Fotografer dan jurnalis Trisnadi Marjan, S.I.Kom., menekankan pentingnya kemampuan bercerita melalui detail-detail sederhana dalam fotografi jurnalistik. Menurutnya, sebuah foto tidak selalu harus menampilkan keseluruhan peristiwa untuk menyampaikan pesan kepada publik.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Seminar Fotografi Jurnalistik bertajuk “Wajah Pancasila di Era Nasionalisme Modern” yang diselenggarakan Warta 17 Agustus di Lantai 6 Gedung R. Ing. Soekonjono, Kamis (11/6).
Trisnadi menjelaskan bahwa fotografi jurnalistik tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi suatu peristiwa. Seorang fotografer juga dituntut mampu membangun visual storytelling agar pesan yang terkandung dalam sebuah kejadian dapat tersampaikan kepada publik secara efektif.
“Foto jurnalistik itu tidak harus melulu kegiatannya difoto, bisa melalui potongan-potongan foto saja yang bisa tersirat,” ujarnya (11/6)
Ia menegaskan bahwa kualitas foto jurnalistik tidak ditentukan oleh mahalnya peralatan yang digunakan. Menurutnya, ketajaman pengamatan, insting, dan kemampuan membaca momen menjadi faktor yang lebih penting dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai berita.
Dengan kepekaan tersebut, fotografer dapat menemukan sudut pandang yang mampu mengubah detail sederhana menjadi cerita yang bermakna bagi publik. Untuk memperjelas pemaparannya, Trisnadi membeberkan sejumlah karya foto hasil liputannya di berbagai peristiwa, mulai dari bencana alam hingga aksi demonstrasi.
“Objek sederhana seperti sepasang sandal, tangan korban, atau ekspresi seseorang dapat menjadi simbol yang mewakili sebuah peristiwa besar apabila didukung dengan konteks dan keterangan foto yang tepat,” jelas fotografer senior tersebut
Ia mencontohkan bahwa foto sebuah sandal yang tertutup abu vulkanik dapat menggambarkan dampak letusan gunung berapi tanpa harus menampilkan keseluruhan lokasi bencana. Demikian pula dengan foto tangan korban atau detail-detail kecil lainnya yang mampu menghadirkan sisi kemanusiaan dalam sebuah peristiwa.
Bagi Trisnadi, kemampuan melihat cerita di balik detail merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki fotografer jurnalistik. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk terus melatih kepekaan visual agar mampu menangkap momen yang bermakna dan tidak hanya berfokus pada dokumentasi peristiwa secara utuh.
Melalui pendekatan visual storytelling tersebut, fotografi jurnalistik tidak hanya menjadi alat dokumentasi, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan sosial, kemanusiaan, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. (Dini)