Langkah Thalya Anjanni Rania Putri, siswi SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, menembus beasiswa internasional di Da-Yeh University Taiwan menjadi awal perjalanan baru menuju dunia akademik global. Keberanian mengambil peluang dan ketekunan memperjuangkan mimpi membawanya berkuliah di jurusan Baking and Beverages Modulation.
Perjalanan menuju kampus luar negeri itu tidak terjadi secara instan. Kesempatan tersebut bermula dari informasi beasiswa Taiwan yang dibagikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan SDM SMATAG Surabaya, Ahmad Yusuf, M.Pd., Gr., melalui pesan WhatsApp kepada para siswa. Rasa penasaran mendorong Rania mencari tahu lebih jauh hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaftar.
Sejak masa sekolah, Rania memang memiliki keinginan untuk merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Baginya, kuliah di luar Indonesia bukan sekadar pendidikan formal, tetapi juga kesempatan memperluas wawasan, belajar mandiri, serta memahami kehidupan dalam lingkungan internasional.
“Ada info berbagai beasiswa, termasuk yang menanggung akomodasi dan biaya kuliah selama dua tahun. Dari situ saya langsung tertarik mencoba,” ujarnya (12/2)
Sebelum lolos ke Taiwan, Rania sempat mencoba mengikuti beberapa program beasiswa lain, termasuk seleksi beasiswa dari pemerintah Jepang. Namun, ia gagal pada tahap awal seleksi. Persiapan bahasa Inggris yang belum maksimal, keterbatasan biaya, serta waktu persiapan yang berdekatan dengan seleksi SNBT menjadi kendala. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti mencoba dan justru menjadi pelajaran untuk terus mencari peluang lain.
Saat informasi beasiswa Taiwan datang, Rania telah lebih dulu diterima di Universitas Brawijaya melalui jalur SNBT pada program D4 Perhotelan. Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi dirinya dan keluarga. Namun, keinginannya untuk kuliah di luar negeri membuatnya kembali mempertimbangkan pilihan.
“Saya sudah diterima di Universitas Brawijaya dan bersyukur sekali. Tapi sejak dulu saya memang ingin kuliah di luar negeri, jadi ketika ada peluang ini saya merasa harus mencoba,” katanya
Keputusan tersebut tidak mudah. Rania bahkan sudah mencari tempat tinggal di Malang dan membayar uang muka kamar kos. Setelah melalui pertimbangan panjang, ia akhirnya menulis surat pengunduran diri sebelum masa orientasi dimulai. Langkah ini menjadi keputusan besar yang penuh risiko, sekaligus titik balik yang membawanya menuju perjalanan baru di Taiwan.
Proses seleksi beasiswa berjalan lancar hingga tahap pengajuan visa. Tahap ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak mahasiswa internasional harus mengajukan visa lebih dari sekali. Ketidakpastian sempat membuat Rania pasrah dengan hasil yang akan diterima.
“Yang paling challenging itu saat mengurus visa. Banyak teman harus mengajukan sampai dua kali, tapi Alhamdulillah visa saya langsung diterima dalam satu kali pengajuan,” ungkapnya.
Kini, Rania menjalani program 1+4, yakni satu tahun pembelajaran bahasa Mandarin sebelum melanjutkan ke jurusan utama selama empat tahun. Tahun pertama menjadi fase penting untuk mempersiapkan kemampuan bahasa sebagai bekal perkuliahan.
“Program satu plus empat itu satu tahun belajar Mandarin dan empat tahun di jurusan, jadi total kuliah lima tahun dan semester bahasa Mandarin juga ditanggung beasiswa,” jelas alumni SMATAG Surabaya tersebut
Saat ini ia telah menyelesaikan semester pertama pembelajaran bahasa Mandarin dan menargetkan lulus ujian kemampuan bahasa Mandarin setara A2 dalam TOCFL sebelum memasuki jurusan utama.
Pilihan jurusan Baking and Beverages Modulation memiliki cerita tersendiri. Sejak lama, Rania memang menyukai dunia memasak dan sering bereksperimen di dapur rumah. Dukungan keluarga serta respons positif dari teman-teman membuatnya semakin yakin untuk mengembangkan minat tersebut secara profesional.
Pilihan jurusan Baking and Beverages Modulation berangkat dari minat Rania pada dunia memasak. Ia kerap bereksperimen di dapur rumah, dengan dukungan keluarga dan respons positif dari teman-teman. Baginya, kebahagiaan memasak terletak pada saat orang lain menikmati hasil karyanya. Program ini mempelajari pengolahan kue, dessert, serta minuman dari berbagai negara dengan fasilitas lengkap dan pengajar internasional, termasuk chef dari luar negeri.
“Saya suka masak dan sering eksperimen di rumah. Ketika lihat ada jurusan baking di daftar beasiswa, itu langsung jadi pilihan pertama saya. Jurusan ini sebagai perpaduan antara passion dan peluang karier global,” jelasnua
Kehidupan di Taiwan memberi pengalaman berbeda. Rania tinggal di asrama kampus bersama mahasiswa internasional dari berbagai negara. Adaptasi awal tidak mudah, terutama karena perubahan cuaca. Tinggal di wilayah pegunungan dengan suhu sekitar 10 derajat membuatnya harus menyesuaikan diri dengan udara dingin. Kendala bahasa juga muncul karena tidak banyak masyarakat lokal menggunakan bahasa Inggris.
“Sekarang sudah bisa percakapan sederhana, beli barang, dan komunikasi sehari-hari. Pelan-pelan ada progress,” tuturnya.
Di luar tantangan tersebut, Rania mengapresiasi sistem transportasi dan infrastruktur Taiwan yang menjangkau hingga wilayah pegunungan. Rutinitas hariannya diisi dengan kelas dari pagi hingga sore, kemudian kembali ke asrama untuk beristirahat atau belajar mandiri. Pada akhir pekan, ia biasanya pergi ke kota menggunakan bus kampus untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Meski jauh dari keluarga, komunikasi tetap berjalan lancar karena perbedaan waktu yang hanya satu jam. Ia rutin melakukan panggilan video untuk berbagi cerita dan kabar. Bahkan ketika keluarga menawarkan tiket pulang saat libur musim dingin, ia memilih tetap tinggal karena sudah merasa nyaman dengan kehidupan di sana.
Perjalanan Rania menunjukkan bahwa kesempatan bisa datang dari hal sederhana. Keberanian mengambil peluang dan mengikuti passion membawanya melangkah lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.
“Kalau ada kesempatan, ambil saja. Coba saja. Never try, never know,” tutupnya
Dari Surabaya ke Taiwan, langkah berani itu menjadi awal perjalanan panjang menuju masa depan yang ia impikan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mimpi yang diperjuangkan secara konsisten dapat membuka peluang yang tidak terduga. (Boby)