Teknologi

Tantangan Praktisi Public Relations dan Strategi Government Public Relation di Era Digital

Kusnan | Jumat, 30 September 2016 - 10:00:40 WIB | dibaca: 1061 pembaca

Jabatan Public Relations itu mendidik orang banyak, memberikan penerangan supaya orang banyak itu setuju dengan suatu sikap dan anggapan, yang dikehendaki tentang suatu peraturan (atau barang) baik dalam dunia politik ataupun kebudayaan. Pernyataan itu disampaikan Dr. Emilia Bassar saat seminar nasional di UNTAG Surabaya, mengutip pernyataan dari Adi Negoro, wartawan, kartografer, penelaah sejarah dan hubungan internasional.

Perkembangan dan transformasi media sangat cepat dan perubahannya yang terus terjadi saat ini membuat public relations juga harus berkembang. Humas memerlukan kemampuan mendengar dan berdialog yang baik agar mampu mempelajari kecenderungan perkembangan arah media massa dan sosial media, sehingga kepercayaan dan reputasi bisa diraih.

“Divisi hubungan masyarakat harus cepat merespons dalam memberikan informasi, memiliki inovasi terbaru dalam menyampaikan informasi, dan tinggalkan pola-pola lama. Ini ucapkan Presiden Jokowi  saat mengumpulkan seluruh pihak kehumasan Kementerian atau lembaga negara serta kehumasan BUMN untuk percepatan pembangunan 2016 di Istana Merdeka,” kata Praktisi Komunikasi Divisi Riset dan Kompetensi BPP Perhumas itu.


Kehadiran media digital bagi praktisi PR, lanjut  Dr. Emilia, menambah jumlah media komunikasi yang perlu dikelola oleh praktisi PR, menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi praktisi pr, kepercayaan dan reputasi lembaga berada pada titik yang makin rentan, sehingga praktisi PR harus bertransformasi dan berevolusi dengan menambahkan keahlian dan kompetensi baru.

Dalam era digital, intelligent data experience dapat digunakan untuk mendapatkan update isu terkini dengan basis data yang kuat, mengidentifikasi siapa yang pro dan kontra dengan lembaga, membangun engagement dengan stakeholders, mengetahui apa saja yang menjadi trend setter triggers, dan apa yang memengaruhi isu yang berkembang,” tambah dosen Universitas Mercu Buana dan IPB itu.

Dr. Emilia menjelaskan, tantangan government PR saat ini adalah pengelolaan isu strategis, keterbukaan informasi, perkembangan teknologi informasi, bekerja melalui jaringan/kemitraan, dan peningkatan kapasitas aparatur Humas.

Sementara itu, tugas government PR di era digital adalah memanfaatkan digital public relations untuk menyebarluaskan informasi tentang kebijakan, program maupun kegiatan lembaga; memanfaatkan digital public relations untuk berkomunikasi dan membangun hubungan “personal” dengan publik lembaga; tanggap terhadap perubahan lingkungan dan/atau kebijakan (politik) legislatif dan eksekutif; dan merespon dengan cepat dan tepat berbagai isu yang berkembang di media sosial maupun portal berita.

“Juga harus mampu mensinergikan pemanfaatan media sosial lembaga dengan media sosial jaringan (publik) lembaga, dan melakukan monitoring terhadap percakapan ataupun pemberitaan terkait lembaga di media sosial maupun portal berita,” pungkasnya.

Dr. Emilia Bassar (Praktisi Komunikasi Divisi Riset dan Kompetensi BPP Perhumas) itu menjadi nara sumber dalam seminar nasional Public Relation Perhumas roadshow to campus dengan tema ‘Challenges on Public Relation Practise in the Digital Era’, yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAG Surabaya yang bertempat di Gedung Graha Wiyata lantai 9, Selasa (27/9/2016).








Komentar Via Website : 1
sehat alami herbal
05 Oktober 2017 - 16:00:01 WIB
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)