berita

Sewindu Haul Gus Dur di UNTAG Surabaya Kampayekan Persatuan dan Kebangsaan

Menik | Jumat, 22 Desember 2017 - 12:58:27 WIB | dibaca: 275 pembaca

FISIP UNTAG Surabaya bekerjasama dengan Presidium Gusdurian Jawa Timur menyelenggarakan Sewindu Haul Gus Dur dan Bedah Buku bertema “Semua Demi Bangsa dan Negara”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Student  Center and Entrepreneurship, Selasa (19/12/2017).

Dekan FISIP UNTAG Surabaya, Dr. Endro Tjahyono, MM dalam sambutannya mengatakan, kegiatan seperti itu memang harus diperbanyak karena dapat menambah wawasan dosen dan mahasiswa. Selain itu, agar tidak terbelenggu dengan pengetahuan akademis formal saja.

“Buku Para Perancang Jihad ini juga sangat menginspirasi, khususnya bagi dosen agar bisa membuat lebih banyak lagi penelitian dan hasilnya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” jelasnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya Prihandari Satvikadewi, M.Med.Kom menjelaskan, dalam rangka memperingati 8 tahun meninggalnya Gus Dur (Abdurrahman Wahid-presiden ke-4 RI) banyak kegiatan yang digelar, di antaranya bedah buku, orasi ilmiah (kuliah umum) kebangsaan yang disampaikan oleh Anita Wahid (putri Gus Dur), doa dan Istigosah serta penampilan dari komunitas Gusdurian Jawa Timur.

“Kegiatan Sewindu Haul Gus Dur sangat menarik karena memiliki wacana akademisi yang sangat kental, karena menggandeng para akademisi, praktisi media, dosen dan mahasiswa. Mereka  untuk mengkampayekan persatuan dan kebangsaan. Perlu diketahui bahwa Gus Dur merupakan tokoh pluralisme,” ucapnya.

Dosen yang akrab disapa Vika tersebut menambahkan, buku yang berjudul Para Perancang Jihad adalah karya Diego Gambetta dan Steffen Hertog. Buku ini mengungkap banyak fakta yang intinya adalah mengapa kalangan terdidik banyak terlibat ekstremisme dan kekerasan.

“Juga mengungkap tentang fenomena yang sangat aktual tentang  terorisme. Buku ini menggunakan metodologi yang sangat ketat, menggunakan metodologi kuantitatif dan statistik yang sangat disiplin, sehingga menjadi sangat populer, tidak eksklusif untuk kalangan akademisi, tetapi semua masyarakat bisa ikut membacanya,” ujarnya.








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)