Sebelum sebuah bangunan berdiri arsitek perlu membaca cerita dari tapaknya. Gagasan ini menjadi sorotan dalam kuliah tamu Proses Berarsitektur yang digelar Program Studi Sarjana Arsitektur Fakultas Teknik Untag Surabaya pada Kamis (1/10/26) di Ruang Q210 Gedung Fakultas Teknik Untag Surabaya.
Kegiatan ini diikuti seluruh mahasiswa S1 Arsitektur Untag Surabaya. Ketua Program Studi (Kaprodi) Arsitektur Untag Surabaya, Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI, menekankan bahwa proses berarsitektur tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan yang perlu dipahami dan dipelajari.
“Saya harap mahasiswa dapat menyimak pengalaman narasumber sekaligus aktif menyampaikan pertanyaan, pendapat, maupun pandangan berbeda selama diskusi berlangsung,” tukasnya (1/10)
Rangkaian kegiatan diawali dengan penandatanganan dokumen kerja sama antara Untag Surabaya dan Yona Design Studio oleh Andarita bersama Ar. Stephen Yona, IAI. Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi arsitektur profesional sekaligus mendukung pengembangan wawasan mahasiswa mengenai praktik arsitektur.
Stephen Yona merupakan Founder and Principal Yona Design Studio yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Studio desain multidisiplin tersebut memiliki spesialisasi dalam bidang arsitektur, interior, dan desain produk furnitur.
Sesi kuliah tamu kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi Proses Berarsitektur oleh Stephen dengan Ar. Ekinada Wijaya, S.T., MRS., IAI, sebagai moderator.
Stephen menjelaskan bahwa proses berarsitektur tidak hanya berkaitan dengan fungsi dan estetika bangunan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan dan kehidupan manusia. Menurutnya, arsitektur merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu dipahami lebih luas daripada sekadar menghasilkan bangunan secara fisik.
“Arsitektur itu bukan cuma soal keindahan dan fungsi, tapi arsitektur adalah bagian dari kebudayaan (part of culture) dan jalan untuk kembali ke Tuhan,” ungkap Stephen (1/10)
Menurut Stephen, riset mendalam dan pemahaman terhadap konteks lokal menjadi bagian penting dalam proses perancangan. Melalui pendekatan local to local, seorang arsitek perlu menggali karakter, potensi, dan cerita dari suatu tapak (site) sebelum mengembangkan konsep desain. Lokasi pun tidak hanya menjadi tempat berdirinya bangunan, tetapi turut membentuk identitas karya arsitektur.
“Konsepnya adalah local to local, di mana tapak atau site harus bisa bercerita, dieksplorasi, dan diekspansi, tapi bukan untuk dieksploitasi,” jelasnya.
Selain memahami karakter lokasi, Stephen menyoroti pentingnya kemampuan arsitek dalam berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk klien dan pekerja konstruksi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil perancangan dapat menjawab kebutuhan pengguna sekaligus mempertimbangkan nilai budaya dan lingkungan di sekitarnya.
Antusiasme mahasiswa terlihat selama sesi berlangsung. Peserta aktif menyimak dan mengajukan pertanyaan seputar konsep desain, penerjemahan ide ke dalam ruang, serta peran arsitek dalam proyek.
Stephen turut mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada tren atau gaya desain yang sedang berkembang. Menurutnya, kemampuan berpikir kreatif dan menyelesaikan persoalan nyata pengguna bangunan menjadi bagian penting dalam praktik arsitektur.
“Kemampuan berpikir kreatif dan menyelesaikan persoalan nyata pengguna bangunan menjadi hal penting dalam praktik arsitektur,” pesan Stephen
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa Arsitektur Untag Surabaya diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai proses berarsitektur mulai dari riset dan eksplorasi tapak hingga pengembangan desain yang mempertimbangkan kebutuhan manusia serta konteks kebudayaan. (Dini)