Daffa Fahrezzy, Dalang Muda yang Menjaga Wayang Tetap Hidup di Era Gen Z

  • 20 Oktober 2026
  • 10

Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober 2026 menjadi pengingat pentingnya melestarikan budaya Indonesia. Daffa Dwi Fahrezzy, mahasiswa semester 7 Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, menjadi salah satu generasi muda yang menjaga tradisi tersebut melalui dunia pedalangan.


Selain menjadi dalang wayang kulit, Daffa juga berprofesi sebagai pambiwara, yakni pembawa acara berbahasa Jawa dalam pernikahan dan berbagai acara adat. Ketertarikannya terhadap dunia pedalangan mulai tumbuh sejak duduk di bangku kelas XII SMA. Menjadi dalang bukanlah sesuatu yang sejak awal direncanakan, tetapi inspirasi dari para dalang senior, dukungan keluarga, dan lingkungan sekitar membuatnya semakin mencintai kesenian tradisional.


Kakeknya yang aktif dalam kegiatan kebudayaan turut menumbuhkan kecintaan tersebut. Sang kakek memiliki gamelan dan wayang serta berharap ada anggota keluarga yang meneruskan tradisi itu.


Salah satu sosok yang menginspirasi Daffa adalah Ki Seno Nugroho. Cara Ki Seno membawakan tokoh-tokoh wayang dengan humor membuat pertunjukan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menarik perhatian penonton muda. Pemanfaatan YouTube dan media sosial melalui potongan video berdurasi singkat juga menunjukkan bahwa wayang dapat diperkenalkan dengan cara yang relevan bagi generasi sekarang.


Dari pengalaman tersebut, Daffa melihat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Menurutnya, penyampaian yang menarik dapat membuat wayang lebih mudah diterima.


“Dari situ, saya mulai berpikir bahwa wayang kulit ternyata bisa dinikmati dengan santai, lucu, dan menyenangkan.” Ujarnya (17/10)


Meski demikian, kecintaan terhadap budaya tidak seharusnya berhenti pada kekaguman terhadap sosok senimannya. Pesan Ki Manteb Sudarsono menjadi salah satu prinsip yang dipegang Daffa, yakni mencintai wayang itu sendiri, bukan hanya dalangnya. Dengan begitu, apresiasi terhadap kesenian tradisional dapat terus tumbuh meskipun sosok yang membawakannya berganti.


Di lingkungan kampus, Daffa turut mengenal pelestarian budaya melalui Komunitas Karawitan Untag Surabaya. Komunitas ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan terlibat langsung dalam kesenian tradisional.


Komunitas tersebut rutin mengadakan klenengan dan pertunjukan wayang secara berkala. Gamelan juga kerap mengiringi acara wisuda, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk ikut menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.


Menekuni pedalangan di tengah kesibukan kuliah membutuhkan pengaturan waktu. Daffa biasanya menjadwalkan pertunjukan pada akhir pekan atau Jumat malam agar kegiatan akademik tetap menjadi prioritas. Baginya, menjadi dalang merupakan bentuk kecintaan terhadap budaya, sedangkan penghasilan dari pertunjukan menjadi bonus.


Keterlibatan dalam pertunjukan juga memberikan penghasilan bagi kru dan penabuh gamelan. Dengan demikian, kegiatan pedalangan tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.


Lebih dari sekadar hiburan, wayang kulit dapat menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan kritik sosial. Pesan disampaikan melalui cerita, dialog, maupun karakter yang dimainkan. Tokoh seperti Prabu Duryudana dan Prabu Yudhistira dapat digunakan untuk mengangkat persoalan kehidupan masyarakat dan kepemimpinan.


Salah satu unsur yang memperkuat penyampaian pesan dalam wayang adalah suluk, yaitu lantunan dalang untuk membangun suasana dan menggambarkan keadaan dalam cerita. Melalui suluk, persoalan sebuah negeri yang mengalami kemunduran akibat pemimpin yang tidak menjalankan pemerintahan dengan baik dapat disampaikan.


Hal tersebut menunjukkan bahwa wayang tidak hanya berkisah tentang masa lampau, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk merenungkan persoalan masa kini. Cerita dan simbol yang digunakan memungkinkan kritik sosial disampaikan melalui pendekatan budaya.


Kekayaan bahasa juga menjadi bagian penting dalam pertunjukan wayang. Penggunaan bahasa Jawa sehari-hari, krama inggil, hingga bahasa Kawi merupakan warisan yang perlu dipelajari. Mengenal wayang berarti tidak hanya memahami jalan ceritanya, tetapi juga mempelajari bahasa, nilai, dan pesan yang terkandung di dalamnya.


Bagi Daffa, pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab generasi yang lebih tua. Generasi muda juga memiliki kesempatan untuk terlibat dan meneruskan tradisi melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.


“Kita harus menunjukkan bahwa kebudayaan tidak harus selalu dilestarikan oleh orang-orang yang sudah sepuh. Generasi muda juga mampu menjadi pelestari kebudayaan Indonesia.” tuturnya


Budaya tradisional akan terus hidup selama ada generasi yang bersedia mengenal dan meneruskannya. Melalui pedalangan, karawitan, dan peran dalam kegiatan adat, Daffa menunjukkan bahwa menjaga budaya dapat dimulai dari keterlibatan nyata agar kesenian tradisional tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id