Pendampingan Orang Tua dan Sekolah Jadi Penentu Masa Depan Anak

  • 24 Juli 2026
  • 25

Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli bukan sekadar agenda tahunan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh ruang yang aman untuk tumbuh, belajar, bermain, serta mengembangkan potensi terbaiknya.


Hak-hak tersebut tidak akan terwujud secara optimal apabila lingkungan di sekitar anak belum mampu memberikan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu, keberhasilan tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.


Teknologi dan Tantangan Pendampingan Anak


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak kini memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai informasi dan sumber belajar. Teknologi membuka peluang bagi mereka untuk mempelajari berbagai bidang, mulai dari desain, informatika, hingga materi edukatif lainnya.


Apabila dimanfaatkan secara tepat, teknologi mampu menjadi sarana yang mendorong kreativitas sekaligus meningkatkan kompetensi anak sejak usia dini. Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Akses yang terlalu bebas terhadap internet berpotensi membuat anak terpapar konten yang tidak sesuai dengan usianya dan mengalami kecanduan gawai.


Anak juga dapat kehilangan keseimbangan antara aktivitas belajar, bermain, dan berinteraksi secara langsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi harus selalu disertai pendampingan yang konsisten dari orang tua maupun guru agar anak mampu memanfaatkan media digital secara bijak.


Pada jenjang sekolah menengah pertama, salah satu tantangan yang paling sering ditemui adalah kemampuan anak dalam mengelola waktu. Tidak sedikit peserta didik yang menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan telepon genggam.


Akibatnya, kewajiban belajar, penyelesaian tugas sekolah, bahkan waktu istirahat dapat terabaikan. Apabila kebiasaan tersebut terus berlangsung tanpa pengawasan, dampaknya tidak hanya dirasakan pada penurunan prestasi akademik, tetapi juga terhadap perkembangan sosial dan pembentukan karakter anak.


Sinergi Orang Tua dan Sekolah


Karena itu, pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua memiliki peran yang sama pentingnya dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan antara guru dan orang tua menjadi kunci untuk memahami kebutuhan maupun perkembangan peserta didik.


Sering kali perilaku anak di rumah berbeda dengan saat berada di sekolah. Ada anak yang cenderung pendiam di rumah, tetapi aktif ketika berada di lingkungan sekolah. Begitu pula sebaliknya.


Melalui komunikasi yang baik, kedua belah pihak dapat saling melengkapi informasi mengenai anak. Dengan demikian, potensi anak dapat dikembangkan secara maksimal sesuai dengan kebutuhan dan karakternya.


Selain pencapaian akademik, pembentukan akhlak dan karakter merupakan fondasi utama dalam pendidikan. Prestasi yang tinggi tidak akan memiliki makna apabila tidak disertai sikap sopan santun, rasa hormat kepada orang lain, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi karakter yang melekat pada diri anak.


Pendampingan terhadap penggunaan media sosial juga menjadi perhatian penting. Meskipun anak-anak telah memasuki usia remaja, mereka tetap membutuhkan arahan dalam menentukan pilihan serta menyaring informasi yang diterima melalui dunia digital.


Di lingkungan sekolah, penggunaan telepon genggam harus diatur dengan mekanisme tertentu. Setiap peserta didik mengumpulkan ponsel saat datang ke sekolah dan mengambilnya kembali setelah kegiatan belajar selesai.


Apabila pembelajaran memerlukan penggunaan telepon genggam, guru memberikan pendampingan agar perangkat tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan belajar.


Lingkungan Positif untuk Membentuk Karakter


Peran masyarakat juga tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan karakter anak. Lingkungan tempat anak tumbuh akan membentuk cara berpikir, kebiasaan, hingga nilai-nilai yang mereka pegang.


Lingkungan yang positif akan mendorong anak berkembang menjadi pribadi yang berkarakter dan mampu mengoptimalkan potensinya. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi perilaku negatif, seperti penyalahgunaan minuman keras maupun penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab, berpotensi memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan anak.


Oleh sebab itu, menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.


Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak telah memiliki potensi dan bakat yang berbeda sejak lahir. Tugas orang dewasa bukan menentukan jalan hidup mereka, melainkan menyediakan ruang, kesempatan, serta dukungan agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.


Perhatian orang tua tidak cukup diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan materi semata. Anak juga membutuhkan kehadiran, kasih sayang, komunikasi, dan kedekatan emosional.


Dengan dukungan yang utuh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan. (Dini)


*) Dewi Sartika, S.Psi, Guru Bimbingan Konseling SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id