Sorotan

Terorisme di Newzealand, Dosen Psikologi Untag Surabaya Angkat Bicara Mengenai Kejiwaan Pelaku

Redaksi | Rabu, 27 Maret 2019 - 13:23:27 WIB | dibaca: 516 pembaca

Peristiwa mengerikan telah terjadi di Chrischurc – Newzealand. Tragedi tersebut merenggut puluhan korban jiwa dan luka – luka, tepatnya di dua masjid Al – Noor dan masjid Linwood. Peristiwa berdarah pada Hari Jumat (15/03/19) lalu tersebut, belakangan diketahui pelakunya merupakan warga Australia bernama Brenton Terrant yang selama ini dikenal dengan moto nasionalisme kulit putih dan anti imigran.

Seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan pelindung kepala dan senjata masuk ke masjid. Tanpa ragu pria tersebut menekan pelatuk senjatanya ke arah jamaah sholat Jumat. Aksi brutal yang tidak manusiawi tersebut direkam secara langsung dan disebarkan ke media sosial yang terhubung pada saat itu juga.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Psikologi Untag Surabaya, Drs. Yanto Prasetyo, Msi.Psikolog angkat bicara. Menurutnya, beberapa hal terkait kondisi kejiwaan seseorang terjadi karena faktor internal yang  berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri.

‘’Setiap orang selalu memiliki sifat agresif, ada yang terkontrol ada yang tidak terkontrol. Tetapi ada juga seseorang dengan pembawaan yang tenang, sifat agresifnya tiba – tiba muncul ketika dia dalam keadaan terdesak. Kalau dalam bahasa psikologi, apa pun akan sangat mungkin terjadi,’’ tuturnya.

Yanto juga menambahkan penjelasannya dengan gambaran sederhana, yang mana seseorang butuh sebuah keseimbangan. Dengan keseimbangan, seseorang dapat mengendalikan emosi yang ada pada dirinya. Dalam hal ini, ketika seseorang sudah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, maka sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.

‘’Contoh sederhana, sebenarnya seseorang butuh balancing atau keseimbangan. Ketika dia dalam keadaan tertekan harusnya ada waktu untuk melepaskan tekanan – tekanan tersebut. Jika tekanan ditahan terus menerus, maka tekanan akan meningkat dan terjadilah under control,’’ ungkap Yanto ketika ditemui tim warta17agustus.com di Laboratorium Psikologi Untag surabaya.

Tidak hanya itu, selain faktor internal juga ada faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Ketika seseorang dengan wawasan sempit mendapat informasi sepihak yang tersebar luas di media, maka hal tersebut akan menjadi sebuah pembenaran bagi dirinya. Hal tersebut lah yang membuat seseorang terinspirasi untuk melakukan sesuatu hal.

''Faktor eksternalnya yaitu pengaruh media. Baik membaca artikel di internet, majalah, koran, televisi yang dapat menggiring sebuah opini, hingga main game sekalipun. Dan pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa membunuh itu adalah sebuah kemenangan. Jika dilihat dari kaca matanya, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang wajar. Tapi jika dihat dari sudut pandang kita, tentunya itu akan sangat berbeda,’’ papar dosen mata kuliah Teori Kepribadian tersebut.

Lebih lanjut Yanto mengatakan terkait sejarah yang hingga saat ini masih terbukti, bahwa perang tidak akan pernah usai. Menurutnya setiap orang akan selalu mempertahankan egonya masing – masing, kecuali mereka menyadari, dengan toleransi, perseteruan kedua pihak yang berseberangan akan mudah diminimalisir atau bahkan dihindari.

‘’Kita harus bersikap toleran, biarkan orang yang beragama lain beribadah kemudian kita juga beribadah. Tidak usah urusi agama dan kepentingan orang lain. Jika itu dapat dilakukan, artinya kita sama – sama memiliki sikap toleran. Sepanjang kita bisa toleransi, menghargai dan tidak mengasut satu sama lain, sebenarnya peristiwa serupa tidak akan terjadi.

Tragedi pembunuhan masal di Chrischurc - Newzealand tersebut sekaligus mematahkan sebuah stigma yang saat ini masih melekat dalam pikiran masyarakat belahan dunia bahwa teroris adalah Islam, tapi pada kenyataanya, non Islam pun juga melakukan kejahatan, yaitu terorisme.

Reporter : YRS

Editor     : LA_unda

 








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)