Kegagalan menjadi tentara tidak membuat dr. Poerwadi, Sp.B., Sp.BA(K), berhenti mencari jalan hidup. Justru dari titik itulah, ia menemukan panggilan pengabdian di dunia kedokteran. Perjalanan panjang dari keluarga sederhana di Bojonegoro, pengabdian di daerah terpencil, hingga dunia akademik kini membawanya menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Poerwadi lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, pada 20 April 1949. Ia merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Tumbuh dalam keluarga sederhana, ia terbiasa membantu orang tua dan memikul tanggung jawab sejak kecil. Ayahnya merupakan mantan pejuang yang bekerja dengan penghasilan terbatas, tetapi tetap berupaya menyekolahkan anak-anaknya.
Sejak muda, cita-cita Poerwadi sebenarnya bukan menjadi dokter. Ia ingin menjadi tentara dan sempat mendaftar ke Akademi Angkatan Laut. Namun, harapan itu pupus setelah ia dinyatakan tidak memenuhi persyaratan seleksi. Kegagalan tersebut kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya.
Ajakan seorang teman membawanya ke Surabaya untuk mendaftar perguruan tinggi. Saat berada di Universitas Airlangga, ia melihat berbagai pilihan fakultas. Dengan biaya terbatas dan hanya mampu memilih satu pilihan, Poerwadi akhirnya mendaftar ke Fakultas Kedokteran. Keputusan yang semula tidak direncanakan itu menjadi awal perjalanan panjangnya di dunia medis.
Masa kuliah dijalani dengan penuh keterbatasan. Jauh dari keluarga, Poerwadi pernah tinggal di musala karena belum memiliki tempat tinggal. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, ia hanya mampu membeli nasi putih dengan sayur sederhana dan kerupuk putih.
Biaya kuliah yang saat itu sekitar Rp3.000 juga terasa berat bagi keluarganya. Ia pernah memohon kepada pihak kampus agar pembayaran dapat diangsur karena ayahnya tidak mampu membayar sekaligus. Di tengah kondisi tersebut, Poerwadi memilih bertahan dan terus menyelesaikan pendidikannya.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 19 Desember 1974. Setelah lulus, tantangan baru menantinya melalui penugasan pemerintah sebagai dokter di daerah terpencil di Sulawesi Tengah.
Saat pertama kali tiba, kondisi puskesmas tempatnya bertugas jauh dari memadai. Fasilitas terbatas, akses sulit, dan sarana pelayanan kesehatan belum layak digunakan. Alih-alih menyerah, Poerwadi mengajak pegawai bergotong royong membersihkan puskesmas, membuat sumur, memperbaiki ruangan, hingga meminta bantuan camat menyediakan meja, kursi, dan tempat tidur.
Salah satu pengalaman paling membekas terjadi ketika ia harus menangani persalinan darurat seorang ibu yang tidak dapat melahirkan secara normal. Tanpa ruang operasi, meja operasi, dan peralatan bedah yang memadai, ia mengambil keputusan melakukan operasi sesar dengan alat seadanya demi menyelamatkan ibu dan bayinya.
Tindakan tersebut berhasil menyelamatkan keduanya. Bayi yang ditolong dalam kondisi darurat itu kemudian tumbuh dewasa dan menjalani profesi sebagai hakim. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Poerwadi bahwa dokter bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian kepada kemanusiaan.
Bekerja dalam keterbatasan mengajarkannya bahwa seorang dokter harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan bertanggung jawab. Setiap tindakan medis, menurutnya, selalu berkaitan dengan keselamatan manusia sehingga membutuhkan pengetahuan, ketelitian, keberanian, dan rasa kemanusiaan.
Setelah menyelesaikan masa pengabdian, Poerwadi bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis. Kendala ekonomi kembali menjadi hambatan. Ia kemudian bekerja terlebih dahulu di salah satu rumah sakit di Magetan untuk mengumpulkan biaya pendidikan.
Upaya tersebut membuka jalan baginya untuk menyelesaikan pendidikan spesialis bedah dan kemudian mendalami bidang bedah anak. Kesempatan belajar juga membawanya mengikuti pendidikan dan pengembangan keilmuan di Belanda maupun Jepang.
Perjalanan akademiknya terus berkembang. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter pada 1974, Poerwadi menyelesaikan pendidikan S2 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 26 Agustus 1986. Ia kemudian menempuh pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1998. Pada 2021, ia juga tercatat mengikuti Kolegium Bedah Anak Indonesia dalam bidang Bedah Digestif Anak.
Pengabdiannya kemudian berlanjut di dunia akademik sebagai dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selama puluhan tahun mengajar, ia membimbing banyak mahasiswa kedokteran. Sebagian dari muridnya kemudian berkembang menjadi profesor, dekan, hingga pemimpin institusi kesehatan di Indonesia.
Bagi Poerwadi, keberhasilan seorang pendidik tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi. Melihat mahasiswa yang pernah dibimbingnya berhasil menempuh karier di dunia kedokteran menjadi kebanggaan tersendiri dalam perjalanan akademiknya.
Dalam perjalanan karier, Poerwadi beberapa kali ditawari jabatan strategis sebagai direktur rumah sakit. Namun, tawaran itu sempat ia tolak karena merasa lebih dekat dengan pelayanan medis dan pasien. Baginya, menjadi dokter tetap menjadi bagian penting dari pengabdian yang ingin terus dijalani.
Setelah pensiun dari Universitas Airlangga, Poerwadi tidak benar-benar meninggalkan dunia kedokteran. Ia tetap mengajar, menjadi penguji dokter spesialis, dan terlibat dalam pendidikan kedokteran. Semangat sebagai pembelajar dan pendidik terus ia bawa hingga kemudian bergabung dengan Untag Surabaya.
Ajakan untuk membantu membangun Fakultas Kedokteran Untag Surabaya awalnya menjadi hal baru baginya. Namun, ketika mendengar visi untuk ikut mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan kedokteran, ia menerima amanah tersebut. Kini, sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, Poerwadi melanjutkan pengabdiannya dengan menyiapkan generasi dokter baru yang berkompeten, berkarakter, dan memiliki kepekaan kemanusiaan.
Dari anak sulung keluarga sederhana di Bojonegoro, Poerwadi tumbuh menjadi dokter, spesialis bedah anak, dokter pendidik klinis, akademisi, hingga pemimpin institusi pendidikan kedokteran. Kegagalan menjadi tentara justru membuka jalan pengabdian lain yang ia jalani hampir sepanjang hidupnya.
Perjalanan Poerwadi menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Dari ruang puskesmas di daerah terpencil, ruang operasi, ruang kuliah, hingga ruang kepemimpinan fakultas, benang merah pengabdiannya tetap sama: belajar, melayani, dan memberi manfaat bagi orang lain. (Dini)