Menjaga Iman di Era Modern, Siswa SMATAG Surabaya Menang Olimpiade Islam

  • 05 Januari 2026
  • 2693

Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan yang dihadapi generasi Z, tiga siswa SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Islamic Student Olympiad V. Mereka adalah Ubhaillah Nabil Baydhowi yang meraih Medali Emas, Fuad Alan Fatoni peraih Medali Emas, serta Fardan Dzaki Mubarok yang membawa pulang Medali Perunggu.


Ajang ini dilaksanakan secara daring pada 13-14 Desember 2025 yang merupakan kompetisi tingkat nasional yang diikuti lebih dari seribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta diwajibkan mengenakan seragam dan mengerjakan soal melalui sistem berbasis web dengan batas waktu tertentu.


Salah satu peraih medali emas, Ubhaillah Nabil Baydhowi menceritakan bahwa ketertarikannya mengikuti lomba bernuansa keislaman berangkat dari keinginannya untuk terus mengembangkan ilmu agama yang telah ia dapatkan sejak mondok di pesantren. Menurutnya, ilmu agama perlu terus diasah agar tidak berhenti di satu fase pendidikan saja.


“Saya ingin meng-upgrade skill saya di bidang keislaman. Kalau di pesantren sudah berjuang, lalu di SMA tidak dilanjutkan, itu namanya ilmu yang sia-sia,” ujarnya (22/12)


Berangkat dari niat tersebut, Ubhaillah aktif berkomunikasi dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMATAG Surabaya, Muhammad Luqmanul Hakim, S.Pd. Ia meminta agar dirinya dan teman-temannya diberi kesempatan mengikuti berbagai lomba keagamaan ketika ada informasi kompetisi.


“Saya minta ke Pak Lukman kalau ada lomba bisa mengajak saya dan teman-teman, seperti Mas Fardan dan Alan,” tambah siswa kelas X tersebut


Menurut Ubhaillah, kompetisi ini menuntut konsentrasi tinggi, ketenangan berpikir, serta pemahaman materi yang mendalam. Ia juga menyoroti masih minimnya minat pelajar terhadap prestasi di bidang keagamaan di era saat ini. Padahal, menurutnya, penguatan iman menjadi hal yang sangat penting agar generasi muda tidak mudah terjerumus dalam pengaruh negatif.


“Kita hidup di masa modern, masa Gen Z, di mana sering terlena dengan lingkungan dan suasana baru. Maka dari itu, iman dan agama harus diperkuat agar tetap terjaga,” tuturnya.


Keberhasilan meraih medali emas tidak membuat Ubhaillah cepat berpuas diri. Ia menyadari bahwa perjalanan belajarnya masih panjang dan membutuhkan usaha yang lebih besar ke depan.


“Sebagai siswa kelas sepuluh, ini belum cukup. Kita tidak boleh senang dulu karena perjalanan masih panjang dan harus belajar lebih baik lagi,” katanya


Kuatnya pemahaman agama yang dimiliki Ubhaillah juga tidak lepas dari latar belakang keluarganya. Ia berasal dari keluarga dengan tradisi pesantren yang telah berlangsung secara turun-temurun, mulai dari buyut, kakek, hingga orang tuanya.


“Kalau soal agama itu turun-temurun. Dari buyut saya sudah pesantren sampai ke saya,” ungkapnya.


Ke depan, Ubhaillah berharap dapat terus mengikuti berbagai kompetisi, baik di bidang keislaman maupun bidang lain yang sesuai dengan kemampuannya.


“InsyaAllah, ikut lomba-lomba lain masih menjadi wish list saya,” tutupnya


Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa penguatan iman dapat berjalan seiring dengan semangat belajar dan pencapaian akademik. SMATAG Surabaya kembali menunjukkan perannya dalam mendukung siswa berprestasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berlandaskan nilai-nilai keislaman. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\