Untag Arch Week 2026 Soroti Peran Pohon dalam Keberlanjutan Kota

  • 07 September 2026
  • 13

Pohon di kawasan perkotaan tidak hanya berfungsi sebagai elemen penghijauan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, membentuk identitas kota, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rangkaian Untag Arch Week 2026.


Memasuki hari ketiga, Untag Arch Week 2026 menggelar Talkshow #3 bertajuk “Pemeliharaan Pohon Kota & Tinjauan Lapangan” pada Kamis, 3 September 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Untag Surabaya tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 6 Gedung R. Ing. Soekonjono Untag Surabaya.


Berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.30 WIB, talkshow diikuti mahasiswa Program Studi Arsitektur maupun mahasiswa umum. Kegiatan tersebut juga terbuka bagi siswa, masyarakat umum, serta anggota Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).


Talkshow #3 menghadirkan dua narasumber, yakni Medho Baskara, S.P., M.TA., IALI, Dosen Departemen Agronomi Universitas Brawijaya, serta Zwasty P. Romma, S.P., M.Ars., IALI, Founder Lanskap Indonesia. Keduanya membahas keberadaan pohon di kawasan perkotaan dari perspektif yang berbeda, mulai dari nilai sejarah dan memori masyarakat hingga pentingnya pengelolaan pohon sebagai bagian dari keberlanjutan kota.


Dalam pemaparannya, Medho Baskara mengangkat pembahasan mengenai pohon sebagai identitas kota dan memori kolektif warga. Keberadaan pohon di sebuah kota tidak hanya berkaitan dengan fungsi ekologis, tetapi juga dapat menyimpan nilai sejarah yang melekat pada pengalaman masyarakat dari generasi ke generasi.


Sejumlah pohon di berbagai kota di Indonesia memiliki karakteristik dan nilai yang memungkinkan untuk dikategorikan sebagai pohon pusaka atau pohon heritage. Namun, hingga saat ini Indonesia belum memiliki aturan khusus yang mengatur perlindungan pohon heritage.


“Kebetulan di Indonesia belum mempunyai aturan terkait pohon heritage atau dikenal sebagai pohon pusaka. Sebenarnya di banyak kota di Indonesia banyak sekali pohon-pohon yang mempunyai atau sudah bisa diberikan status sebagai pohon pusaka,” jelas Medho (3/9)


Persoalan perlindungan pohon bersejarah juga berkaitan dengan konsep cagar budaya yang selama ini lebih banyak mengatur benda mati. Sementara itu, pohon merupakan bagian hidup dari lingkungan yang juga dapat memiliki nilai sejarah.


“Di undang-undang cagar budaya yang dikenal sebagai cagar budaya hanya benda mati, jadi benda hidup itu belum masuk. Sehingga memang perlu ada sebuah upaya dari kita untuk bisa melindungi terutama pohon-pohon yang memang mempunyai nilai sejarah,” lanjutnya.


Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung menjadi sejumlah kota yang memiliki pohon dengan nilai lebih dari sekadar fungsi ekologis. Pengalaman masyarakat terhadap ruang hijau dapat membentuk keterikatan terhadap suatu tempat, kemudian berkembang menjadi memori bersama dan bagian dari identitas kota.


Sementara itu, Zwasty P. Romma membahas pentingnya melihat pohon bukan hanya dari aktivitas penanaman, tetapi juga dari bagaimana pohon dikelola sebagai bagian dari infrastruktur hijau kota. Pengelolaan tersebut membutuhkan sistem yang mencakup ketersediaan data dan informasi, sumber daya manusia serta operasional, hingga dukungan kebijakan dan anggaran.


Pengelolaan pohon yang tidak optimal dapat menimbulkan berbagai dampak bagi perkotaan, baik dari aspek keselamatan, ekologi, maupun kenyamanan dan ekonomi. Risiko pohon tumbang atau cabang patah, misalnya, dapat menyebabkan kerusakan aset hingga membahayakan keselamatan masyarakat.


Di sisi ekologis, berkurangnya pohon juga dapat berdampak pada keanekaragaman hayati, habitat satwa, serta kemampuan lingkungan dalam menyerap karbon.


“Secara fisiologis pohon membantu mendukung kualitas udara dengan fotosintesis, menyerap CO? dengan bantuan matahari dan menghasilkan oksigen,” ungkap Zwasty.


Fungsi pohon juga berkaitan dengan pengelolaan air hujan. Keberadaannya membantu menahan air sehingga tidak seluruhnya langsung mengalir ke permukaan tanah dan berpotensi menambah beban sistem drainase perkotaan.


“Pentingnya pohon, dia juga bisa menahan air hujan yang turun tidak langsung ke tanah. Karena jika langsung ke tanah dan bertumpuk bisa menyebabkan banjir,” jelasnya.


Keberadaan pohon juga mendukung keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat bagi burung dan berbagai satwa yang hidup di kawasan perkotaan.


“Dengan adanya pohon bisa menjadi tempat rumah buat burung, satwa-satwa yang mendukung keanekaragaman hayati dan memberikan tempat tinggal bagi hewan,” tambah Zwasty.


Melalui Talkshow “Pemeliharaan Pohon Kota & Tinjauan Lapangan” Untag Arch Week 2026 mengajak peserta melihat pohon sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan kota. Pembahasan tersebut mempertemukan aspek sejarah, sosial, ekologis, dan pengelolaan dalam memahami keberadaan pohon di kawasan perkotaan. (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id