Mimpi pertama Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog, bukanlah menjadi psikolog. Sejak duduk di bangku SMA, perempuan asal Jember itu bercita-cita mengenakan jas putih sebagai dokter. Namun kegagalan masuk fakultas kedokteran justru mengantarkannya pada jalan hidup yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dari ruang kuliah psikologi yang awalnya dijalani tanpa keyakinan, Amanda tumbuh menjadi akademisi, psikolog, hingga kini dipercaya menjabat Wakil Rektor I Untag Surabaya.
Di balik berbagai kiprahnya di dunia psikologi, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun melalui ketekunan, kesederhanaan, serta dukungan keluarga yang hangat. Perempuan kelahiran Jember, 3 Desember 1975 itu tumbuh dalam lingkungan akademik yang sarat akan nilai pendidikan.
Amanda menghabiskan masa kecilnya di Jalan Doho, Jember, tepat di depan SMA Negeri 1 Jembe, Jawa Timur. Bersama kedua orang tua dan empat saudara lainnya, ia dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan sekaligus kehangatan hubungan antaranggota keluarga.
Amanda merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, almarhum Prof. Dr. Kabul Santoso, merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember yang kemudian dipercaya menjadi Rektor Universitas Jember selama dua periode, pada 1995-2003. Sementara sang ibu berperan sebagai ibu rumah tangga yang mendampingi keluarga dengan penuh perhatian.
Meski memiliki ayah dengan berbagai kesibukan akademik dan jabatan strategis, Amanda mengaku tidak pernah kehilangan sosok orang tua dalam kehidupannya. Baginya, kedua orang tuanya selalu hadir sebagai tempat berbagi cerita, mulai dari persoalan sehari-hari hingga urusan masa depan dan percintaan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Jember Lor 03, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Jember dan SMA Negeri 1 Jember. Sejak kecil, ia tumbuh dalam suasana keluarga yang terbuka dan penuh komunikasi. Kebiasaan berdiskusi dengan orang tua menjadi salah satu fondasi yang membentuk karakter dirinya hingga saat ini.
Dari sang ayah pula, Amanda mengenal dunia akademik dan profesi dosen. Sosok ayah yang tetap mampu meluangkan waktu untuk keluarga di tengah kesibukan menjadi inspirasi besar dalam perjalanan hidupnya.
Menariknya, psikologi bukanlah cita-cita awal Dr. Amanda. Semasa SMA, ia bercita-cita menjadi dokter dan mempersiapkan diri untuk masuk Fakultas Kedokteran melalui jalur perguruan tinggi negeri.
Namun, hasil seleksi tidak berjalan sesuai harapan. Atas saran keluarga, Amanda kemudian mendaftar di Fakultas Psikologi Untag Surabaya angkatan 1994, yang saat itu masih membuka penerimaan mahasiswa baru.
Awalnya, ia menjalani kuliah tanpa ketertarikan khusus terhadap psikologi. Bahkan selama semester pertama, fokus utamanya masih mempersiapkan diri untuk kembali mengikuti seleksi masuk kedokteran. Namun takdir berkata lain.
Meski merasa tidak serius menjalani perkuliahan, Amanda justru memperoleh indeks prestasi yang tinggi pada masa itu. Setelah kembali gagal masuk kedokteran pada kesempatan berikutnya, ia mulai menerima dan menjalani dunia psikologi dengan lebih sungguh-sungguh.
Titik balik terjadi ketika dirinya ditunjuk menjadi asisten laboratorium dan asisten dosen pada mata kuliah diagnostik psikologi. Penunjukan tersebut membuatnya mulai menyadari potensi yang selama ini tidak ia lihat dalam dirinya. Dari pengalaman menjadi asisten dosen, ia belajar berkoordinasi, berkomunikasi, bernegosiasi, dan mengelola berbagai kegiatan akademik.
Sejak itulah Amanda mulai merasa bahwa psikologi memang menjadi tempat yang dipersiapkan untuk dirinya. Menjelang kelulusan, Amanda mendapat berbagai tawaran pekerjaan. Salah satunya datang dari lingkungan pemerintahan Jawa Timur. Namun ketika Fakultas Psikologi Untag Surabaya menawarkan kesempatan untuk menjadi dosen, ia memilih menerima jalan tersebut.
Keputusan itu mendapat dukungan dari ayahnya yang juga seorang pendidik. Setelah lulus sarjana psikologi pada tahun 1999, Amanda kemudian melanjutkan pendidikan Profesi Psikolog Untag Surabaya pada tahun 2001 dan Magister Psikologi Untag Surabaya pada tahun 2002.
Perjalanannya sebagai dosen dimulai dari berbagai tugas sederhana. Ia sering mendampingi dosen senior menjadi narasumber, konselor radio, hingga membantu berbagai kegiatan akademik dan layanan psikologi masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting yang mengantarkannya menempati berbagai posisi strategis di lingkungan Untag Surabaya. Kemampuan kepemimpinan dan organisasinya terus berkembang seiring bertambahnya tanggung jawab yang diemban.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya terus bertambah seiring dedikasinya dalam dunia akademik dan layanan psikologi. Amanda pernah mengemban berbagai jabatan, mulai dari pengelola Unit Pelayanan dan Konsultasi Psikologi (UPKP), Kepala Unit Counseling Center, Kepala Pusat Layanan Psikologi (PLP), Ketua Program Studi Magister Psikologi, hingga akhirnya dipercaya menjadi Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya selama empat tahun, pada Agustus 2021 hingga Agustus 2025.
Melalui berbagai pelatihan, seminar, asesmen, dan kerja sama dengan instansi pemerintah, Amanda berupaya membawa psikologi lebih dekat dengan masyarakat. Baginya, ilmu psikologi tidak cukup berhenti di ruang kuliah, tetapi harus hadir untuk membantu individu, organisasi, dan komunitas dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Prinsip tersebut juga yang mendorongnya aktif menjadi narasumber, konselor, pelatih, hingga terlibat dalam berbagai organisasi profesi psikologi nasional. Kiprahnya di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dimulai sebagai Anggota Kompartemen I Bidang Pengembangan Wilayah dan Pengabdian kepada Masyarakat periode 2018–2022. Berkat pengalaman dan dedikasinya, Amanda kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Bendahara Pengurus Pusat HIMPSI periode 2022–2026.
Tahun 2021 menjadi salah satu fase paling berat dalam hidupnya. Pandemi COVID-19 merenggut sosok yang selama ini mendampinginya sejak masa remaja. Suaminya, seorang dokter spesialis yang telah dikenalnya sejak SMP dan SMA di Jember, meninggalkan kenangan sekaligus tanggung jawab besar yang harus diteruskan Amanda bersama ketiga anak mereka.
Kepergian sang suami menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya. Namun dari peristiwa tersebut, Amanda menemukan kekuatan baru untuk tetap melangkah dan menjadi sosok yang lebih tangguh bagi keluarga serta ketiga anaknya.
Selain aktif sebagai akademisi dan pemimpin, Dr. Amanda juga terus mengembangkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan, penelitian, serta penulisan buku dan alat ukur psikologi. Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Psikologi dari Universitas Airlangga pada tahun 2017 dan kini menyandang jabatan sebagai Wakil Rektor I hingga tahun 2029.
Meski telah mencapai berbagai posisi strategis, Dr. Amanda mengaku masih memiliki satu cita-cita yang ingin diwujudkan, yakni menjadi guru besar seperti almarhum ayahnya.
Baginya, keberhasilan bukanlah soal jabatan ataupun pencapaian pribadi semata. Yang terpenting adalah mampu memberikan manfaat bagi orang lain, membangun generasi muda, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Kegagalan mengenakan jas putih yang dulu diimpikannya ternyata bukan akhir dari perjalanan. Di dunia psikologi, Amanda justru menemukan ruang untuk bertumbuh, mengabdi, dan memimpin. Jalan yang semula tidak pernah direncanakan itu pada akhirnya menjadi takdir yang mengantarkannya hingga posisi yang diemban saat ini. (Dini)