Menentukan pilihan antara gula alami dan pemanis buatan kini menjadi tantangan bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan otak. Meski keduanya memberikan rasa manis yang disukai banyak orang, dampaknya terhadap fungsi otak ternyata sangat berbeda.
Melansir laporan Tempo.co, otak manusia membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama untuk menjalankan berbagai fungsi penting, seperti berpikir, mengingat, dan mengatur emosi.
Namun, tidak semua jenis gula dan pemanis memberikan dampak positif. Konsumsi berlebihan justru dapat memicu gangguan metabolisme, peradangan, serta mengganggu keseimbangan mikrobioma usus yang erat kaitannya dengan kinerja otak.
Gula Tetap Dibutuhkan , Tapi Harus Dibatasi
Meski kerap dicap sebagai “musuh” tubuh, glukosa tetap menjadi bahan bakar utama otak. Namun demikian, tubuh sebenarnya mampu memproduksi glukosa sendiri dari makanan berkarbohidrat. Dengan begitu, tambahan gula dari luar tidak selalu dibutuhkan.
Menurut laporan Psychology Today yang dikutip oleh Tempo.co, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat menurunkan kualitas fungsi otak, serta meningkatkan risiko gangguan suasana hati dan penurunan daya ingat.
Gula Alami Tak Selalu Aman
Banyak orang beranggapan bahwa pemanis alami seperti madu, gula kelapa, atau sirup maple lebih aman dikonsumsi. Padahal, ketiganya tetap mengandung glukosa dan fruktosa dalam kadar tinggi, yang bisa berdampak buruk jika dikonsumsi secara berlebihan.
Sebuah studi menyebutkan bahwa individu yang mengonsumsi lebih dari 100 gram gula tambahan per hari memiliki risiko depresi 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang membatasi asupannya.
Namun, madu menjadi pengecualian. Kandungan antioksidan seperti polifenol dalam madu justru terbukti memiliki manfaat dalam melindungi fungsi otak.
“Keseimbangan adalah kunci. Gula memang bisa mendongkrak energi dan semangat dalam jangka pendek, tapi konsumsi berlebihan justru menurunkan kemampuan kontrol diri,” tulis Tempo.co mengutip dari Verywell Mind.
Pemanis Buatan: Solusi atau Ancaman Baru?
Pemanis buatan seperti aspartam, sukralosa, dan sakarin yang telah disetujui oleh FDA memang menawarkan rasa manis tinggi tanpa menaikkan kadar gula darah. Namun, manfaat ini disertai kekhawatiran terhadap efek jangka panjang, khususnya bagi kesehatan otak.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanis buatan dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, yang berperan penting dalam kestabilan emosi dan fungsi kognitif. Selain itu, karena pemanis buatan sering ditemukan dalam makanan ultra-olahan, keberadaannya juga bisa menjadi indikator rendahnya kualitas nutrisi dalam makanan tersebut.
Mana yang Lebih Baik untuk Otak?
Hingga kini, belum ada pemanis yang benar-benar bebas risiko. Baik gula alami maupun pemanis buatan tetap harus dikonsumsi secara bijak. Para ahli menyarankan masyarakat untuk lebih mengandalkan karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian utuh, buah utuh, dan sayuran sebagai sumber energi utama bagi otak, ketimbang bergantung pada rasa manis instan.
Membatasi asupan gula tambahan dan pemanis buatan bisa menjadi langkah penting dalam menjaga kejernihan pikiran serta mendukung kesehatan otak di masa depan. (Boby)