Kuatkan Pendidikan Karakter Melalui Pancasila

  • 02 Juni 2022
  • 98

Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016, Pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus sebagai Hari Libur Nasional. Rabu, 1 Juni 2022 merupakan hari libur nasional untuk memperingati hari lahir Pancasila yang menginjak usia ke 77 tahun.

 

Lahir dan disahkannya Pancasila sebagai ideologi sekaligus dasar dalam bernegara merupakan warisan penting untuk generasi bangsa Indonesia saat ini dan yang akan datang.

 

Kedudukan Pancasila tidak hanya bermakna politik. Pancasila juga berperan sebagai acuan untuk memperkuat karakter generasi muda, terlebih di tengah kondisi zaman yang terus berubah.

 

Nilai-nilai Pancasila paling sedikit terdapat lima corak, yaitu hormat terhadap manusia lainnya yang berbeda keyakinan atau agama, mempunyai rasa manusiawi (humanis), berwawasan kebangsaan, demokratis, dan berkeadilan sosial.

 

Makna pada sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa” menanamkan kemerdekaan beragama bagi seluruh bangsa Indonesia dan melaksanakan kebaikan berdasarkan ajaran baik Tuhan. Sila ke-1 Pancasila ini menjadikan setiap warga Indonesia bebas menganut dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

 

Pada sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” menanamkan bahwa sebuah pendidikan harus dapat menjadi sarana untuk menjadikan seseorang sebagai manusia yang seutuhnya. Singkatnya, sila ini hendak mengajarkan manusia Indonesia tidak melakukan tindakan diskriminatif terhadap sesama.

 

Sila kedua dapat direalisasikan guru pada penerapan metode problem based learning berkelompok pada anak didiknya. Melalui dinamika, diskusi dan kerja sama, siswa akan belajar bagaimana menerima dan menghargai perbedaan sehingga dapat saling mengasihi antarsatu dan yang lain.

 

Pada sila ketiga “Persatuan Indonesia”, hendak menanamkan nilai mengenai wawasan kebangsaan. Pembentukan karakter pada sila ke-3 dapat dilakukan melalui kegiatan upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Pramuka, piket umum, dan gotong royong sehingga dapat memperkokoh rasa persatuan.

 

Sila keempat, “Kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan Indonesia”, berkaitan dengan nilai-nilai demokratis. Dalam dunia pendidikan seseorang dapat melihat dirinya sebagai partisipan politik. Sekolah – sekolah dapat membuka ruang musyawarah bagi siswa.

 

Sila terakhir, kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, memiliki makna hendak menanamkan nilai bahwa pendidikan untuk keadilan sosial bukanlah pendidikan yang netral, melainkan pendidikan yang memihak, yakni memihak pada pihak yang lemah.

 

Dalam hal ini, pendidikan karakter berbasis Pancasila harus diterapkan secara implementatif sesuai dengan lima sila ataupun kegiatan lain yang dirancang oleh guru dan sekolah.

 

Diharapkannya dengan menanam pendidikan karakter dengan implementasi yang konsisten dan terukur dapat memperkuat karakter siswa sebagai generasi muda penerus bangsa.

 

 


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id