Kontrol Lebih Ketat: TikTok Uji Fitur Khusus Orangtua Awasi Anak

  • 07 Agustus 2025
  • 1169

TikTok tengah menguji sebuah fitur baru yang memungkinkan orangtua menerima pemberitahuan otomatis setiap kali anak remajanya mengunggah konten ke platform tersebut. Fitur ini merupakan bagian dari pembaruan sistem Family Pairing, yaitu alat kontrol orangtua yang dirancang untuk memantau aktivitas digital anak mereka.


Dilansir dari Kompas.com, dalam penjelasannya, Head of Operations TikTok, Adam Presser, menyampaikan bahwa fitur ini memungkinkan orangtua mengetahui jika anak mereka membagikan video, cerita, atau foto yang bisa dilihat oleh publik. 


“Kami menguji coba fitur yang akan memberi tahu orangtua kalau anak remajanya mengunggah video, cerita, atau foto yang bisa dilihat orang lain,” ujar Presser Rabu (30/7/2025).


Fitur ini hadir untuk menambah lapisan kontrol yang sebelumnya sudah ada, seperti pembatasan waktu layar (screen time). Kini, orangtua juga bisa mengakses informasi lebih detail seperti pengaturan privasi akun anak, kemampuan unduh konten oleh pengguna lain, visibilitas daftar pengikut, serta preferensi topik yang dipilih untuk mengatur isi feed.


Dengan sistem notifikasi tersebut, orangtua tak perlu lagi masuk langsung ke akun anaknya untuk mengetahui aktivitas unggahan mereka. Secara keseluruhan, pembaruan Family Pairing ini menawarkan lebih dari 50 pengaturan keamanan khusus bagi pengguna remaja.


TikTok mengembangkan pembaruan ini dengan melibatkan para ahli digital wellness, termasuk Dewan Remaja (Youth Council) global mereka, sebagai upaya memperkuat keamanan di tengah sorotan dunia terkait perlindungan data dan pengguna muda.


Sejak 2024, TikTok menjadi perhatian besar di Amerika Serikat karena isu keamanan data serta perlindungan terhadap pengguna di bawah umur. Menanggapi hal tersebut, TikTok terus memperketat sistem keamanannya. Setiap tahun, perusahaan ini mengalokasikan dana sebesar 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 30 triliun secara global demi menjaga kepercayaan dan keselamatan pengguna.


Sepanjang tahun lalu, TikTok telah menghapus lebih dari 500 juta video yang melanggar pedoman komunitas. Menariknya, sebagian besar konten bermasalah itu langsung dideteksi secara otomatis. Bahkan, lebih dari 85 persen pelanggaran teridentifikasi melalui sistem kecerdasan buatan (AI), dan 99 persen konten tersebut dihapus sebelum sempat dilaporkan oleh pengguna.


Sebagai bagian dari peningkatan sistem moderasi, TikTok mulai mengimplementasikan large language models (LLM) untuk memantau komentar serta mengurangi paparan terhadap konten negatif. Hasilnya, penyebaran konten mengganggu berhasil ditekan hingga 60 persen.


Terkait kekhawatiran terhadap maraknya konten palsu berbasis AI, TikTok menegaskan bahwa pihaknya akan menindak setiap pelanggaran pedoman komunitas, tanpa memandang apakah konten tersebut dibuat oleh manusia atau kecerdasan buatan. Para kreator juga diwajibkan memberi label pada konten yang dibuat dengan bantuan AI.


Dengan jumlah pengguna yang telah melampaui satu miliar orang secara global, TikTok dihadapkan pada tantangan besar untuk menciptakan lingkungan yang aman, khususnya bagi remaja. Oleh karena itu, pendekatan keamanan menjadi prinsip utama dalam pengembangan setiap fitur di platform ini.


TikTok membangun sistem keamanan global yang didukung oleh ribuan staf serta teknologi canggih, termasuk pengawasan berbasis AI. Seperti yang disampaikan Presser, “Ketika orang merasa aman, mereka bisa lebih terbuka, kreatif, dan menjadi diri sendiri.” (Boby)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\