Arch Week Untag Surabaya Ditutup Bedah Karya Magister Arsitektur

  • 09 September 2026
  • 15

Rangkaian UNTAG Arch Week 2026 memasuki hari terakhir dengan menghadirkan agenda Bedah Tesis & Karya Mahasiswa Magister Arsitektur, Jumat (4/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi, diskusi, dan pertukaran gagasan atas hasil riset serta karya mahasiswa arsitektur.


Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tersebut berlangsung di Lantai 2 Gedung Q atau Graha Prof. Dr. H. Roeslan Abdulgani, Untag Surabaya, pukul 12.30–16.40 WIB.


Agenda ini menampilkan hasil tesis, karya studio, panel desain, dan riset mahasiswa Magister Arsitektur. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diberi ruang untuk mempresentasikan proses akademik, gagasan desain, serta respons arsitektur terhadap persoalan lingkungan dan perkotaan.


Salah satu pembahasan mengangkat penelitian tentang peran kontekstualitas fasilitas dalam keberlanjutan taman kota. Kajian tersebut menggunakan studi kasus Taman Bungkul, Taman Prestasi, dan Taman Flora di Surabaya.


Penelitian itu menyoroti pentingnya fasilitas taman yang sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Beberapa aspek yang dikaji meliputi aksesibilitas, fungsi dan budaya, kenyamanan, estetika, serta aspek sosial.


Dalam kajian tersebut, elemen seperti vegetasi, tempat duduk, elemen air, keterlihatan ruang, dan pengaturan fungsi dinilai turut membentuk kenyamanan serta karakter taman kota. Sementara itu, fungsi dan budaya taman berkaitan dengan aktivitas masyarakat, identitas lokal, serta memori kolektif yang terbentuk melalui penggunaan ruang publik.


Selain kajian taman kota, sesi bedah juga menampilkan gagasan perancangan Relokasi Stadion Sepak Bola di Kabupaten Nganjuk dengan Pendekatan Arsitektur Metafora. Perancangan tersebut dilatarbelakangi kondisi Stadion Anjuk Ladang yang dinilai belum memenuhi sejumlah standar sarana dan prasarana stadion sepak bola.


Berdasarkan hasil observasi dalam perancangan, sebanyak lima aspek atau 18,5 persen dinilai telah memenuhi standar. Sementara itu, 22 aspek atau 81,5 persen lainnya belum memenuhi ketentuan.


Permasalahan yang ditemukan mencakup kondisi fasilitas, keterbatasan ruang, aksesibilitas, sirkulasi, dan area parkir. Keterbatasan lahan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam usulan relokasi tersebut.


Lahan yang tersedia untuk pengembangan berada pada kisaran 2,92 hektare, sedangkan kebutuhan lahan stadion diperkirakan minimal 3,5 hektare. Karena itu, relokasi diajukan sebagai alternatif perancangan dibandingkan pengembangan pada lokasi lama.


Stadion yang diusulkan dirancang berkapasitas sekitar 10.000–30.000 penonton. Fasilitas pendukungnya meliputi tribun, ruang pemain, ruang VIP, ruang media, toilet, kantin, area parkir, dan ruang teknis.


Pendekatan arsitektur metafora diarahkan agar rancangan stadion tidak hanya memenuhi fungsi olahraga, tetapi juga mencerminkan identitas dan budaya Kabupaten Nganjuk.


Melalui hari terakhir UNTAG Arch Week 2026, berbagai gagasan mahasiswa menjadi ruang untuk mempertemukan kajian akademik, kebutuhan pengguna, dan persoalan perkotaan. Mulai dari keberlanjutan taman kota hingga perancangan fasilitas olahraga, karya yang dipresentasikan menunjukkan bahwa arsitektur dapat hadir sebagai respons terhadap konteks lingkungan, sosial, dan budaya. (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id