Di balik gemerlap lampu GOR Gajah Mada, Kota Batu, kisah perjuangan luar biasa datang dari Muhammad Rusybihan Baqli, atau akrab disapa Rosi, mahasiswa baru Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Meski mengalami dislokasi tangan pada laga pertama, Rosi tetap melanjutkan pertandingan dan berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Pencak Silat Batu Championship 2 Tahun 2025, yang digelar pada 25–26 Oktober 2025.
“Tangan saya sempat dislok saat tanding pertama. Saya meluruskan tangan sendiri secara perlahan supaya posisinya kembali pas. Akhirnya saya lanjut tanding dengan kondisi tangan sakit,” kenang Rosi (14/11).
Dengan keteguhan dan mental baja, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya ini akhirnya keluar sebagai juara Kategori Tanding Kelas C (55–60 Kg) Dewasa Putra.
Rosi mengaku kemenangan ini sangat berkesan, terlebih karena diraih di tengah rasa sakit. “Alhamdulillah, saya sangat senang dan bahagia. Semua latihan keras saya akhirnya terbayar,” ujarnya dengan senyum penuh rasa syukur.
Ia menuturkan, keberhasilannya tidak lepas dari latihan rutin, fokus, serta ketenangan selama bertanding.
Selain faktor latihan, restu orang tua menjadi hal penting bagi Rosi. “Tanpa restu orang tua, mungkin saya tidak akan diizinkan bertanding,” katanya.
Dukungan dari pelatih dan lingkungan kampus juga memberi dorongan besar. Bagi Rosi, Untag Surabaya bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga wadah untuk mengasah potensi di bidang olahraga dan kompetisi nasional.
Meski mengalami cedera di awal pertandingan, semangat Rosi tidak surut. Ia justru menjadikan rasa sakit sebagai motivasi untuk menuntaskan laga sebaik mungkin. Hasilnya, kerja keras itu terbayar dengan medali emas.
Kini, setelah kemenangan perdananya sebagai mahasiswa baru, Rosi menargetkan untuk terus berkembang. “Saya harus terus berkembang. Jangan cepat puas, karena kalau merasa di puncak, kita akan stagnan,” tegasnya.
Kisah Rosi menjadi bukti bahwa prestasi besar lahir dari tekad dan keberanian menghadapi kesulitan. Dukungan keluarga, pelatih, dan kampus yang suportif menjadikan perjalanan Rosi inspirasi bagi mahasiswa lainnya.
“Tetap semangat latihan, jangan bolos, dan jangan langsung puas dengan hasilnya,” pesannya.
Bagi Untag Surabaya, keberhasilan ini menegaskan peran kampus sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa yang berprestasi, baik akademik maupun nonakademik. (Boby)