Kesadaran terhadap isu kekerasan seksual di lingkungan kampus terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk mahasiswa. Meningkatnya kasus yang ramai diperbincangkan di ruang publik mendorong pentingnya ruang diskusi yang aman untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka dan kritis.
Menanggapi kondisi tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fordimapelar Untag Surabaya menggelar forum diskusi bertajuk “Nalar Time Episode 2” pada (29/4/26) di Selasar Plasa Proklamasi Lt.1, Graha Wiyata Untag Surabaya. Kegiatan ini mengangkat tema darurat kekerasan seksual di kalangan mahasiswa sebagai respons atas meningkatnya pemberitaan kasus kekerasan seksual di lingkungan mahasiswa.
Diskusi yang dikemas dalam bentuk forum group discussion (FGD) ini merupakan agenda rutin UKM Fordimapelar yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali. Wakil Ketua Divisi Penalaran UKM Fordimapelar Untag Surabaya, Anetta Prameswari Sholihati, menjelaskan bahwa pemilihan tema disesuaikan dengan isu yang sedang marak diperbincangkan di ruang publik.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menghentikan normalisasi diamnya korban dan arogansi pelaku. Mahasiswa memiliki kapasitas berpikir kritis, sehingga diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mengubah pola pikir tersebut,” ujar Anetta (29/4)
Hadir sebagai pemateri, Ricky Alejandro Martin, S.Psi., Psikolog, dari tim penanganan Pusat Layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PL-PPKPT) Surabaya. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa stigma sosial menjadi salah satu faktor utama yang membuat korban enggan melapor. Perbedaan perlakuan terhadap korban perempuan dan laki-laki kerap memicu rasa malu serta tekanan psikologis.
Ricky menambahkan, kecenderungan korban untuk menyalahkan diri sendiri juga tidak terlepas dari sikap masyarakat yang masih sering menghakimi. Hal ini dinilai semakin memperkuat budaya diam dalam kasus kekerasan seksual.
“Peran kita adalah tidak menormalisasikan kekerasan seksual dan tidak menyalahkan korban. Lingkungan yang suportif sangat penting agar korban berani berbicara,” jelasnya.
Dari sisi pelaku, Ricky menyoroti adanya kesalahan persepsi mengenai relasi, khususnya dalam hubungan pacaran. Anggapan bahwa pasangan merupakan “milik” kerap dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan. Kondisi tersebut, menurutnya, berkaitan dengan minimnya edukasi seks serta kegagalan pemahaman peran gender sejak dini.
Suasana diskusi semakin interaktif ketika peserta menyoroti fenomena candaan yang mengarah pada kekerasan seksual di lingkungan pertemanan. Beberapa peserta turut membagikan pengalaman yang kemudian ditanggapi langsung oleh pemateri.
Menanggapi hal tersebut, Ricky menegaskan pentingnya keberanian untuk tidak diam, termasuk ketika menemukan candaan yang berpotensi mengarah pada kekerasan seksual. Sikap diam, menurutnya, dapat dimaknai sebagai bentuk pembiaran.
“Ketika kita melihat kekerasan secara langsung kita harus berani untuk menghentikan dengan teguran, termasuk di grup guyon sekalipun seperti yang sedang ramai akhir-akhir ini. Ketika kita hanya diam dan tidak menghentikan, kita juga mengambil alih dalam kejadian tersebut,” tegas Dosen Psikologi tersebut
Sebagai upaya pencegahan, Ricky juga menekankan pentingnya keberanian korban untuk bersuara. Salah satu hal yang paling ditakuti pelaku adalah ketika korban mulai speak up, karena hal tersebut dapat mendorong korban lain untuk melakukan hal serupa.
Lewat forum ini, UKM Fordimapelar ingin mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif mahasiswa bahwa pencegahan kekerasan seksual tidak hanya bergantung pada korban untuk bersuara, tetapi juga pada keberanian lingkungan sekitar untuk tidak tinggal diam. (Dini)