Perdebatan mengenai kesetaraan kebun sawit dan hutan alam kembali mengemuka setelah muncul anggapan keliru bahwa kelapa sawit “setara” dengan hutan karena sama-sama menyerap karbon. Pandangan ini dinilai menyesatkan karena mengabaikan perbedaan mendasar fungsi ekologis keduanya.
Secara teknis, kelapa sawit memang tergolong tanaman berkayu. Namun secara ekologis, kebun sawit merupakan sistem monokultur buatan manusia yang hanya berorientasi pada produksi. Sebaliknya, hutan alam adalah ekosistem kompleks yang terbentuk selama ribuan tahun dan menopang keseimbangan kehidupan melalui interaksi ribuan spesies flora dan fauna.
Perbedaan paling nyata terlihat pada keanekaragaman hayati. Hutan alam menjadi habitat satwa liar, tumbuhan endemik, dan penjaga rantai makanan. Kebun sawit, dengan dominasi satu jenis tanaman, hanya mampu menopang sangat sedikit spesies. Kondisi ini menyebabkan hilangnya habitat dan mempercepat kepunahan satwa liar.
Dari sisi iklim, hutan alam terutama di kawasan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan stabil. Sebaliknya, pembukaan kebun sawit justru sering diawali dengan deforestasi dan pengeringan lahan yang melepaskan emisi karbon dalam skala masif. Selain itu, sistem drainase kebun sawit melemahkan fungsi tanah dalam menyerap air dan meningkatkan risiko banjir serta erosi.
Menyamakan kebun sawit dengan hutan alam bukan hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga berbahaya bagi kebijakan lingkungan. Upaya menghentikan deforestasi, memperketat pengawasan industri, dan melindungi hutan alam harus menjadi agenda bersama. Kerusakan hutan pada akhirnya akan kembali dirasakan manusia melalui bencana ekologis dan krisis iklim yang kian nyata. (Ivan)