Tim mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam Kategori Karya Tulis Ilmiah (KTI) Topik Sosial dan Budaya Kemaritiman pada ajang Kompetisi Kemaritiman Mahasiswa Nasional (KKMN) 2025.
Tim yang diketuai Yuniar Dwi Putri bersama Devita Permatasari dan Azzahra Bhintang Larasaty ini mengusung karya berjudul “Mentawai Culture Hub”, konsep desa wisata berbasis ekonomi biru yang memadukan pelestarian budaya dengan pemberdayaan masyarakat lokal di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
“Kami ingin menunjukkan keindahan Mentawai dengan budaya unik yang dimiliki masyarakatnya. Di balik pantai dan ombak yang menawan, penduduk lokal masih menghadapi keterbatasan ekonomi,” ujar Yuniar, mahasiswa semester lima Psikologi Untag Surabaya (17/10).
Melalui pendekatan Kreativism, tim menggagas sistem ekonomi mandiri dan berkelanjutan yang melibatkan seniman, pengrajin, pelaku UMKM, dan pemandu wisata. Karya ini menonjol karena menampilkan sisi sosial-budaya Mentawai sekaligus solusi ekonomi berbasis digital, termasuk pembuatan laman Mentawai Culture Hub berisi panduan pengelolaan sampah, strategi pemasaran berbahan lokal, serta tutorial pembuatan vlog promosi wisata.
Kompetisi yang digelar Universitas Hasanuddin Makassar pada 23–24 Agustus 2025 ini menjadi wadah mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mempresentasikan ide-ide inovatif bertema kemaritiman. Tim Untag Surabaya menekankan bahwa Mentawai bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol masa depan maritim Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Yuniar mengungkapkan bahwa inspirasi riset datang dari budaya pesisir Bali yang berhasil menjadikan desa wisata sebagai kekuatan ekonomi lokal. “Pulau Bali bukan hanya menjual keindahan pantai, tapi juga menonjolkan kemegahan budayanya. Itu yang ingin kami tiru di Mentawai,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya generasi muda memahami isu kemaritiman dan bangga terhadap warisan bangsa. “Kita harus melestarikan warisan nenek moyang agar tidak hilang oleh gempuran teknologi,” tambahnya.
Proses penyusunan KTI tidak selalu mudah. Tim sempat menghadapi kendala teknis, mulai dari salah memahami batas halaman hingga kesulitan komunikasi saat wawancara daring dengan warga Mentawai karena perbedaan bahasa. “Maknanya tetap kami pahami, meski ada kendala dalam penyampaian,” kata Yuniar.
Meski sempat gugup saat presentasi dan kehabisan waktu menjawab pertanyaan juri, tim tetap berjuang hingga akhir. Dukungan dosen pembimbing dan pihak kampus menjadi faktor penting yang menjaga semangat mereka.
Saat tiba di Makassar, tim juga mengalami kendala transportasi setelah terjadi perselisihan antara ojek bandara dan transportasi daring yang mereka pesan. “Kami sempat panik karena dipaksa naik ojek bandara. Padahal kami harus fokus untuk lomba keesokan harinya,” kenang Yuniar.
Namun, semua perjuangan itu terbayar ketika mereka diumumkan sebagai Juara 2 Nasional. “Kami sempat pesimis, tapi akhirnya bisa mengibarkan bendera merah di hadapan universitas lain. Ini motivasi besar untuk terus berkarya,” ujarnya bangga.
Sebagai penutup, Yuniar mengajak mahasiswa lain untuk berani berkompetisi dan menjadikan lomba sebagai ajang pengembangan diri.
“Kalau kalian bosan presentasi di kelas, ikutlah lomba. Kita bisa belajar dari peserta lain, mengasah kemampuan, dan meneliti identitas bangsa. Indonesia sangat kaya, tinggal bagaimana kita mengelolanya agar jadi kekuatan ekonomi biru yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
Prestasi ini membuktikan komitmen Untag Surabaya sebagai kampus yang mendukung pengembangan kreativitas dan riset mahasiswa. Melalui karya Mentawai Culture Hub, mahasiswa Psikologi Untag Surabaya tidak hanya mengangkat nilai budaya lokal, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kemajuan ekonomi maritim Indonesia.
Reporter