Mahasiswa semester 7 Program Studi Sastra Jepang Untag Surabaya, Bima Kristiano Suroso, berpengalaman belajar tidak hanya datang dari ruang kelas. Kesempatan menjalani program internship selama satu tahun di Jepang menjadi babak baru yang membuka pandangannya tentang arti kerja keras, disiplin, dan budaya profesional masyarakat Negeri Sakura.
Ketika ditemui tim Warta17Agustus, Bima bercerita dengan semangat tentang awal perjalanannya. Ia menuturkan bahwa motivasinya mengikuti program magang datang dari dukungan kampus dan arahan Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Jepang saat itu, Dra. Endang Poerbowati, M.Pd., yang juga aktif di lembaga penyalur mahasiswa magang ke Jepang.
“Program ini memang sangat direkomendasikan oleh kampus, dan Bu Endang sangat mendukung mahasiswa untuk ikut, bahkan jika tidak melalui lembaga penyalur miliknya sendiri,” ujar Bima. (23/10)
Belajar Disiplin ala Negeri Sakura
Sebelum berangkat, Bima harus melewati berbagai tahap persiapan, mulai dari administrasi, pelatihan bahasa, hingga pembekalan budaya kerja Jepang. Setelah melalui proses panjang itu, ia akhirnya ditempatkan di sebuah restoran dan vila di kawasan resor Jepang, di mana ia bertugas sebagai staf pelayanan (service staff).
Selama satu tahun penuh, Bima terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan, mulai dari menyambut tamu, menyiapkan hidangan, hingga memastikan kebersihan dan kenyamanan tempat kerja. Pengalaman tersebut membuatnya benar-benar memahami etos kerja dan profesionalitas khas masyarakat Jepang.
“Budaya kerjanya benar-benar berbeda 360 derajat. Kalau di Indonesia semua serba fleksibel, di Jepang semuanya cepat, terstruktur, dan terencana,” kenangnya.
Menurutnya, masyarakat Jepang terbiasa mempersiapkan segala sesuatu bahkan untuk hal-hal kecil. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Ritme kerja yang cepat menuntutnya untuk segera beradaptasi.
“Dari sana saya belajar bahwa kedisiplinan bukan sekadar tepat waktu, tapi juga soal tanggung jawab dan komitmen,” tambahnya.
Dalam menjalani magang, Bima tidak sepenuhnya berjalan sendiri. Ia difasilitasi oleh Lembaga Penyalur Kerja (LPK) yang menjadi jembatan antara mahasiswa dan perusahaan di Jepang.
“Kalau ada masalah, kami bisa langsung menghubungi LPK. Kalau tidak bisa diselesaikan, barulah universitas ikut membantu mencari solusi,” jelasnya.
Sistem pendampingan ini membuat mahasiswa merasa aman karena setiap kendala selalu mendapat perhatian dari dua pihak, lembaga penyalur dan universitas. Ia pun mengapresiasi peran Untag Surabaya yang tetap aktif memberikan bimbingan, meski jarak memisahkan ribuan kilometer.
Kendala Bahasa dan Adaptasi Budaya
Meski penuh pembelajaran, pengalaman magang tentu tak lepas dari tantangan. Salah satu yang paling dirasakan Bima adalah perbedaan bahasa dan gaya komunikasi di lingkungan kerja Jepang.
“Kadang apa yang kita pelajari di kelas tidak sama dengan bahasa yang digunakan di tempat kerja. Karena itu, penting memahami konteks pembicaraan supaya tidak salah paham,” tuturnya.
Menurut Bima, memahami maksud di balik setiap ucapan merupakan kunci penting dalam bekerja dengan orang Jepang. Tantangan ini justru membuatnya semakin bersemangat memperdalam kemampuan bahasa dan memperkaya wawasan budaya.
Di akhir wawancara, Bima membagikan pesan untuk teman-teman dan adik tingkatnya yang ingin mengikuti jejaknya ke Jepang.
“Perbanyak belajar kosakata, latihan menulis dan membaca bahasa Jepang. Jangan lupa juga pelajari etos kerja orang Jepang, meski hanya lewat YouTube atau media sosial,” katanya.
Ia meyakini bahwa magang ke luar negeri bukan sekadar menambah pengalaman akademik, tetapi juga membentuk mental kerja dan karakter profesional.
“Kalau nanti ada kesempatan lagi setelah lulus, saya ingin kembali ke Jepang untuk bekerja,” ujarnya dengan senyum optimis.
Pengalaman Bima menjadi bukti nyata bahwa kesempatan belajar bisa datang dari mana saja, termasuk lewat pengalaman lintas budaya. Ia tak hanya membawa pulang cerita, tetapi juga nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah, ciri khas yang ia pelajari langsung dari masyarakat Jepang.
Melalui kisahnya, Bima berharap semakin banyak mahasiswa Untag Surabaya yang berani mencoba hal baru dan melangkah keluar dari zona nyaman.
“Jangan takut mencoba. Jepang mengajarkan saya bahwa kesungguhan akan selalu membawa hasil,” tutupnya (Boby)