Sesar Aktif Surabaya, Warga Perlu Paham Mitigasi

  • 17 September 2026
  • 86

Isu sesar aktif di Surabaya kembali ramai dibahas setelah peta dan informasi mengenai jalur patahan beredar di media sosial. Warga diimbau tidak panik, tetapi tetap memahami risiko dan langkah mitigasi gempa. Dalam penjelasan BMKG terkait isu gempa Surabaya-Madura, wilayah Surabaya memang berada pada jalur zona sesar aktif, sehingga upaya mitigasi seperti bangunan tahan gempa, tata ruang berbasis peta rawan bencana, jalur evakuasi, dan edukasi masyarakat menjadi hal penting.




Berdasarkan pemutakhiran data geologi, Surabaya dilintasi dua segmen sesar yang banyak dibahas, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru. Informasi ini bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat, melainkan menjadi dasar untuk memahami potensi bahaya dan memperkuat kesiapsiagaan. Data PuSGeN 2024 yang dikutip sejumlah laporan menyebut Segmen Surabaya memiliki potensi magnitudo maksimum sekitar M6,7, sedangkan Segmen Waru sekitar M6,8.




Pakar geologi dan mitigasi bencana ITS, Amien Widodo, menyarankan agar pemerintah dan pihak terkait memperkuat pemantauan aktivitas sesar. Instrumen seperti GPS geodesi dapat digunakan untuk memantau pergeseran permukaan tanah, sedangkan seismograf membantu merekam aktivitas gempa mikro. Pemantauan tersebut penting agar perkembangan aktivitas sesar dapat dibaca secara lebih ilmiah dan menjadi dasar kebijakan mitigasi.




Di sisi masyarakat, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci. Saat terjadi gempa, langkah dasar yang dapat dilakukan adalah Drop, Cover, and Hold On: merunduk, berlindung di bawah meja atau benda kokoh sambil melindungi kepala dan leher, lalu berpegangan hingga guncangan berhenti. Panduan ini juga direkomendasikan USGS dan BNPB sebagai tindakan keselamatan saat berada di dalam ruangan ketika gempa terjadi.




Pemerintah Kota Surabaya bersama BPBD mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai sesar aktif perlu dipahami sebagai bagian dari edukasi kebencanaan, bukan alasan untuk menimbulkan kepanikan. Masyarakat disarankan memantau pembaruan dari kanal resmi seperti BMKG, BNPB, dan BPBD, sekaligus mulai mengenali jalur evakuasi, titik kumpul, serta kondisi bangunan di lingkungan masing-masing. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id