Percaya diri merupakan sikap positif yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perilaku percaya diri terkadang mudah disalahartikan sebagai narsistik, terutama ketika seseorang berani menunjukkan kemampuan, menyampaikan pendapat, atau membagikan pencapaian di media sosial.
Melansir Kompas.com, Narcissistic Personality Disorder (NPD) bukan sekadar rasa percaya diri yang tinggi. NPD merupakan gangguan kepribadian yang berkaitan dengan pola seseorang dalam memandang dirinya, kebutuhan untuk mendapatkan perhatian atau kekaguman, serta cara menjalin hubungan dengan orang lain.
Perbedaan antara percaya diri dan NPD dapat dilihat dari pola perilakunya. Seseorang yang percaya diri mampu menghargai kemampuan diri tanpa harus merendahkan orang lain. Sementara itu, NPD dapat ditandai dengan perasaan diri lebih penting, kebutuhan berlebihan untuk diakui, serta kesulitan memahami perasaan orang lain.
Dalam kehidupan mahasiswa, rasa percaya diri justru dapat membantu proses pengembangan diri. Berani presentasi, mengikuti lomba, aktif berorganisasi, atau menunjukkan hasil karya merupakan bentuk keberanian yang positif. Membagikan pencapaian juga tidak otomatis membuat seseorang dapat disebut mengalami NPD.
Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika perilaku tersebut muncul sebagai pola yang berulang dan berdampak pada hubungan sosial. NPD tidak dapat dikenali hanya dari satu atau dua kebiasaan. Seseorang yang senang dipuji, tampak percaya diri, atau aktif di media sosial tidak boleh langsung diberi label mengalami gangguan kepribadian.
Pemahaman ini penting agar istilah NPD tidak digunakan secara sembarangan dalam pergaulan sehari-hari. Memberi label kepada seseorang hanya karena dianggap egois, suka mencari perhatian, atau terlalu percaya diri dapat membuat pemahaman tentang kesehatan mental menjadi keliru.
Diagnosis NPD membutuhkan penilaian menyeluruh dari tenaga profesional. Karena itu, kondisi tersebut tidak seharusnya disimpulkan hanya berdasarkan pengamatan pribadi, potongan perilaku, atau unggahan media sosial yang hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan seseorang.
Bagi mahasiswa dan anak muda, mengenali perbedaan percaya diri dan NPD dapat membantu membangun lingkungan pergaulan yang lebih sehat. Percaya diri tetap perlu dikembangkan, sementara isu kesehatan mental harus dipahami secara hati-hati, berempati, dan sesuai konteks.
Pada akhirnya, percaya diri tidak selalu berarti narsistik. Menunjukkan kemampuan, bangga atas pencapaian, dan berani tampil adalah hal yang wajar selama tetap disertai empati, kerendahan hati, dan kemampuan menghargai orang lain. (Aura)