Tahun 2021, Elang Hitam Siap Jaga Laut Natuna dan Kawasan T3 Indonesia

  • 12 Februari 2020
  • MKM
  • 33

Drone atau Pesawat Udara Nirawak (PUNA) tipe Medium Altitude Long Endurance (Male) Elang Hitam dipercepat pembuatannya agar bisa patroli di Laut Natuna 2021. Produk asli anak bangsa ini ditujukan untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI.

 

Dirancang sejak tahun 2015 oleh Balitbang Kementerian Pertahanan Kementerian Pertahanan, Elang Hitam terus dikembangkan lagi dengan kemampuan membawa senjata. Hal ini dilakukan dalam rangka memperkuat sistem persenjataan pertahanan dan keamanan sehingga memiliki kemampuan tempur.

 

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza mengatakan akan mempercepat agar Elang Hitam memiliki kemampuan tempur. Setelah Elang Hitam akan kembali dibangun dua purwarupa (prototipe) pada 2020. Dua purwarupa ini akan dilengkapi kemampuan intelligence, surveillance, target acquisition and reconnaissance.

 

‘’Rencana percepatan pembangunan PUNA Elang Hitam, sudah kami paparkan saat agenda rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (3/2/2020), di gedung DPR RI, Jakarta. Paparan terkait penguasaan teknologi Drone tersebut juga saya sampaikan selanjutnya kepada Menristek/BRIN pada agenda Rakor Kemenristek/BRIN,’’ kata Hammam dalam keterangan resmi, Rabu (05/02).

 

Ia menambahkan, Elang Hitam akan segera beroperasi untuk menjaga kedaulatan wilayah tanah air, seperti di langit Natuna dan kawasan T3 lainnya (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

 

‘’Namun, kalau ada percepatan, kita harapkan bisa tahun 2021, semoga percepatan pembangunan Drone Elang Hitam ini, dapat segera terwujud. BPPT bersama Konsorsium PUNA MALE Kombatan, siap melakukan akselerasi,’’ ujarnya.

 

Mirip dengan drone canggih buatan dunia, drone Elang Hitam didesain secanggih mungkin untuk bisa membantu mengawasi keamanan dari udara. Oleh karena itu, Elang Hitam bisa take off dan landing sekitar 700 meter dengan kemampuan terbang di ketinggian 20.000 feet.

 

Kecepatan maksimum 235 kilometer per jam dan lama terbang sekitar 30 jam. Pesawat tanpa awak ini memiliki panjang 8,3 meter dan bentang sayap 16 meter. Elang Hitam juga mempunyai kemampuan terbang terus menerus selama 24 jam.

 

Selain BPPT, konsorsium yang memproduksi Elang Hitam beranggotakan Kementerian Pertahanan yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, TNI-AU (Dislitbangau), ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri dan pada 2019, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) masuk sebagai anggota.

 

Keberadaan pesawat nirawak ini diharapkan dapat membantu menjaga kedaulatan NKRI dari udara. Mengingat kebutuhan pengawasan di udara terus bertambah seiring dengan meningkatnya ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, serta pencurian sumber daya alam seperti ilegal logging dan ilegal fishing.

 

Sumber :

 

 

 

 

M.KHOIRUL M.

Reporter yang malang melintang di bidang jurnalisme

BERITA TERKAIT

Isi Kokpit Mobil F1
  • 20 Maret 2013
  • 4902
8 Fitur Mengaggumkan Windows 8
  • 20 Maret 2013
  • 4826
Komputer Terkecil Di Dunia
  • 20 Maret 2013
  • 4799