Gaya Quiet Luxury Bikin Tampil Mewah Tanpa Pamer

  • 13 Februari 2026
  • 76

Tren quiet luxury tengah menguat dalam dunia fesyen, terutama di kalangan anak muda dan profesional urban. Berbeda dengan gaya yang menonjolkan logo besar atau kemewahan mencolok, pendekatan ini menekankan kesederhanaan, kualitas material, serta desain yang bersifat timeless.


Quiet luxury identik dengan palet warna netral seperti putih, krem, beige, cokelat, abu-abu, dan hitam. Potongan busana hadir bersih, rapi, serta klasik, sehingga fleksibel digunakan untuk berbagai situasi, baik formal maupun kasual. Tanpa penanda merek yang mencuri perhatian, kesan mewah justru muncul dari bahan premium, detail jahitan presisi, dan siluet yang elegan.


Perubahan minat terhadap quiet luxury berkaitan erat dengan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap makna kemewahan. Melansir dari IDN Times, pasca-pandemi COVID-19, publik menjadi lebih peka terhadap kesenjangan ekonomi. Dalam kondisi tersebut, pamer kemewahan dinilai kurang etis dan tidak selaras dengan realitas sosial, sehingga preferensi fesyen bergerak menuju tampilan yang sederhana namun tetap bernilai.


Pengaruh media sosial turut mempercepat penyebaran tren ini. Sejumlah figur publik, selebritas, dan influencer internasional kerap tampil dengan gaya yang terlihat simpel tetapi berkelas. Eksposur semacam ini perlahan membentuk standar baru dalam fesyen modern dan diikuti oleh masyarakat sebagai representasi selera tinggi serta kematangan gaya.


Selain mencerminkan status sosial, quiet luxury sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap fesyen berkelanjutan (sustainable fashion). Fokus pada pakaian berkualitas tinggi dan desain yang tahan lama mendorong konsumen mengurangi belanja impulsif serta penggunaan busana sekali pakai, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.


Kendati sering dikaitkan dengan merek kelas atas, konsep ini tidak selalu identik dengan harga tinggi. Esensinya terletak pada pemilihan material yang nyaman, potongan yang pas, serta rancangan sederhana namun fungsional. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai kalangan mengadopsinya sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing.


Kecenderungan ini menandai pergeseran definisi kemewahan dalam fesyen. Nilai mewah tidak lagi diukur dari seberapa mencolok penampilan, melainkan dari kualitas, kenyamanan, serta makna yang melekat di dalamnya. Melalui gaya ini, busana menjadi medium ekspresi diri yang lebih dewasa, subtil, dan berkelas. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\