Portal Berita Online YPTA 1945 Surabaya
“Saya lahir di LA, Lamongan Angeles, guyonannya,” begitu Ismail sering bercanda saat menceritakan asal-usulnya. Meski pernyataan itu kerap mengundang tawa, bagi Ismail, tanah kelahirannya di Desa Somosari, Kecamatan Kalitengah, Lamongan, Jawa Timur, bukan sekadar tempat lahir, melainkan awal dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Lahir pada 15 Juli 1971, Ismail tumbuh di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keagamaan. Suara adzan lebih akrab terdengar dibanding deru kendaraan, dan kehidupan di desa kecil itu membentuk karakter mandiri dalam dirinya. Sebagai anak keempat dari enam bersaudara, ia terbiasa hidup dengan keterbatasan, tetapi justru dari keterbatasan itulah semangat belajarnya semakin tumbuh.
Sejak kecil, kecintaannya terhadap ilmu agama sudah terlihat. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqotus Salam, Lamongan, pada tahun 1985, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Matholi'ul Anwar dan lulus pada tahun 1988. Setelah itu, ia meneruskan pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bungah, Gresik, hingga lulus pada tahun 1991.
Desa Bungah di Gresik, Jawa Timur, dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang dinamis dan telah melahirkan banyak ulama besar. Pilihannya untuk bersekolah di sana pun bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bagian dari tekadnya untuk mendalami ilmu agama di lingkungan yang mendukung.
Setelah lulus sekolah, Ismail sempat merantau ke Jakarta dengan harapan melanjutkan studi sarjana di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Namun, kehidupan ibu kota yang penuh tantangan membuatnya harus menghadapi realitas yang jauh dari ekspektasi. Ia merasa kurang cocok dengan lingkungan di sana, sehingga memutuskan kembali ke Surabaya untuk mencari alternatif lain.
Di Surabaya, ia akhirnya mendaftarkan diri di IAIN Sunan Ampel, yang kini telah menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA). Kesadaran akan kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas mendorongnya mencari cara agar tetap bisa berkuliah tanpa membebani orang tua.
Demi membiayai pendidikannya, ia menekuni berbagai pekerjaan, termasuk menjadi loper koran. Pekerjaan ini didapatnya setelah mendapat informasi dari seorang temannya, Sodiq, yang juga bekerja sebagai loper koran. Saat itu, di daerah Jemur Andayani, Surabaya, terdapat seorang pengelola distribusi koran yang menjadi tempat para loper mengambil koran untuk disebarkan ke pelanggan.
Setiap pagi, setelah menunaikan shalat Subuh dan mengaji kitab kuning di pesantren, Ismail langsung berangkat untuk menjalankan pekerjaannya mengantarkan koran ke berbagai sudut kota. Menjadi loper koran bukanlah pekerjaan mudah. Dengan mengayuh sepeda tuanya, Ismail harus berpacu dengan waktu agar koran sampai tepat ke tangan pelanggan.
Ia kerap menghadapi berbagai tantangan, termasuk pengalaman tak terduga seperti dikejar anjing di kawasan Perumahan YKP Pandugo, Surabaya. Namun, pengalaman-pengalaman berat itu justru menempa mentalnya menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kesulitan hidup.
Selain menjadi loper koran, sejak semester dua perkuliahannya, Ismail mulai mengajar mengaji dari rumah ke rumah di daerah Pondok Candra, Surabaya. Dengan sepeda ontelnya, ia berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, berbagi ilmu agama kepada murid-muridnya. Banyak dari mereka yang menjadi sosok sukses, termasuk rektor dan kepala sekolah.
Setiap rupiah yang ia dapatkan dari mengajar dan mengantar koran ia tabung dengan penuh kesabaran demi membayar biaya kuliah yang saat itu mencapai Rp200.000 per semester, jumlah yang cukup besar bagi mahasiswa yang harus berjuang sendiri.
Di tengah kesibukannya bekerja dan kuliah, Ismail memilih tinggal di Pesantren Sidosermo, Surabaya. Bagi Ismail, pesantren bukan sekadar tempat bernaung, melainkan lingkungan yang mendukung perkembangan ilmu dan spiritualitasnya. Ia juga aktif sebagai pengurus pesantren, berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan.
Pesantren Sidosermo sendiri memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari kawasan “Ndresmo”. Istilah ini diperkenalkan oleh KH Mas Sayyid Ali Akbar dan menjadi populer di masyarakat. “Ndresmo” berasal dari "sing nderes wong limo" yang berarti lima orang santri yang tekun membaca Al-Qur’an. Dari istilah itulah, nama kawasan ini kemudian berkembang menjadi “Sidosermo”.
Kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan semakin memperkaya wawasan dan pengalaman Ismail dalam dunia pendidikan dan dakwah. Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekitar setengah jam dengan sepeda pancal dari Pesantren Sidosermo ke kampus IAIN Sunan Ampel. Jarak yang cukup jauh tak menyurutkan semangatnya, meski harus melintasi jalanan Surabaya yang padat sejak pagi buta.
Keteguhan Ismail dalam menjalani rutinitas ini menarik perhatian teman-teman kuliahnya. Banyak di antara mereka yang merasa iba melihatnya harus bolak-balik dari pesantren ke kampus dengan segala keterbatasan. Beberapa menyarankan agar ia mencari kos-kosan yang lebih dekat untuk mengurangi beban perjalanan sehari-hari.
Namun, semua saran itu hanya berlalu di telinganya. Ismail tetap teguh memilih tinggal di pesantren. Baginya, keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi bagian dari perjalanan menuntut ilmu yang lebih luas. Tinggal di pesantren memberinya kesempatan untuk belajar langsung dari para kyai, memperdalam pemahaman agama, serta mengamalkan ilmunya dengan mengajar santri lainnya. Ia melihatnya sebagai nilai ganda yang tak bisa digantikan dengan sekadar kenyamanan.
Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Agama pada tahun 1996, Ismail mulai mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia mengajar di SMP Budi Sejati Surabaya sejak tahun 2015 hingga sekolah tersebut tutup pada tahun 2018. Tak lama setelahnya, ia mendapatkan kesempatan mengajar di SMATAG Surabaya, menggantikan seorang guru yang pensiun. Hingga tahun 2025, ia masih aktif sebagai pendidik di sekolah tersebut.
Di luar aktivitas mengajarnya, Ismail juga aktif berdakwah. Setiap Jumat, ia rutin memberikan khotbah di Masjid Baitul Fikri, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, serta mengisi berbagai pengajian ibu-ibu dan majelis taklim di berbagai tempat. Baginya, dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menyentuh hati banyak orang agar pesan yang disampaikan berkesan dan bermakna.
Tahun 2000, menjadi babak baru dalam hidupnya ketika ia bertemu dengan belahan jiwanya melalui perantara seorang ustadz di pondoknya. Ia pun menikahi Sri Wahyuni, S.Ag., seorang alumni dari Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak. Anak sulungnya kini mengabdi sebagai anggota TNI Angkatan Laut dan pernah menjadi bagian dari Tim Garuda Pasukan PBB di Lebanon. Keikutsertaan anak sulungnya dalam misi internasional ini menjadi kebanggaan besar bagi keluarga Ismail.
Meski telah mapan dalam profesinya sebagai pendidik dan penceramah, semangat belajarnya tidak pernah surut. Pada tahun 2023, ia kembali menempuh studi Magister Pendidikan Agama Islam (M.Pd) di Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya. Saat ini, ia tengah menyelesaikan tesisnya tentang manajemen sarana prasarana dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam dan direncanakan akan diwisuda pada Mei 2025.
Perjalanan hidup Ismail adalah bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan keikhlasan dapat membawa seseorang menuju kesuksesan. Dari seorang loper koran yang berjuang membiayai kuliahnya sendiri hingga menjadi pendidik dan penceramah yang dihormati, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian.
Reporter