Pahlawan itu Mengutamakan Kepentingan Umum di Atas Kepentingan Pribadi

  • 13 November 2017
  • 5117

Civitas akademika UNTAG Surabaya melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Pahlawan ke-72, bertempat di Lapangan Parkir Utara, Jum’at (10/11/2017). Peringatan Hari Pahlawan tahun ini mengangkat tema “Perkokoh Persatuan Membangun Negeri”.

Setiap tanggal 10 November, Bangsa indonesia memperingati hari pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para pahlawan kusuma bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. 

Rektor UNTAG Surabaya Dr. Mulyanto Nugroho, MM.,CMA.,CPAI pada saat upacara bendera membacakan pidato Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawangsa. Dalam pidatonya Khofifah mengatakan, peringatan Hari Pahlawan didasarkan pada peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, sebagai pertempuran pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dengan memakan korban jiwa yang sangat besar. 

Menurut dia, peristiwa tersebut memberikan pelajaran moral bahwa warisan terbaik para pahlawan bangsa bukanlah “politik ketakutan”, melainkan “politik harapan”. Bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, tidak akan menyurutkan semangat perjuangan. 

Lebih lanjut Khofifah menjelaskan, peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali upaya, bukan abunya. Seperti yang telah dikatakan oleh Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Semangat kepahlawanan adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat kepahlawanan adalah semangat membentuk dan membangun negara. 

Menteri Sosial ke-27 tersebut mengungkapkan, setiap zaman memiliki tantangannya tersendiri. Dan oleh karena itu, setiap zaman harus mengembangkan respon kepahlawanan yang sesuai dengan zamannya. Setelah indonesia merebut kemerdekaanya, semangat kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, melainkan butuhkan pula patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing. 

Diakhir pidatonya, Khofifah mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang, bekerja, berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini.

BERITA TERKAIT

Samsung Resmi Rilis Galaxy S 4
  • 15 Maret 2013
  • 4770
Kuliah Di India Murah
  • 19 Maret 2013
  • 4815