Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., menilai bahwa tantangan bangsa Indonesia saat ini tidak lagi berupa penjajahan fisik seperti pada masa perjuangan kemerdekaan. Di era digital, tantangan tersebut bergeser pada upaya menjaga kedaulatan budaya, ekonomi, dan ruang digital tanpa meninggalkan nilai-nilai Pancasila.
Pandangan tersebut disampaikan dalam Seminar Fotografi Jurnalistik bertajuk “Wajah Pancasila di Era Nasionalisme Modern” yang diselenggarakan Warta 17 Agustus di Untag Surabaya pada Kamis (11/6/26).
Dalam pemaparannya, J. Subekti mengajak generasi muda untuk memaknai kembali Pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, semangat kebangsaan yang dahulu diperjuangkan oleh Bung Karno tetap relevan, meskipun bentuk tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia telah berubah.
Ia juga menyoroti kondisi Pancasila yang dinilainya semakin jarang hadir dalam berbagai kebijakan maupun pembahasan publik. Padahal, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum sekaligus fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Meski demikian, pembahasan mengenai Pancasila tidak seharusnya berhenti pada romantisme sejarah masa lalu. Generasi muda perlu membawa semangat yang diwariskan Bung Karno ke dalam konteks kehidupan saat ini yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI).
“Saya tidak ingin mengajak Anda semua kembali kepada romantisme zaman Bung Karno, tetapi bagaimana membawa semangat Bung Karno dalam kehidupan kita dengan kondisi teknologi yang saat ini berdiri,” ujarnya.
Menurutnya, nasionalisme modern memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu nasionalisme diarahkan untuk melawan kolonialisme dan merebut kedaulatan negara, kini nasionalisme perlu diwujudkan melalui upaya menjaga kedaulatan budaya, ekonomi, dan ruang digital.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia perlu berani menghadapi berbagai ancaman yang berkembang di ruang digital, mulai dari penyebaran informasi palsu, provokasi yang memecah belah persatuan, hingga infiltrasi budaya yang dapat mengikis identitas bangsa.
“Ruang digital boleh berkembang, tetapi jiwa Pancasila harus tetap berada di dalamnya,” tegasnya
Menutup pemaparannya, J. Subekti menegaskan bahwa Pancasila harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Dengan demikian, kemajuan digital dapat berjalan beriringan dengan penguatan karakter kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda. (Dini)