Banjir Tak Akan Berhenti Selama Hutan Terus Ditebang

  • 15 Desember 2025
  • 2910

Banyak yang mengira banjir semata-mata disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks. Tanah kita akan kehilangan kemampuan menyerap air ketika hutan, yang seharusnya menjadi pelindung pertama, mengalami kerusakan akibat penebangan yang tidak terkendali. Ketika fungsi hutan melemah, seluruh sistem alam yang bekerja mengatur siklus air ikut terganggu.


Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), saya melihat bencana banjir yang terjadi belakangan ini bukan sekadar peristiwa alam yang muncul begitu saja. Dari sudut pandang IPA, banjir merupakan konsekuensi panjang dari kesalahan manusia dalam mengelola lingkungannya. 


Jika Hutan Rusak, Daya Serap Tanah Otomoatis Melemah


Dalam ilmu alam, peran hutan bukan hanya sekadar tempat tumbuhnya pohon. Akar-akar pohon besar bekerja seperti spons yang menyimpan air, menahan tanah, dan mengatur alirannya. Ketika pohon ditebang, hilang pula kekuatan akar yang mampu menjaga keseimbangan air dalam tanah. 


Akibatnya, air hujan tidak lagi meresap, tetapi langsung mengalir deras ke sungai. Sungai yang sudah dipenuhi limbah dan sedimentasi tak lagi mampu menampung debit air yang meluap, sehingga banjir tak terhindarkan. Inilah penjelasan ilmiah yang paling sederhana, namun paling sering diabaikan.


Sawit Bukan Pengganti Ekosistem Hutan


Sayangnya, alih fungsi hutan menjadi perkebunan seperti sawit semakin memperburuk keadaan. Banyak orang mengira sawit dapat menggantikan fungsi hutan, padahal secara ekologis keduanya sangat berbeda.  


Akar kelapa sawit adalah akar serabut yang tidak mampu menyimpan air sebagaimana akar pohon-pohon hutan alami. Sawit memang menyerap banyak air, tetapi tidak menyimpannya. Akibatnya, tanah di kebun sawit lebih cepat tergerus, mudah hanyut, dan tidak memiliki struktur pengikat yang kuat. Padahal di hutan, akar pohon menyambung dan mengikat tanah satu sama lain, sehingga tidak mudah longsor atau terkikis aliran permukaan. 


Oleh karena itu, menggantikan hutan dengan sawit justru meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor secara signifikan. Alih fungsi ini juga memicu kerusakan ekosistem yang lebih luas. 


Satwa Kehilangan Habitat


Bencana bukan hanya manusia yang dirugikan. Hutan menyediakan habitat bagi beragam hewan dan tumbuhan, dari berbagai jenis burung hingga satwa besar seperti orang utan dan gajah. Ketika hutan hilang, fauna tersebut kehilangan rumahnya dan terpaksa berpindah ke wilayah permukiman manusia. 


Kita sering mendengar kasus kebun masyarakat dirusak hewan liar atau hewan masuk ke pemukiman, semua itu bermula dari hilangnya habitat alami mereka. Ekosistem yang dulu seimbang berubah menjadi rentan, dan kita sendiri akhirnya terkena dampaknya.


Pendidikan Lingkungan Menghadapi Tantangan di Kota


Sebagai pendidik, saya merasakan langsung tantangan dalam menanamkan pemahaman ini kepada siswa. Hutan adalah laboratorium alam yang luar biasa, namun di kota seperti Surabaya, ruang belajar untuk mengenalkan tumbuhan besar, struktur akar, atau ekosistem hutan sangat terbatas. 


Jika berada di desa, saya bisa mengajak siswa menanam pohon dan memantau pertumbuhannya beberapa tahun kemudian. Tetapi di kota, kegiatan praktik itu sulit dilakukan. Karena itu, saya berusaha mengajarkan pentingnya menjaga hutan melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka, mengurangi penggunaan kertas, menghemat tisu, menggunakan bahan bangunan alternatif yang tidak bergantung pada kayu, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap produk yang mereka gunakan punya jejak ekologis.


Aksi Kecil demi Masa Depan Lingkungan


Untuk generasi sekarang, langkah sederhana sebenarnya sudah bisa dimulai dari rumah, memilah sampah, tidak membuang sampah ke drainase, menghemat air, dan ikut menjaga tanaman yang ada di lingkungan mereka.  Tindakan sederhana ini, bila dilakukan bersama-sama, memberikan dampak besar. Lingkungan tidak pernah membutuhkan tindakan heroik, ia hanya membutuhkan konsistensi.


Melihat bencana yang berulang, saya ingin mengajak masyarakat dan juga pemerintah untuk lebih serius menjaga hutan dan tata ruang. Penebangan liar harus ditindak tegas, dan keputusan alih fungsi lahan harus dipertimbangkan secara ilmiah, bukan hanya ekonomis. 


Hutan adalah harta bumi yang tidak dapat diganti begitu saja. Kerusakan yang kita biarkan hari ini mungkin belum terasa berat bagi kita sekarang, tetapi akan menjadi beban besar bagi anak dan cucu kita di masa depan. Karena itu, menjaga hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal keberlanjutan hidup. Semoga langkah kecil kita hari ini bisa menjadi penyelamat bagi generasi yang datang kemudian. (Boby)


*) Ida Nursanti S.Pd, Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\