Fenomena Tarot di Media Sosial Bikin Gen Z Makin Percaya Tafsir Kartu

  • 13 Februari 2026
  • 66

Fenomena tarot kian populer di kalangan Generasi Z. Melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, konten tarot, mulai dari pick a card hingga pembacaan energy, mudah ditemukan dan dikonsumsi secara luas. Bagi sebagian Gen Z, praktik ini tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya mistis, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup di ruang digital.


Daya tarik tarot muncul dari cara penyajiannya yang ringan dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Konten tarot kerap dikemas sebagai hiburan sekaligus sarana refleksi diri dengan mengangkat isu yang akrab bagi Gen Z, seperti percintaan, pertemanan, karier, hingga kesehatan mental. Pendekatan yang personal ini membuat tarot terasa relevan dan mudah diterima di tengah meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap kondisi emosional mereka.


Kolom komentar pada unggahan tarot di media sosial sering dipenuhi respons serupa, salah satunya ungkapan “I claim this energy.” Melansir dari CNN, frasa tersebut diyakini sebagai bentuk upaya menyerap energi positif atau keberuntungan dari ramalan yang disampaikan. Respons warganet ini menunjukkan pergeseran makna tarot yang mulai diposisikan sebagai pegangan emosional, bukan semata hiburan.


Dari sisi manfaat, kartu-kartu tarot kerap dimanfaatkan sebagai pemantik self-reflection. Simbol yang muncul dapat mendorong seseorang untuk menelaah kondisi emosional, pola pikir, serta pilihan yang sedang dihadapi. Bagi sebagian Gen Z, proses ini membantu menenangkan pikiran dan mengenali diri sendiri, terutama ketika berhadapan dengan tekanan akademik, pekerjaan, maupun relasi sosial.


Di balik itu, terdapat potensi risiko psikologis yang perlu dicermati. Paparan konten tarot secara berlebihan, terlebih jika diyakini sepenuhnya sebagai penentu masa depan, dapat memicu ketergantungan emosional. Pada kondisi tertentu, individu berisiko menggantungkan keputusan penting pada ramalan alih-alih menggunakan pertimbangan rasional dan logis.


Efek sugesti juga menjadi faktor yang patut diwaspadai. Tafsir tarot yang bersifat umum dapat memengaruhi cara berpikir penonton, apalagi jika disampaikan dengan gaya meyakinkan. Ketika kondisi mental sedang tidak stabil, paparan semacam ini berpotensi memperkuat kecemasan, memicu rasa takut, atau membentuk ekspektasi yang tidak realistis.


Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Gen Z cenderung bersikap fleksibel dalam menyikapi tarot. Banyak yang menikmatinya sebatas hiburan dan bahan introspeksi, tanpa menjadikannya sebagai kebenaran mutlak. Sikap kritis serta kesadaran diri menjadi penopang penting agar konsumsi konten tarot tidak berdampak negatif terhadap kesehatan mental.


Dengan pendekatan yang bijak, tarot tetap dapat dinikmati sebagai bagian dari budaya populer dan hiburan digital. Namun, generasi muda perlu menyadari batasannya agar keputusan hidup tetap berpijak pada pertimbangan rasional serta kesejahteraan psikologis. (Dini)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\