Gunung Sinai: Warisan Nabi Musa yang Kini Dikepung Beton dan Hotel Mewah

  • 03 November 2025
  • VaniaS
  • 2927

Di tengah hamparan gurun batu yang sunyi, Gunung Sinai berdiri megah di bawah langit Mesir. Di tempat inilah, menurut tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam (Nabi Musa) diyakini berdialog dengan Allah di antara semak duri yang menyala dan menerima Sepuluh Perintah Tuhan. Namun, keheningan yang selama berabad-abad menjadi simbol spiritual kini mulai tergantikan oleh suara alat berat dan debu proyek pembangunan.


Dilansir dari Kompas.com, gunung suci yang dikenal sebagai Jabal Musa kini masuk dalam rencana besar The Great Transfiguration Project, sebuah megaproyek pariwisata yang digagas pemerintah Mesir. Proyek ini bertujuan mengubah kawasan Gunung Sinai menjadi destinasi spiritual modern dengan pembangunan hotel mewah, vila, pusat pengunjung, hingga kereta gantung menuju puncak gunung. 


Pemerintah Mesir menyebut inisiatif ini sebagai hadiah bagi dunia dan semua agama. Namun bagi banyak pihak, hadiah tersebut justru dianggap sebagai ancaman terhadap kesucian serta warisan spiritual tertua di dunia.


Biara Tertua Dunia di Tengah Deru Modernisasi


Di kaki Gunung Sinai berdiri Biara St. Catherine, biara Kristen tertua yang masih aktif digunakan hingga kini. Didirikan pada abad ke-6 oleh Kaisar Bizantium Yustinianus, biara ini menjadi simbol perdamaian antaragama. Di dalam kompleksnya terdapat masjid kecil peninggalan era Fatimiyah, serta surat perlindungan dari Nabi Muhammad SAW bagi umat Kristen yang tinggal di sana, sebuah warisan sejarah yang mencerminkan keharmonisan lintas iman.


Namun, geliat modernisasi mulai mengancam kawasan suci tersebut. Suku Jebeleya, yang selama berabad-abad dikenal sebagai penjaga Biara St. Catherine, dilaporkan kehilangan rumah dan lahan penghidupan akibat proyek pariwisata. Beberapa warga bahkan harus memindahkan makam leluhur mereka karena area pemakaman akan dijadikan tempat parkir baru.


Biara yang Diperebutkan Dua Negara


Kritik terhadap proyek ini datang tidak hanya dari penduduk lokal, tetapi juga dari Yunani, yang memiliki hubungan erat dengan Biara St. Catherine. Pada Mei 2025, pengadilan Mesir memutuskan bahwa biara tersebut berdiri di atas tanah milik negara dan hanya memiliki hak pakai. 


Keputusan itu memicu ketegangan diplomatik antara Kairo dan Athena. Pihak Gereja Ortodoks Yunani menilai keputusan tersebut sebagai bentuk penyitaan terhadap warisan spiritual Ortodoks dan Helenisme, sementara pihak Biara St. Catherine menyebut langkah itu sebagai pukulan berat bagi identitas keagamaan mereka.


Setelah melalui proses diplomasi yang panjang, Mesir dan Yunani akhirnya mencapai kesepakatan untuk menjaga dan melindungi identitas serta warisan budaya biara kuno tersebut. Meski begitu, perdebatan mengenai batas antara pelestarian spiritual dan kepentingan ekonomi masih terus berlangsung.


Antara Hadiah dan Ancaman


Pemerintah Mesir menyatakan bahwa proyek The Great Transfiguration bertujuan melestarikan lingkungan sekaligus membuka peluang wisata spiritual berkelanjutan. Menteri Perumahan Sherif el-Sherbiny menegaskan bahwa pembangunan dilakukan dengan tetap menjaga karakter alam dan warisan spiritual Sinai.


Namun, laporan UNESCO menyebutkan bahwa pembangunan telah mengubah kawasan Dataran el-Raha, lokasi yang diyakini sebagai tempat pengikut Nabi Musa menunggu beliau turun dari gunung. Dalam laporannya, UNESCO menilai kawasan tersebut memiliki keindahan alam dan keterpencilan yang menyatu dengan nilai spiritual manusia.


Pada tahun 2023, UNESCO sempat meminta pemerintah Mesir untuk menunda pembangunan dan menyusun rencana konservasi kawasan. Hingga kini, rekomendasi tersebut belum dijalankan sepenuhnya. Organisasi World Heritage Watch bahkan menyerukan agar St. Catherine dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia yang Terancam.


Suku Badui yang Terpinggirkan


Sekitar 4.000 warga suku Badui Jebeleya kini hidup di tengah perubahan besar yang tidak mereka kehendaki. Dahulu, mereka dikenal sebagai pemandu spiritual dan penjaga rute para peziarah. Namun kini, banyak yang kehilangan mata pencaharian dan terpinggirkan dari tanah leluhur mereka sendiri. Seorang jurnalis Mesir, Mohannad Sabry, menggambarkan kondisi ini sebagai pola lama yang berulang, di mana para penjaga warisan spiritual akhirnya tersingkir oleh modernisasi.


Gunung yang Masih Bertasbih


Kekhawatiran terhadap proyek ini juga datang dari berbagai pihak di dunia. Raja Charles III, pelindung Yayasan St. Catherine, menilai situs tersebut sebagai harta spiritual yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Namun, bagi masyarakat lokal yang terdampak langsung, suara dukungan dari luar negeri terasa begitu jauh.


Di tengah reruntuhan tenda dan rumah yang tergusur, warga hanya berharap agar tanah tempat Nabi Musa berbicara dengan Tuhan tidak berubah menjadi kawasan hiburan. Mereka memandang bahwa kehadiran peziarah kini bukan lagi untuk berdoa, melainkan untuk berbelanja dan berwisata.


Gunung Sinai, yang dahulu menjadi saksi keheningan iman, kini menghadapi ujian baru di antara gemuruh mesin dan bangunan beton. Bagi sebagian orang, proyek ini mungkin bentuk kemajuan, tetapi bagi yang lain, ini adalah cerminan pergulatan manusia antara menjaga kesucian dan mengejar keuntungan duniawi.



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\