Gunung Semeru Level Awas, PVMBG Ingatkan Ancaman Lahar

  • 01 Desember 2025
  • 30

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali memasuki fase kritis dalam sepekan terakhir. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami 37 kali erupsi, dengan 12 letusan terjadi hanya dalam satu hari. Kolom abu yang menjulang, suara gemuruh berulang, serta peningkatan getaran seismik menunjukkan kondisi yang tidak stabil. PVMBG menetapkan status Level IV atau Awas, menandakan ancaman bahaya berpotensi meluas hingga ke pemukiman di lereng Semeru.




Kepala PVMBG, Andiani, memperingatkan bahwa ancaman terbesar saat ini adalah lahar dingin yang dapat terjadi akibat hujan sedang hingga lebat di kawasan puncak. Material vulkanik yang menumpuk di lereng bisa terbawa arus melalui Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama Besuk Kobokan, jalur utama aliran lahar. Arus lahar yang datang mendadak berpotensi membawa batu, pasir, dan lumpur dalam volume besar yang mampu merusak jembatan, menutup akses jalan, hingga menerjang pemukiman.




Untuk memperkuat mitigasi, PVMBG menetapkan zona larangan total dengan radius 8 kilometer dari puncak kawah yang wajib steril dari aktivitas apa pun. Sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 kilometer dari puncak juga ditetapkan sebagai kawasan berbahaya, mengingat area tersebut rawan terdampak aliran material vulkanik. Masyarakat diminta menjauhi sempadan sungai hingga 500 meter di kiri–kanan aliran, karena potensi letusan sekunder dan pergerakan material panas dapat terjadi sewaktu-waktu.




Dampak sosial dari peningkatan aktivitas Semeru semakin meluas. Sebanyak 477 warga masih bertahan di pengungsian dan membutuhkan bantuan logistik, layanan kesehatan, serta perlindungan dari abu vulkanik. Lebih dari 1.211 kepala keluarga juga dilaporkan terisolasi akibat akses jalan yang terputus, menyulitkan distribusi bantuan dan koordinasi lapangan. Kebutuhan mendesak seperti masker, air bersih, obat-obatan, dan ruang aman terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas vulkanik.




Situasi ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Erupsi Semeru menunjukkan bahwa hidup di wilayah cincin api membutuhkan kewaspadaan kolektif, edukasi berkelanjutan, serta respon cepat terhadap berbagai potensi bahaya alam. Kolaborasi pemerintah, relawan, dan warga menjadi kunci untuk menekan risiko sekaligus melindungi kelompok rentan di sekitar lereng Semeru. (Ivan)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\