Artikel

Pola Komunikasi Antara Relawan Dengan Penderita ODHA

Latifah | Senin, 22 Mei 2017 - 13:00:19 WIB | dibaca: 379 pembaca

Erlinda Ning Safitri, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNTAG Surabaya melakukan penelitian menganai " Pola Komunikasi Antara Relawan dengan Penderita ODHA (Studi Kasus Menghapus Stigma Penderita ODHA Di Eks Lokalisasi Dolly Surabaya) " untuk memberikan pemahaman tentang HIV AIDS agar pandangan negatif masyarakat terhadap warga penderita ODHA dan penderita ODHA mendapatkan citra positif di mata masyarakat.

Penutupan lokalisasi tempat prostitusi dan kegiatan free sex di Dolly Surabaya memunculkan suatu persoalan pada beberapa warga. Yaitu adanya pemberitaan warga penderita ODHA di bekas lokalisasi Dolly Surabaya. Fakta menunjukkan tidak sedikit masyarakat mulai menjauhi dan enggan untuk berinteraksi dengan mereka. Dari pandangan tersebut penderita ODHA mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Seringkali mereka disebut sebagai “sampah masyarakat”. Akibatnya ODHA sendiri mengalami depresi, kurang menghargai diri dan penuh keputusasaan.

" Pengetahuan dan pandangan yang begitu rendah mengenai HIV AIDS oleh masyarakat seringkali menghasilkan tindakan yang bertentangan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) bagi ODHA dan keluarganya, " kata Erlinda Ning Safitri

Dari hasil penelitiannya, Erlinda juga menjeleskan pada warta17agustus.com, bahwa dalam kasus ini yang berada dalam binaan Yayasan ORBIT dan Couple Community (komunitas peduli HIV AIDS di Surabaya), pola komunikasi yang terjadi dalam proses pembinaan dan pendampingan ODHA di Eks Lokalisasi Dolly Surabaya yang terjadi masih dalam proses perkenalan, perekrutan, dan pembinaan. Dari masing-masing proses tersebut terdapat dua pola komunikasi yaitu komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok.

" Komunikasi yang terjadi hampir secara keseluruhan bersifat non formal. Komunikasi yang bersifat formal hanya terjadi pada saat-saat tertentu misalnya ketika pertemuan bulanan, peringatan Hari AIDS Sedunia, Perenungan, dan acara-acara resmi organisasi. " ucapnya

Lanjutnya, komunikasi interpersonal juga terjadi ketika sebelum proses binaan. Hal ini dikarenakan dampingan belum memiliki sikap terbuka dengan orang lain, melainkan hanya dengan MK dan pendamping saja. Ketika kondisinya mulai membaik, dampingan akan mulai terbuka dan mau berinteraksi dengan orang lain. " Saat itu proses komunikasi yang terjadi berkembang menjadi komunikasi kelompok. " ungkap Erlinda

Unsur-unsur komunikasi yang ada dalam proses komunikasi pada pembinaan dan pendampingan ODHA didalam yayasan ORBIT dan Couple Community sama dengan unsur-unsur komunikasi pada umumnya, ada komunikator dan komunikan yaitu pendamping, dampingan, MK (manajer kasus) dan seluruh anggota binaan didalam yayasan. Pesan yang terkandung berupa pesan verbal dan non-verbal. Media yang digunakan dalam proses komunikasinya yaitu Whatsapp, SMS (Short Message Service) dan telephone. " Efek dari proses komunikasi ini berupa perubahan kondisi psikisi ODHA yang mulai stabil, kembalinya semangat hidup, minum obat secara teratur, menjadi pribadi yang terbuka, dan lebih produktif minimal untuk dirinya sendiri. " kata mahasiswi berhijab tersebut

Saat ini masih ada kendala dalam pembinaan dan pendampingan ODHA didalam Yayasan ORBIT dan Couple Community yaitu adanya dampingan yang masih menolak untuk menjalani pengobatan. Misalnya tidak mengambil obat secara rutin, tidak minum obat secara teratur, ketergantungan dengan bantuan orang lain (malas) dan keluar dari proses pendampingan.

Adanya Yayasan ORBIT dan Couple Community (komunitas peduli HIV AIDS di Surabaya) sangat membantu untuk mereka penyandang penyakit ODHA, dengan demikian diharapkan Pemerintah dapat memberikan dukungan kepada ORBIT, Couple  Community dan LSM lain yang memang dengan serius membantu menangani ODHA dengan cara memberikan fasilitas kantor, tambahan SDM dan diharapkan pemerintah dapat memberikan kemudahan akses kesehatan bagi ODHA. Selain itu bantulah untuk menghilangkan stigma negative yang selama ini melekat pada Masyarakat di Surabaya terhadap ODHA.

 

" Seumur hidup menjadi penderita HIV/AIDS sudah menjadi beban hidup yang sangat berat bagi mereka, ditambah sulitnya arus perekonomiannya untuk menyambung hidup. Jangan lagi menambah beban mereka dengan perlakuan diskriminasi. " tutup Mahasiswi angkatan 2013 tersebut








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)