Kemudahan menggunakan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari membuat teks, mencari ide, hingga menghasilkan gambar. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada kebutuhan infrastruktur digital yang tidak kecil. Data center yang menjalankan layanan AI membutuhkan listrik dan sistem pendingin agar server tetap bekerja stabil, termasuk penggunaan air pada fasilitas yang memakai pendinginan berbasis evaporasi.

Isu konsumsi air oleh data center menjadi perhatian karena kebutuhan komputasi AI terus meningkat. United Nations University memperkirakan jejak air terkait konsumsi listrik data center AI dapat mencapai 9,3 triliun liter pada 2030. Angka itu disebut setara dengan kebutuhan dasar tahunan air domestik bagi 1,3 miliar penduduk di Afrika Sub-Sahara. Meski demikian, konsumsi air AI tidak bisa disamaratakan pada setiap prompt karena sangat bergantung pada jenis layanan, ukuran model, lokasi data center, sumber energi, dan teknologi pendingin yang digunakan.

Pada data center tertentu, air digunakan untuk membantu proses pendinginan server yang menghasilkan panas tinggi. Environmental and Energy Study Institute mencatat, data center berukuran menengah dapat menggunakan hingga sekitar 110 juta galon air per tahun untuk pendinginan, setara dengan pemakaian air tahunan sekitar 1.000 rumah tangga. Karena itu, pembangunan data center di wilayah dengan tekanan air tinggi atau rawan kekeringan perlu memperhitungkan keseimbangan antara kebutuhan industri digital dan kebutuhan masyarakat.

Kekhawatiran serupa juga muncul di Indonesia, terutama pada wilayah kepulauan yang mengandalkan waduk tadah hujan seperti Batam. Jika kemarau panjang terjadi, pertanyaan mengenai prioritas penggunaan air menjadi semakin penting: apakah untuk kebutuhan warga, industri, atau operasional infrastruktur digital. Dalam konteks ini, pembahasan mengenai AI tidak cukup berhenti pada kecanggihan teknologi, tetapi juga perlu menyentuh dampak sumber daya yang menyertainya.

Direktur Direktorat Sistem Informasi YPTA Surabaya, Eko Halim Santoso, M.Kom., mengingatkan pentingnya literasi AI yang tidak hanya berfokus pada cara penggunaan, tetapi juga pemahaman terhadap batasan dan konsekuensinya.
“Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga kapan AI layak digunakan, apa keterbatasannya, bagaimana memverifikasi hasilnya, serta apa konsekuensi dari penggunaannya,” ujarnya. Dengan pemahaman tersebut, penggunaan AI di lingkungan akademik diharapkan berjalan lebih bijak, efisien, dan bertanggung jawab. (Ivan)