Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia kerja. Banyak perusahaan mulai memanfaatkan teknologi ini untuk mempercepat proses bisnis, meningkatkan efisiensi, dan menekan biaya operasional. Namun, dalam praktiknya, penggunaan AI tidak selalu berjalan semulus yang dibayangkan. Di sejumlah sektor, keputusan mengganti peran manusia dengan sistem otomatis justru memunculkan persoalan baru, mulai dari biaya teknologi yang tinggi hingga menurunnya kualitas layanan.

Fenomena tersebut terlihat dari munculnya istilah “bumerang PHK AI”, yakni kondisi ketika perusahaan yang semula memangkas karyawan demi menerapkan AI akhirnya harus mengevaluasi kembali keputusan tersebut. Dalam infografis disebutkan, 55 persen eksekutif bisnis mengaku menyesal setelah melakukan pengurangan tenaga kerja karena implementasi AI. Harapan awal untuk memangkas biaya secara signifikan ternyata tidak selalu tercapai, sebab penggunaan AI membutuhkan investasi besar pada lisensi, server cloud, infrastruktur komputasi, hingga pemeliharaan sistem.

Selain faktor biaya, tantangan lain muncul pada kualitas layanan. Penggunaan AI secara agresif berisiko menimbulkan kesalahan informasi atau yang dikenal sebagai halusinasi AI. Dalam beberapa kasus, sistem otomatis dinilai belum mampu menangani keluhan pelanggan yang kompleks karena kurang memiliki empati dan pemahaman konteks seperti manusia. Sejumlah proyek otomatisasi pun akhirnya dihentikan, termasuk layanan drive-thru berbasis AI McDonald’s yang sempat menuai sorotan karena dinilai mengacaukan pesanan pelanggan.

Melihat berbagai kendala tersebut, sejumlah perusahaan mulai mengubah cara pandang terhadap AI. Teknologi ini tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai alat bantu untuk memperkuat kinerja pekerja. Pendekatan human-in-the-loop atau keterlibatan manusia dalam proses kerja AI menjadi semakin relevan. Melalui pendekatan ini, manusia tetap berperan dalam mengawasi, mengoreksi, memvalidasi, serta menangani pekerjaan yang membutuhkan empati, kreativitas, dan penilaian etis.

Pada akhirnya, pemanfaatan AI yang ideal bukanlah tentang menghilangkan peran manusia, melainkan membangun kolaborasi yang lebih seimbang antara teknologi dan tenaga kerja. Seperti pandangan Prof. Karim Lakhani dari Harvard Business School, AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu menggunakan AI akan memiliki keunggulan dibanding mereka yang tidak beradaptasi. Karena itu, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan manusia untuk terus belajar, beradaptasi, dan menggunakan AI secara bijak. (IVN)