Dampak Pandemi Covid-19, Indonesia Alami Stunting Pendidikan

  • 18 Desember 2020
  • YRS
  • 119

Masa pandemi yang melanda selama 10 bulan terakhir membuat Indonesia dinilai telah mengalami stunting di bidang pendidikan. Oleh karena itu perlu dibuatkan sebuah intervensi yang tepat agar kondisi ini tidak terjadi terus menerus.

 

Stunting dalam bidang kesehatan merupakan kelainan dimana anak kekurangan gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhannya terhambat. Salah satu ciri stunting yang paling terlihat adalah anak bertubuh pendek.

 

Stunting bidang pendidikan menyebabkan “asupan gizi” pembelajaran yang biasanya 100 persen menjadi 50 persen saja di masa pandemi. Dengan kondisi ini maka orang tua memang dituntut untuk mampu mendampingi anak-anaknya dalam pembelajaran di rumah.

 

Kegiatan belajar dari rumah (BDR) selama ini kurang efektif karena beberapa faktor. Di antaranya kurangnya orang tua memahami situasi anak-anak (tingkat SD-SMP) sehingga banyak kasus orang tua emosional saat mengajar anak di rumah.

 

Padahal di masa pandemi, orang tua memegang peranan penting proses belajar dari rumah. Dengan memahami kebutuhan anak maka ruang penerimaan anak ketika diajari orang tua akan lebih besar. Misalkan saja ketika anak suka sekali main ponsel, maka bagaimana orang tua memberikan nilai tambah tersebut kepada anak. Contohnya dengan memilihkan tayangan-tayangan yang lebih berkualitas dan membentuk karakter anak.

 

Sedangkan bagi pelajar SMA yang umumnya berusia 16-18 tahun keatas, mereka dituntut untuk memanfaatkan ponsel karena hampir 80 persen aktivitas pembelajarannya menggunakan metode daring atau online.

 

Minimnya pemahaman kebutuhan belajar anak ternyata juga dialami oleh pendidik. Hal ini terlihat munculnya keluhan pendidik yang cenderung hanya sekedar memberikan tugas-tugas saja selama BDR. Sehingga banyak keluhan muncul anak enggan berpartisipasi aktif, anak mematikan video saat pembelajaran via zoom dan sebagainya.

 

Salah satu strategi untuk meningkatkan semangat belajar pada anak (SD-SMP) adalah memberikan penghargaan pada diri sendiri atas capaian belajar yang telah dicapai, memotivasi diri lewat buku bacaan tentang kisah tokoh sukses, membuat jadwal harian, membuat pola hidup teratur, dan sebagainya.

 

Sedangkan pada anak usia 16tahun keatas, orangtua harus menjalin komunikasi dengan baik seperti contoh, menemani anak ketika sedang kelas online/kuliah online. Memaksakan anak untuk selalu belajar di tengah pandemi saat ini justru merupakan hal yang buruk untuk psikologis anak. (RA)

 

Sumber : edukasi.sindonews.com

 

 

Y. RAKA S.

Reporter

BERITA TERKAIT

Samsung Resmi Rilis Galaxy S 4
  • 15 Maret 2013
  • 4979
Kuliah Di India Murah
  • 19 Maret 2013
  • 5025