Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, selama ini lekat dengan cerita pesugihan. Berbagai kisah mengenai ritual yang dipercaya dapat mendatangkan kekayaan membuat kawasan tersebut dikenal luas melalui sisi mistisnya. Padahal, Gunung Kawi memiliki perjalanan sejarah panjang yang membentuknya sebagai kawasan wisata religi sekaligus ruang pertemuan berbagai budaya.
Dilansir dari Kompas.com, kawasan Gunung Kawi pada awalnya berupa hutan yang dibuka pada abad ke-19. Perkembangannya berkaitan erat dengan keberadaan Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono. Dari kawasan yang semula berupa hutan, wilayah tersebut kemudian tumbuh menjadi permukiman dan tempat ziarah yang mempertemukan tradisi Jawa, Islam, dan Tionghoa.
Awal Terbentuknya Desa Wonosari
Sejarah perubahan kawasan lereng Gunung Kawi bermula setelah Eyang Djoego wafat pada 22 Januari 1871. R.M. Iman Soedjono, yang merupakan murid sekaligus putra angkatnya, kemudian menjalankan wasiat sang guru dengan membuka kawasan tersebut untuk pemakaman dan permukiman.
Pembukaan hutan itu menjadi awal terbentuknya Desa Wonosari. Sejumlah pengikut Eyang Djoego menetap di wilayah tersebut. Warga keturunan Tionghoa juga turut menjadi bagian dari para perintis dan kemudian membentuk komunitas Tionghoa pertama di kawasan Gunung Kawi.
Dua Tokoh di Balik Tradisi Ziarah
Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono kemudian dimakamkan di kawasan tersebut. Eyang Djoego dikenal sebagai penasihat spiritual Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa pada 1825–1830. Adapun R.M. Iman Soedjono, selain menjadi murid dan putra angkatnya, turut berjuang sebagai senopati dalam perang tersebut.
Keterlibatan keduanya dalam penyebaran ajaran Islam dan kehidupan sosial membuat makam mereka dihormati masyarakat. Kompleks Pesarean Gunung Kawi pun berkembang sebagai tujuan ziarah yang didatangi masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa maupun wilayah lain di Indonesia.
Ketika Tiga Budaya Hidup Berdampingan
Keunikan Gunung Kawi tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada pertemuan budaya yang berlangsung di kawasan tersebut. Masjid Agung R.M. Iman Soedjono berdiri berdampingan dengan Klenteng Dewi Kwan Im.
Di ruang yang sama, tradisi Jawa, Islam, dan Tionghoa hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun budaya. Sebagian peziarah Tionghoa masih menjalankan tradisi ciamsi. Sementara itu, pujian menjelang salat berjamaah menggunakan syair berbahasa Arab yang dibawakan dengan langgam musik khas Tionghoa.
Perpaduan tersebut menjadi bentuk akulturasi yang masih bertahan hingga kini. Keberadaan tiga tradisi dalam satu kawasan menjadikan Gunung Kawi memiliki karakter budaya yang khas dibandingkan sejumlah kawasan ziarah lainnya.
Mitos Pesugihan yang Membentuk Citra Kawasan
Dalam perkembangannya, Gunung Kawi semakin dikenal melalui berbagai cerita tentang pesugihan. Kisah mengenai pohon dewandaru, air kendi, hingga ritual tertentu menyebar dari mulut ke mulut dan kemudian membentuk citra kawasan tersebut di tengah masyarakat.
Namun, pengelola kawasan dan sejumlah sejarawan menilai bahwa tradisi ziarah di Gunung Kawi pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan kepada Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono. Mitos pesugihan dipandang sebagai kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat, bukan tujuan utama seluruh peziarah.
Dari Kawasan Ziarah Menjadi Wisata Religi
Pada 2002, Pemerintah Kabupaten Malang menetapkan Wonosari sebagai Desa Wisata Ritual Gunung Kawi. Pengelolaan kompleks pesarean berada di bawah Yayasan Ngesti Gondo yang didirikan oleh ahli waris R.M. Iman Soedjono.
Yayasan tersebut bertanggung jawab atas pemeliharaan kompleks pesarean, tata cara ziarah, hingga pelaksanaan berbagai tradisi tahunan. Salah satunya Gebyar Ritual 1 Suro yang digelar setiap malam Tahun Baru Jawa.
Rangkaian tersebut memadukan unsur budaya Jawa, Islam, dan Tionghoa melalui kirab jolen berisi hasil bumi, pertunjukan reog Ponorogo, barongsai, rebana, hingga doa bersama yang diikuti ribuan peziarah.
Di luar musim ritual, Gunung Kawi tetap menjadi tujuan wisata. Pengunjung dapat berziarah, melihat bangunan bersejarah, menikmati kuliner khas seperti lupis, ubi manis, dan kopi lokal, serta menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang sesekali digelar masyarakat setempat.
Di balik mitos yang telanjur melekat, Gunung Kawi menyimpan jejak sejarah tentang pembukaan kawasan, penghormatan terhadap dua tokoh, serta perjumpaan tradisi Jawa, Islam, dan Tionghoa. Warisan tersebut menjadikan kawasan di lereng pegunungan Malang ini tidak hanya menarik dari sisi cerita mistis, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang terus hidup hingga kini.
Reporter