua umat Hindu, khususnya warga Surabaya, Gresik, Lamongan dan Sidoarjo bisa mengikuti proses Hari Raya Nyepi tahun ini sampai tuntas,’’ ujar Raka Ardiana.

Inti dari perayaan nyepi ini, lanjut Raka Ardiana pada tim warta17agustus.com, adalah penyucian, netralisir dan harmonisasi antara alam semesta (Bhuana Agung) dengan manusia (Bhuana Alit), sehingga setelah tahun baru semuanya akan kembali fresh lagi.

‘’Pas hari raya nyepinya, kita seluruh umat Hindu melaksanakan kegiatan puasa full 24 jam, dengan menerapkan 4 kegiatan yang tidak boleh dilakukan atau dalam Bahasa Hindunya Catur Brata Penyepian. Yaitu : Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan). Semua itu dilakukan agar umat Hindu bisa benar – benar beribadah dengan khusyuk,’’ tambahnyanya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu berharap, dengan perayaan Hari Raya Nyepi ke – 1941 ini semua umat Hindu bisa mengikuti seluruh prosesnya dengan baik, melestarikan alam serta melestarikan agama dengan tetap beribadah ke Pura – Pura dimanapun tempatnya.

‘’Untuk saudara – saudaraku umat Hindu diluar Bali, kami selalu menghimbau agar semuanya tetap menjaga lingkungan, menjaga sosial antar umat beragama dengan tidak menghilangkan ibadah kita kepada sang pencipta. Walaupun keadaan kita berbeda dengan umat Hindu di Bali yang mayoritas Hindu, tetapi tidak ada alasan buat kita untuk tetap beribadah,’’ tutup pria asal Bali tersebut. 

Reporter : MKM

Editor     : LA_unda     








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)