Ketua YPTA Surabaya Ungkap Trik Jadi Pemimpin Mulai dari Organisasi Mahasiswa

  • 30 Januari 2026
  • 1897

Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., menegaskan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi sejak bangku kuliah memiliki peluang lebih besar menjadi pemimpin di masa depan. Pernyataan ini disampaikannya saat motivation speech dalam momen Pelantikan Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Untag Surabaya 2026.


Menurut J. Subekti, aktivisme mahasiswa bukan sekadar aktivitas tambahan di luar akademik, melainkan ruang untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kemampuan sosial yang tidak diperoleh di ruang kelas.


“Pengalaman membuktikan bahwa para mahasiswa di Indonesia itu akan menjadi pemimpin apabila ketika masih kuliah adalah aktivis-aktivis mahasiswa. Ini fakta,” tegasnya (28/1)


Ia menjelaskan bahwa organisasi kemahasiswaan terbagi dalam dua bentuk utama yaitu organisasi intra-universitas, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta organisasi ekstra-universitas, yang dikenal melalui kelompok Cipayung Plus, seperti HMI, PMII, GMNI, PMRI, hingga GMKI. Meski berbeda struktur dan lingkup, keduanya memiliki semangat yang sama.


“Dua bentuk organisasi kemahasiswaan ini sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberikan latihan, keterampilan, dan bekal agar mahasiswa siap ketika terjun di masyarakat,” ujarnya.


Lebih lanjut, J. Subekti menyebut BEM dan UKM sebagai “embrio” kepemimpinan, yang akan melahirkan pemimpin masa depan dari kawah candradimuka Untag Surabaya. Ia menekankan, perbedaan antara mahasiswa yang hanya fokus kuliah dan mahasiswa yang aktif berorganisasi sangat signifikan, terutama dalam cara berpikir dan menyelesaikan masalah.


Ia kemudian membagikan pengalaman saat terlibat sebagai tim rekrutmen di sebuah perusahaan multinasional. Dalam proses seleksi akhir, terdapat 12 kandidat yang telah lolos wawancara, psikotes, dan tes kemampuan bahasa Inggris. Para kandidat diberi tantangan lapangan yang tidak biasa


“Kami berikan mereka empat produk perusahaan, sabun, odol, sabun cuci, dan sampo. Mereka kami turunkan di satu titik tanpa dompet, lalu kami minta dalam waktu 45 sampai 60 menit harus sudah kembali ke posko,” ceritanya.


Hasilnya, hanya enam orang yang berhasil kembali tepat waktu. Dari penelusuran, enam kandidat tersebut ternyata memiliki latar belakang aktif dalam organisasi kemahasiswaan semasa kuliah. Mereka mampu berinisiatif, berkomunikasi dengan masyarakat, dan mencari solusi dengan menjual produk yang diberikan.


“Yang enam ini cara berpikirnya kritis. Mereka mendatangi orang, berkomunikasi, lalu menjual produk. Yang tidak aktif organisasi cenderung kebingungan dan pasif,” ungkapnya.


Dari contoh tersebut, J. Subekti menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh pengurus organisasi, tidak hanya ketua, sekretaris, dan bendahara. Ia mendorong agar seluruh tim bergerak bersama dan memanfaatkan fasilitas kampus yang ada untuk pengembangan diri.


Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan identitas Untag Surabaya sebagai kampus merah putih dan nasionalis, independen dari kepentingan partai politik mana pun. Ia memperkenalkan konsep Catur Dharma, yang melengkapi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan nilai keempat, yakni patriotisme.


“Patriotisme mengajarkan kesiapan berkorban demi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Ini menjadi nilai penting yang kami tanamkan dan bahkan telah menjadi mata kuliah resmi di Untag Surabaya,” jelasnya.


YPTA Surabaya juga mengembangkan budaya organisasi PERTIWI, singkatan dari Patriotisme, Etika profesi, Ramah lingkungan, Toleransi dan transparansi, Integritas, Wawasan global, serta Inovasi. Nilai-nilai ini diharapkan melekat pada seluruh sivitas akademika, khususnya mahasiswa.


Menutup pidatonya, J. Subekti mengajak mahasiswa untuk percaya bahwa keaktifan dalam organisasi akan menjadi bekal kepemimpinan di masa depan. Ia bahkan membagikan riwayat pribadinya sebagai mantan aktivis mahasiswa pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an.


“Percayalah, kalau kalian aktif, kalian pasti menjadi pemimpin,” tutup Ketua YPTA Surabaya


Pidato ini menjadi pengingat bahwa organisasi kemahasiswaan bukan sekadar ruang aktivitas, melainkan laboratorium kepemimpinan yang membentuk generasi unggul, berintegritas, dan berdaya saing global. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\