Di tengah kondisi ekonomi yang masih menjadi perhatian masyarakat, sebagian orang mulai menunda pembelian barang bernilai besar seperti kendaraan, gawai, atau perabot rumah tangga. Namun, pengeluaran kecil untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri tetap dilakukan melalui kopi favorit, produk perawatan kulit, parfum, hingga hiburan.
Kecenderungan tersebut dikenal dengan istilah lipstick effect, yaitu kecenderungan seseorang tetap membeli barang dengan harga relatif terjangkau untuk memperoleh kepuasan emosional ketika daya beli terhadap barang mewah menurun.
Melansir Kompas.com, istilah lipstick effect pertama kali diperkenalkan oleh Leonard Lauder, mantan CEO Estée Lauder. Ia menemukan bahwa saat perekonomian melemah, penjualan produk kosmetik justru mengalami peningkatan.
Menurutnya, ketika masyarakat mulai mengurangi pembelian barang mewah, mereka cenderung mencari alternatif yang lebih murah tetapi tetap mampu memberikan rasa senang dan meningkatkan kepercayaan diri.
Fenomena ini masih terlihat hingga saat ini. Kedai kopi, pusat perbelanjaan, gerai kosmetik, hingga toko parfum tetap ramai dikunjungi. Di media sosial, tren produk kecantikan, parfum lokal, maupun pengalaman menghadiri konser juga terus mendapat perhatian.
Meski lebih selektif dalam mengatur pengeluaran, sebagian orang tetap menyisihkan anggaran untuk menikmati hal sederhana yang dianggap mampu memperbaiki suasana hati.
Kompas.com juga mengangkat kisah dua individu yang menerapkan lipstick effect dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya memilih menunda pembelian barang bernilai tinggi, tetapi tetap mengalokasikan dana untuk menikmati kopi, membeli produk perawatan diri, atau menghadiri acara hiburan. Bagi mereka, pengeluaran tersebut bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk apresiasi terhadap usaha dan aktivitas yang dijalani.
Di sisi lain, lipstick effect tidak selalu menunjukkan perilaku konsumtif. Dalam batas wajar, self reward dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental karena membantu mengurangi stres dan menjaga motivasi.
Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu dikendalikan. Jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial, self reward dapat berubah menjadi pembelian impulsif yang justru menimbulkan masalah keuangan.
Agar tetap bijak, masyarakat dapat menyusun anggaran bulanan dengan memisahkan kebutuhan pokok, tabungan, dan pengeluaran hiburan. Menentukan batas nominal belanja serta menunda keputusan pembelian selama beberapa waktu juga dapat membantu memastikan barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar dorongan sesaat.
Lipstick effect menunjukkan bahwa perilaku belanja tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tetapi juga kebutuhan emosional. Memberikan apresiasi kepada diri sendiri merupakan hal yang wajar selama dilakukan secara sadar dan sesuai kemampuan.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung, keseimbangan antara memenuhi kebutuhan, menjaga kondisi finansial, dan menikmati hasil kerja keras menjadi langkah penting agar self reward tetap memberikan manfaat tanpa menjadi beban di masa depan. (Aura)