Tak Meminta Kepercayaan, Santri Probolinggo Ini Justru Menembus Negeri Kangguru

  • 05 November 2025
  • 166

“Jangan minta kepercayaan. Kepercayaan itu sebuah pemberian.” Kalimat itu bukan sekadar nasihat bagi Dr. Pariyanto, M.Ed., tetapi napas hidup yang menuntunnya dalam setiap langkah. Dari sebuah desa kecil di Probolinggo, ia menapaki jalan panjang penuh liku hingga dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.


Tumbuh dari Kesederhanaan dan Nilai Pesantren


Pariyanto lahir pada 7 Maret 1978 di Desa Glagah, Paiton, Probolinggo. Anak pertama dari pasangan Maswi dan Liwafa ini tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung nilai-nilai religius.


Dari kecil, ia sudah akrab dengan suara azan, kehidupan pesantren, dan irama kerja keras orang tuanya, lingkungan yang menanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan yang kelak menjadi fondasi hidupnya.


Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Glagah 1 (1986–1991), kemudian berlanjut ke SMP Pondok Pesantren Almunir Banyuglugur, Besuki (1991–1994), dan SMA Taman Siswa Kraksaan, Probolinggo (1994–1997). Hidup di pesantren membuatnya terbiasa tidur beralaskan tikar, belajar di bawah cahaya redup, dan mandiri dalam segala hal. Dari tempat itulah keteguhan dirinya ditempa.


Menemukan Panggilan Hidup lewat Bahasa


Selepas SMA, ia sempat menempuh Diploma 1 Komputer di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Namun di tengah rutinitas belajar pemrograman, ia menemukan sesuatu yang lebih dekat dengan jiwanya yaitu bahasa dan pengajaran.


Dorongan itu membawanya ke Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa (STIBA) Malang untuk menekuni Sastra Inggris (1999–2003). Dunia baru itu membuka matanya bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan pengabdian. Ia kemudian memperkuat kompetensi pedagogis melalui program akta mengajar di Universitas Negeri Malang (2003–2004).


Perjuangan di Tanah Perantauan


Tahun 2004, ia membawa segudang harapan menuju Balikpapan. Di kota rantau itu, ia mengirimkan sekitar 50 surat lamaran kerja, sebagian besar tak berbalas. Tapi nasib baik berpihak melalui dunia pendidikan. Ia diterima mengajar di SD Kemala Bhayangkari Balikpapan dan memberikan kursus bahasa Jepang dasar di SMA Patradharma.


Setiap hari, ia berjalan kaki empat kilometer dari tempat kos menuju sekolah. “Untuk menghemat biaya,” kenangnya. Hidupnya saat itu sederhana, makan sekenanya, tidur di kamar kecil, namun hatinya penuh semangat. Ia percaya, setiap langkah kaki itu sedang menuntunnya menuju masa depan yang ia cita-citakan.


Namun karena situasi keamanan di Kalimantan yang kian tidak stabil, orang tuanya meminta ia pulang ke Probolinggo. Ia sempat bekerja di PT Eratex sebagai supervisor, tetapi rasa bersalah menekan buruh membuatnya gelisah. Ia pun memilih berhenti, kembali ke dunia pendidikan, dan mengajar di MTs Nurul Jadid, tempat yang menurutnya lebih tenang bagi nurani.


Beasiswa Australia: Awal Pengabdian Global


Tahun 2007 menjadi titik terang kariernya. Ia meraih beasiswa dari Pemerintah Australia, mengikuti program persiapan bahasa di IALF Denpasar, lalu melanjutkan studi S2 di Flinders University Adelaide (2008–2009) dengan konsentrasi TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages).


Hidup di negeri Kanguru membuka cakrawala barunya. Ia bukan hanya belajar teori pendidikan, tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia di kancah internasional.


Sekembalinya ke tanah air pada 2010, ia aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, antara lain UIN Sunan Ampel Surabaya, ITS Language Center, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), hingga STIE NIM Sidoarjo. Setahun kemudian, ia kembali dipercaya pemerintah lewat beasiswa doktoral dari Kementerian Agama dan berhasil menuntaskan studi S3 pada 2017.


Pada 2016, ia juga sempat dikirim ke Thailand untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), bentuk diplomasi kebahasaan yang memperluas kiprahnya di dunia internasional.


Amanah dan Keteladanan di Kampus Merah Putih


Tahun 2018, langkahnya berlabuh di Untag Surabaya. Setahun kemudian, ia resmi menjadi dosen tetap. Dedikasi dan keuletannya membuat ia cepat mendapat kepercayaan.


Pada 2021, ia diamanahi sebagai Ketua Program Studi Sastra Inggris, dan empat tahun kemudian, kepercayaan itu semakin besar, ia ditunjuk menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) tahun jabatan 2025 - 2029.


Sejak 2011, Pariyanto juga meniti bahagia dalam kehidupan keluarga bersama Yulia Imaniar Putriatni. Dari pernikahan itu lahir dua anak Nahidh Akmal El Banin dan Janeta Almass Zahirah, yang menjadi sumber kekuatan di tengah kesibukan akademiknya. “Keluarga adalah alasan utama untuk menuntaskan setiap tanggung jawab,” tegasnya


Dari jalan tanah di Desa Glagah hingga ruang dekanat di kampus besar, perjalanan hidup Pariyanto bukanlah kisah keberuntungan, melainkan kisah tentang ketekunan dan keikhlasan.


Bagi dirinya, kepemimpinan bukanlah jabatan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab dan keteladanan.Dan seperti yang selalu ia ucapkan, kalimat yang dulu hanya menjadi prinsip kini berubah menjadi bukti nyata: “Jangan minta kepercayaan. Kepercayaan itu sebuah pemberian.” (Gisela)




https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\