Ida Nursanti, S.Pd., Guru SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya, menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya atas perjuangannya mencegah siswa putus sekolah. Penghargaan ini diberikan kepada para pendidik yang dinilai memiliki perhatian besar terhadap keberlanjutan pendidikan siswa, termasuk mereka yang berisiko berhenti sekolah.
Penghargaan tersebut diserahkan Dispendik Kota Surabaya pada momen peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun 2025. Dalam kesempatan itu, Ida menjadi salah satu pendidik terpilih yang menerima apresiasi atas dedikasinya menjaga siswa tetap bersekolah.
Langkah ini juga sejalan dengan Program Rawan Putus Sekolah yang dijalankan Dispendik dan telah diterapkan SMPTAG Surabaya, termasuk inisiasi bagi sekolah-sekolah SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, untuk aktif menjemput siswa yang bolos sebagai upaya menekan angka putus sekolah di Kota Pahlawan.
Ida mengaku bahwa niat utamanya bukan mencari penghargaan, melainkan karena kepeduliannya terhadap masa depan para siswa.
“Saya sebagai guru tidak ingin masa depan anak-anak itu hancur hanya karena mereka sedang mengalami masalah keluarga. Apapun masalahnya, saya selalu bilang mereka semua harus tetap sekolah, mereka harus punya cita-cita,” tutur Ida (10/12)
Dalam menjalankan tugasnya, Guru IPA SMPTAG tersebut tidak hanya mengandalkan laporan orang tua atau data absensi. Ketika mengetahui ada siswa tidak masuk tanpa keterangan, ia langsung melakukan kunjungan ke rumah. Dari berbagai pengalamannya, ia menemukan bahwa ketidakhadiran siswa sering kali bukan karena sakit, tetapi karena rasa malas atau situasi keluarga yang memengaruhi semangat belajar.
“Kadang saya temukan anak itu hanya tidur atau asik dirumah. Saya bilang, ‘Kalau tidak sakit, ayo masuk sekolah.’ Bahkan orang tua kadang malu mengabarkan. Makanya saya yang harus aktif,” jelasnya
Tak jarang, Ida menjemput langsung siswa menggunakan motornya. Dengan pendekatan personal dan komunikasi intens, ia berupaya mengembalikan motivasi belajar siswa agar tidak kehilangan arah. Jika masalah tak dapat diselesaikan sendiri, ia berkolaborasi dengan guru BK dan bagian kesiswaan. Namun, sebagian besar kendala dapat ia selesaikan melalui dialog dari hati ke hati dengan siswa maupun orang tua.
Ia sering mengajak siswa berdialog untuk menggali apa yang mereka rasakan, sementara orang tua dipanggil untuk menyamakan informasi. Bahkan, terkadang ia meminta siswa menuliskan keinginannya di kertas agar penyebab masalah lebih terlihat jelas.
“Kalau pernyataan orang tua dan anak sama, kami langsung cari solusi. Kalau tidak sama, tetap kami selesaikan. Yang penting anaknya tidak terus-menerus absen tanpa alasan,” terangnya
Menurut Ida, tantangan terbesar justru bukan soal ekonomi, melainkan rasa malas yang membuat siswa enggan kembali ke sekolah.
“Kalau dari orang tua masih bisa diajak bicara. Tapi kalau anaknya yang ogah-ogahan, itu yang paling susah,” imbuh guru berprestasi tersebut
Upaya itu pun membuahkan hasil. Salah satu siswa yang hampir putus sekolah kini sudah kembali bersekolah dan naik ke kelas 8, sebuah capaian yang membuat Ida merasa bangga dan bahagia. Ida berharap penghargaan yang diterimanya dapat menjadi motivasi, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi para siswa agar lebih menghargai pendidikan.
“Yang sulit itu kalau sudah malas. Tapi dengan pendekatan yang baik, anak bisa kembali semangat. Saya hanya ingin tidak ada lagi anak yang putus sekolah,” tegasnya.
Ida berpesan kepada para siswa agar tidak menyerah pada rasa malas dan tetap memahami pentingnya pendidikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak akan mengkhianati usaha, sehingga siswa harus tetap bersekolah, bersemangat menghadapi berbagai tantangan, baik yang berkaitan dengan keluarga, ekonomi, maupun persoalan lainnya, serta berani bermimpi setinggi mungkin. Baginya, sekalipun gagal, mereka tetap akan mencapai hasil yang tinggi.
“Buang jauh-jauh rasa malas, karena pendidikan itulah yang akan membawa kalian menuju masa depan yang lebih baik. Keberhasilan tidak akan mengkhianati usaha,” tutup Ida
Penghargaan yang diterima Ida Nursanti, S.Pd., menjadi bukti komitmen SMPTAG Surabaya dalam memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak. Melalui pendekatan guru yang humanis dan sistem pendampingan yang aktif, SMPTAG Surabaya menegaskan diri sebagai sekolah yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada penguatan karakter dan kesejahteraan siswa. (Boby)