Religi

Tidak Sekedar Surga

Latifah | Jumat, 13 April 2018 - 09:43:42 WIB | dibaca: 111 pembaca

''Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,''-Yohanes 3:16

Kekristenan itu sederhana, bukan? Ayat Alkitab seperti Yohanes 3:16 menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang Kristen, kita hanya perlu percaya kepada Tuhan, dan kelak saat meninggal kita akan masuk surga (tempat yang baik), bukan neraka (tempat yang buruk). Bukankah kekristenan pada dasarnya adalah semacam asuransi kehidupan yang dampaknya baru akan kita rasakan suatu hari kelak (semoga masih lama) setelah hidup kita di dunia ini berakhir? Secara singkat, jawabannya adalah ''ya''! Tetapi juga ''tidak''.

Yohanes 3:16 menjelaskan sebuah kebenaran yang luar biasa tentang Yesus. Siapa pun yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa, namun beroleh hidup yang kekal. Kebenaran yang luar biasa ini harus selalu kita ingat baik-baik.

Menghindari neraka jelas ada dalam ajaran Kristen. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa kekristenan itu jauh lebih luas, tidak sekadar mengajar kita bagaimana caranya menghindari neraka. Bahkan sesungguhnya, memangkas kabar baik yang dibawa Yesus hingga orang berasumsi bahwa ada hanya ada satu konsekuensi yang akan mengikuti keputusan mereka mengikut Yesus (terhindar dari neraka), itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena dengan demikian kita sedang membuang banyak sekali karunia rohani yang sesungguhnya disediakan Allah.

Untungnya, Alkitab tidak membiarkan kita melakukannya. Injil Yohanes tidak membiarkan kita melakukannya.

Bahkan Yohanes 3:16 juga tidak membiarkan kita melakukannya. Jika hidup kita menunjukkan bahwa menghindari neraka adalah satu-satunya kebenaran yang penting dalam Kekristenan, kita telah menyingkirkan beberapa kebenaran penting yang ditunjukkan di dalam ayat ini.

1. ''Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini...''

Jika iman demi menghindari neraka itu benar, kekristenan adalah iman yang sangat individualis dan juga sangat egois. Bukankah bicara tentang surga itu berarti bicara tentang saya dan kenyamanan saya? Yesus mati bagi saya dan itu tidak ada hubungannya dengan orang lain. Lalu, mengapa kita perlu ke gereja? Satu-satunya kesamaan saya dengan orang lain yang datang ke gereja adalah: mereka juga telah mengambil asuransi yang sama. Hubungan saya dengan orang Kristen lainnya tak ubahnya seperti hubungan saya dengan orang lain yang membeli pakaian di toko yang sama. Pilihan yang bagus. Tetapi setelah itu, biarkan saya menjalani kehidupan saya sendiri.

Bersyukur bahwa kehidupan yang individualis sesungguhnya bukanlah sesuatu yang bisa dipilih oleh seorang Kristen. Yohanes 3:16 mengatakan bahwa kasih Allah begitu besar akan dunia ini. Tujuan Allahmemberikan Anak-Nya yang tunggal bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang individualis. Tujuan-Nya amat sangat besar: Yesus datang supaya seisi dunia ini beroleh kesempatan untuk menerima hidup kekal-itu berarti segala suku bangsa, segala kelompok usia, dan segala macam latar belakang.

Dan dari orang-orang yang tidak terhitung banyaknya itulah Allah membangun Gereja-Nya. Almarhum John Stott, seorang pendeta di London, pernah menulis, “Karena tujuan-Nya...bukanlah untuk sekadar menyelamatkan individu-individu yang terisolasi satu sama lain-bila demikian kita akan terus mengalami kesepian-melainkan untuk membangun Gereja-Nya. ''Kekristenan itu bukan hanya tentang kita, tetapi tentang semua orang di seluruh penjuru dunia; mereka perlu mendapatkan kesempatan yang sama dengan kita. Kekristenan itu juga bukan sekadar upaya menghindari neraka, melainkan tentang menjadi bagian dari sebuah komunitas baru yang dibangun Allah di dalam Yesus. Kekristenan itu berarti mengasihi, menyambut, dan menerima semua orang lain yang percaya kepada Yesus. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.

2. ''...sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal...''

Jika kamu adalah seorang yang percaya bahwa kekristenan itu hanyalah semacam garansi ''bebas dari neraka'', itu berarti kamu mengakui bahwa Allah mengaruniakan Yesus bagimu-Dialah yang kamu butuhkan untuk bisa masuk ke surga. Cukup sampai di situ. Setelah Yesus mati bagimu, Dia tidak lagi berguna bagimu.

Untungnya, Alkitab tidak hanya bicara tentang apa yang dilakukan Yesus di masa lalu. Yesus juga adalah Tuhan yang bangkit, yang secara terus-menerus mengasihi, membangun, dan membentuk umat-Nya dengan kuasa Roh Kudus. Dan, tidak hanya berhenti sampai di situ! Orang-orang yang percaya bahwa kekristenan itu hanya semacam garansi ''bebas dari neraka'' tahu bahwa surga adalah tempat orang Kristen bisa mengalami segala sesuatu yang paling baik di jagat raya ini. Apa sebenarnya yang paling berharga bagi orang-orang Kristen? Bukankah yang paling berharga adalah Pribadi yang disebutkan Alkitab telah memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan?

Alkitab sesungguhnya berkata bahwa pada akhir zaman, manusia-manusia yang telah diperbarui sebagai umat Tuhan akan mendapatkan tempat di sekitar takhta Yesus, menyembah Dia dengan penuhsukacita selamanya. Saat bicara tentang surga, kita tidak sedang berbicara tentang sebuah tempat yang nyaman untuk pensiun; tetapi tempat kita akan berjumpa dengan Pribadi terpenting di dalam hidup kita. Pernahkah kamu berpikir bahwa suatu hari nanti, kamu tidak perlu lagi membaca Alkitab untuk memahami siapa Yesus? Pada akhirnya, kamu akan dapat memandang-Nya, muka dengan muka! Bila hal itu tidak membuatmu bersemangat, mungkin kamu telah salah mengerti apa yang menjadi pokok utama kekristenan. Yesus bukan sekadar sarana yang dapat kita gunakan untuk mencapai tujuan-Dialah pokok utama kekristenan.

3. ''...supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.''

Kekristenan sama sekali bukan sebuah asuransi untuk sebuah kehidupan di masa depan yang tidak mempengaruhi kehidupan kita di masa kini. Ketika kita memutuskan untuk mengikut Yesus, tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan kita, baik itu di masa lalu, masa kini, atau masa depan, yang akan tetap sama. Naluri kita, prioritas-prioritas kita, karakter kita, semuanya akan mengalami perubahan total melampaui apa yang bisa kita bayangkan, dan tidak ada satu bagian pun dari masa depan kita yang tidakmenjadi milik Tuhan. Kehidupan yang akan berlanjut dalam kekekalan itu sudah dimulai segera setelah kita percaya kepada Yesus. Kehidupan kita harus berubah, hmm...kedengarannya tidak nyaman ya? Tiba-tiba kekristenan menjadi sesuatu yang tidak mudah, apalagi murahan! Mungkin kamu bertanya-tanya, benarkah iman kepada Kristus sedemikian berharga?

Dalam Yohanes 17 kita membaca bahwa hidup yang kekal itu adalah mengenal Sang Bapa, satusatunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya. Artinya, tidak ada yang lebih baik daripada mengenal dan dikenal oleh Pribadi yang telah menciptakan jagat raya dan segala isinya, Pribadi yang dengan penuh kasih menempatkan bintang-bintang pada posisi yang tepat, dan yang telah memikirkan tentang kita sebelum orang lain memikirkan kita. Mengapa iman yang sekadar menghindari neraka itu jelas tidak cukup? Karena iman yang demikian membuat kita tidak bisa melihat kebenaran yang luar biasa ini: setiap kita diciptakan untuk mengenal dan menaati Allah yang Mahakasih, yang berkuasa atas segala sesuatu, serta untuk dikenal oleh-Nya. Iman yang sekadar menghindari neraka jelas tidak sebanding dengan iman Kristen yang sejati. (RE)








Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)